Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bagai Kucing dan Tikus part 2


__ADS_3

Binna masih dengan muka, menantangnya pada Devon. "Jangan mengira aku takut sama kamu, Ya! Kalau kamu berani macam-macam aku bilangi sama ibuku, biar ibuku tau bagaimana sifat calon menantu idamannya ini!" Sekarang mata Sabinna malah melotot ke arah Devon.


Blup ...


Tiba-tiba Devon tanpa ba-bi-bu-be-bo wkakak pelajaran anak TK. Mengangkat tubuh Sabinna ala karung beras. "Hei ... lepaskan! kenapa menggendongku seperti ini." Binna berontak dan memukul-pukul punggung Devon, Devon yang tubuhnya atlethis tentu saja tidak merasakan apa-apa, beberapa murid di sana yang melihat malah tersenyum. Sekolah sudah Binna sebenanrnya sudah selsai dari tadi, hanya ada beberapa murid saja.


Lila yang membawa tas Sabinna ikut berlari kecil mengejar Devon yang ternyata membawa Sabinna ke tempat parkir motornya.


Sampai di sana, Sabinna di dudukkan di atas motornya, Sabinna yang kesal turun dari motor Devon. "Kamu kenapa kasar sekali?!" bentak Binna marah.


"Aku tidak kasar, hanya membuat kamu menurut. Pakai jaket ini, tutupi baju kamu." Devon malah melempar jaket ke arah Sabinna.


"Tidak mau!" Sabinna melempar lagi ke arah Devon. Huft! lama-lama author comot itu jaket.


"Selamat siang, ada apa ini? kenapa tadi bapak lihat, kamu sampai menggendong Nak Sabinna?" tanya penjaga sekolah yang ada di sana, dan kebetulan dia kenal Sabinna, Binna kan memang humble, penjaga sekolah saja dia kenal baik.

__ADS_1


"Bapak, kan, sudah tau siapa, saya?"


"Iya, tadi kamu sudah sangat sopan memperkenalkan diri dan bilang mau menjemput calon istri kamu, Nak Sabinna ini. Tapi kenapa Nak Sabinna marah-marah begitu?"


"Dia tidak mau pulang, Pak. Kakinya habis sakit dan dia mau latihan menari padahal tidak ada latihan menari. Ups!" Tangan Lila langsung menutup mulutnya.


Binna yang melihatnya menyipitkan kedua matanya menatap Lila. "Maaf, aku keceplosan," ucapnya lirih.


"Jadi kamu membohongiku, Binna?" Tanya Devon melihat tidak percaya pada Sabinna.


"Kalau aku mau latihan sendiri kenapa? aku kemarin tidak latihan gara-gara kakiku."


"Ya sudah kalau begitu. Nak Binna nurut saja, nanti daripada kakinya tambah sakit, malah tidak bisa mengikuti kompetisi. Kalau begitu bapak pergi dulu, mau melanjutkan tugas bapak lagi." Pria paruh baya itu pergi dari sana.


"Kamu kenapa seperti bersekongkol dengan pria kutub utara ini, sih Lil?"

__ADS_1


"Siapa yang bersekongkol? aku itu tidak mau kamu malah mendapat masalah di sini, kita mau lulusan, Binna."


"Pakai ini, Binna." Sekali lagi Devon memberikan jaketnya agar di pakai Binna, Devon tau Binna tidak pernah naik motor, Devon tidak mau Binna masuk angin.


"Tidak mau! aku tidak mau pulang sama kamu!" Rengek Sabinna pada Devon.


Cup ...


Ciuman antara Devon dan Sabinna pun akhirnya terjadi. Devon memegang erat belakang kepala Sabinna. Sabinna mendelikkan matanya takkalah bibirnya di ***** lembut oleh Devon.


"Oh My God!" Lila mendelik melihat hal itu.


"Apa kamu sudah bisa lebih tenang sekarang?" tanya Devon setelah melepaskan ciumannya.


Benar saja, Binna sekarang malah terdiam kayak manekin cantik, hanya kedua matanya berkedip beberapa kali, dan napasnya terlihat naik turun.

__ADS_1


"Binna, inikan ciuman pertama kamu?" Celetuk sekali lagi Lila tanpa sadar. "Ups! maaf." Lila lagi-lagi menutup mulutnya cepat dengan kedua tangannya.


Maaf, ya telat up sisanya, lagi rempong. Jangan lupa di like dan favorite ya, Kakak semua. Semoga sehat selalu.


__ADS_2