Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hari Yang Tidak Baik


__ADS_3

Cerry mengangguk mendengar pertanyaan Uno, jelas saja mau, diakan bucin sama Uno. Cerry sudah mulai tidak terkendali, dia sekarang megarahkan tangan Uno untuk membuat pengait bra yang di pakainya, dan dengan mudah pengait bra itu sudah bisa terlepas.


Terlukis senyum di sudut bibir Cerry. Gadis itu benar-benar menginginkan Uno menjadikan dia miliknya, karena dia tau Uno tidak pernah melakukan dengan gadis manapun yang pernah dia pacari.


Tok ... tok ... tok ...


"Auw ...!" Teriak Cerry kaget, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kaca mobilnya, dan dengan cepat Cerry berpindah tempat dengan menutup bagian dadanya dengan kondisi bra yang hampir terlepas.


"Brengsek! siapa sih yang sudah mengganggu kita?" umpatnya kesal.


Uno malah terkekeh pelan. Uno segera memakai kaosnya dan Cerry mengambil kemejanya yang tergeletak di bawah jok kursi. depan. Uno segera membuka pintu dan dia agak kaget melihat ada kakaknya di sana.


"Kak Zia?! ada apa?" tanya Uno heran melihat wajah kakaknya yang ditekuk kesal berdiri di sebelaha pintu mobil Cerry.


"Uno! antarkan kakak pulang sekarang! kakak tidak mau lama-lama berada di kampus!" serunya kesal.


"Pulang? bukannya kakak masih ada pertemuan dengan dosen pembimbing untuk skripsi kakak?" Kedua alis Uno mengekerut. "Makannya aku menunggu kakak di sini."


"Kakak sudah batalkan untuk bertemu, kakak mau pulang saja!" Muka Zia masih terlihat kesal.


"Kakak ini kenapa, Sih? Kenapa kesal begitu? Ada yang mmbuat kakak kesal? Siapa?" tanya Uno penasaran.


"Si Seno, dia seenaknya membatalkan janji nanti malam mau keluar denganku, dia benar-benar membuatku kesal!"


Kedua mata Uno membelalak, Uno seolah tidak percaya, baru kali ini kakaknya punya janji makan malam dengam cowok, tapi kenapa sama Seno? Pria jangkung dengan muka selengekan, dia polosnya minta ampun, tapi dia pintar sih. "Kakak ada hubungan sama si Seno itu? Kakak suka sama dia?"


"Sudah jangan dibahas! ayo kita pulang Uno." Zia merengek dan menggandengan lengan tangan adiknya itu.

__ADS_1


"Kak Zia? ada apa kakak di sini? bukannya kakak masih ada pertemuan dengan dosen?" tanya Cerry yang baru keluar dari dalam mobil. Diakan masih harus merapikan dirinya yang tadi sudah hampir telanjang.


"Maaf, Cer, aku harus mengantar kakakku pulang dulu, dia sedang ada masalah."


"Tapi Uno ---."


"Nanti aku hubungi kamu." Tangan Uno sudah di tarik oleh kakaknya dan mereka pergi dari sana


Muka Cerry tampak sangat kesal sekali melihat kak Zia yang seenaknya mengajak kekasihnya pulang. "Brengsek, Zia! dia menggagalkan rencanaku seenaknya, padahal aku dan Uno hampir saja, setelah Uno dan aku melakukan hal itu, aku yakin Uno akan selamanya menjadi mililku." Tangan Cerry mengepal erat.


Di dalam mobil, Raut wajah Zia yang masih kesal melihat ke arah Uno yang dengan santai mengendarai mobilnya. "Apa kamu tadi di dalam mobil melakukan sesuatu dengan Cerry?" tanya Zia menelisik.


"Hampir, kalau kakak tadi tidak tiba-tiba datang ke sana dan membuat hal yang diinginkan Cerry gagal."


"Kamu jangan main-main dengan gadis itu, Uno. Jika dia mendapatkan kamu, dia akan membelenggu kamu, lagian dia bukan gadis yang baik, dia sudah selingkuh di belakang kamu, kakak pernah melihatnya."


"Dia ingin membuktikan jika dia mencintaiku, dan dia tidak pernah berselingkuh.Lagipula kalau dia memang gadis pertama yang sudah menyerahkan diri padaku, aku akan menikahinya."


"Seiring berjalannya waktu, saat aku sering bsrsamanya, aku pasti bisa mencintainya suatu hari nanti." Jadi, si Uno ini sama gadis-gadisnya gak ada yang benar-benar dicintainya, malahan mereka yang mencintai Uno. Dia hanya bersenang-senang dan mau berpacaran jika gadis itu menyatakan cinta dulu pada Uno. Termasuk Cerry.


Mereka sampai di depan rumah, dan dengan cepat Zia keluar dari dalam mobil berlari dengan kesal masuk ke dalam mansion, Arana yang menyapa tidak diindahkan oleh Zia. "Uno, kakak kamu kenapa?" tanya Arana pada Uno yang berjalan, kemudian memeluk ibunya.


"Dia sedang kesal dengan seseorang."


Kedua alis Arana tampak berkerut. "Seseorang? siapa? Apa Zia punya masalah dengan seseorang?"


"Dia sedang jatuh cinta, Bu. Pria itu berjanji akan mengajaknya makan malam nanti, tapi tadi tiba-tiba di batalkan, kak Zia jadi marah, bahkan dia sampai membatalkan pertemuannya dengan dosen pembimbingnya, aku juga kaget, biasanya kak Zia kan paling anti buat menundah hal yang berhubungan dengan pendidikannya. Namun, cinta bisa merubah seseorang."

__ADS_1


"Zia mempunyai janji sama cowok?" Arana seolah tidak percaya. "Setahu ibu, kakak kamu itu tidak pernah dekat ataupun pacaran, dia lebih menutup diri akan hal itu, apa ibu yang kurang perhatian sama kakak kamu, Ya?"


"Ibu tidak kurang perhatian, kak Zia saja yang memang tidak suka urusannya di campuri, dia kan anaknya tertutup, Bu. Ini saja aku kaget saat dia cerita jika dia ada janji makan malam dengan Seno."


"Jadi namanya Seno, apa kamu tau orangnya, Uno? Bagaimana dia? Apa dia baik?"


"Si Seno itu malah melebihi orang baik, dia kepolosan orangnya, tapi aku akuin dia termasuk mahasiswa yang pandai, dia saja masuk ke kampus itu karena mendapat beasiswa, dan dia teman kak Zia dari SMA."


"Kalau dia dan Seno memang saling mencintai, ibu tidak akan melarang, apalagi dia orang baik." Arana melihat ke arah Uno.


Makan malam kali ini, Zia tidak ikut bersama dengan mereka, Juna sempat menanyakannya pada Arana, dan Arana bilang jika putri sulung mereka itu sedang ada masalah terkait cowok, Arana menceritakan masalahnya pada Juna.


"Ya sudah biarkan saja dulu, nanti jika hatinya sudah agak tenang, dia akan kembali seperti biasanya," ucap Juna tegas.


Mereka melanjutkan makan malam, di meja makan, Uno mendapat telepon dari Cerry, tapi Uno tidak menjawabnya karena dia sedang makan malam dengan keluarganya.


***


Pagi hari di sekolah, Binna sedang duduk di kantin sekolahnya, kebetulan hari ini dia tidak ada pelajaran karena memang dia sudah melaksanakan ujian, tinggal menunggu hasil rapot dan kelulusan saja.


"Binna, tumben pagi-pagi sudah datang." Lila yang tiba-tiba duduk di samping Sabinna. Dia melihat muka Sabinna yang terlihat malas.


"Iya, tadi kak Devon menjemput aku pagi-pagi sekali, katanya dia mau mengantar aku ke sekolah dulu, lalu dia pergi ke suatu tempat karena ada urusan penting," ucap Binna malas.


"Apa?! Kamu tadi diantar kak Devon? Wah! Kalian sudah akur, Ya? Bagus itu, lagian kalian kan juga mau menikah, sudah tugas seorang suami mengantar jemput istrinya," cerocos Lila.


"Jangan bicara sembarangan! Siapa yang mau menikah? aku masih mengharapkan Lukas segera datang, tapi dia kenapa? Bahkan sampai ulangan selesai dia tidak masuk sekolah, ada apa sama dia?" Muka Binna terlihat sedih.

__ADS_1


Si bangsul yang gantengnya gak ketulungan. Wkakakak



__ADS_2