
Mara menolak untuk bergabung bersama dengan Nina dan Tommy. Dia beralasan tidak mau mengganggung mereka merayakan ulang tahunnya.
"Mara, dia sedang ulang tahun, alangkah bahagianya jika kita ikut merayakan. Kami mau bergabung, Nina." Asta malah beranjak dari tempatnya dan menggandeng tangan Mara, mengajaknya ke meja Tommy.
"As, kamu ini apa-apan, sih?" Mara tampak bingung, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia ikut saja apa yang temannya itu inginkan.
"Halo, Diandra sayang." Mara langsun memeluk keponakannya itu.
"Tante Mara, aku senang Tante juga ada di sini. Tante sama siapa di sini?"
"Tante sama teman tante-- Asta."
"Halo semua," sapa Asta.
Tommy hanya diam saja, Nina menyuruh mereka semua duduk. "Nina, aku belum mengucapkan selamat ulang tahun sama kamu, terima kasih sudah mengundangku di sini."
"Sama-sama, Mara. Aku senang karena aku bisa merayakan beramai-ramai seperti ini. Mari bersulang." Nina mengangkat gelas minumannya.
Mereka semua bersulang. "Oh ya Nina. Semoga kamu mendapat banyak kebahagiaan di hari istimewah kamu, maaf, kita tidak membawakan kado buat kamu, coba kita tau dari awal, pasti kita akan membelikan kado buat kamu," terang Asta.
"Tidak perlu repot-repot. Lagian aku sudah dapat kado yang istimewah hari ini dari Tommy." Nina memegang tangan Tommy yang ada di sampingnya. Mara yang melihatnya tampak menahan sesuatu di hatinya.
"Oh ya! Kado apa itu kalau aku boleh tau?"
"Pertama, dia membawa putrinya yang cantik ini, dan kedua dia memberiku kalung ini." Nina menunjukkan lehernya yang terdapat kalung pemberian Tommy.
Mara kemudian melihat ke arah Tommy yang santai duduk sambil menikmati minumannya.
"Hadiah itu memang pantas buat kamu Nina. Kamu wanita yang baik," ucap Tommy.
Asta kemudian melihat ke arah Mara yang hanya duduk diam. "Bagus sekali kalung itu, Nina."
"Tante, sebentar lagi juga adalah hari ulang tahun Tante Mara. Tante mau kado apa? Aku nanti ingin memberikan Tante sebuah kado?" tanya Diandra.
"Sayang, tante tidak mau apa-apa, mungkin Tante juga tidak bisa merayakannya di sini karena tante dan om Asta akan pergi ke Paris dalam beberapa hari karena ada pekerjaan di sana. Iya, kan, As?" Tangan Mara memegang lengan tangan Asta.
"Iya, tapi kalau kamu mau merayakan di sini, aku bisa mengurus pekerjaan kamu di sana."
__ADS_1
"Kamu tidak kenal aku, ya Asta? Aku tidak pernah menyerahkan urusanku sepenuh sama orang lain, jika tidak aku tangani sendiri aku tidak akan merasa lega."
"Iya, kamu memang seorang yang profesional Maka dari itu aku menyukai kamu."
"Maaf, Om, Asta. Apa Om sama Tante Mara punya hubungan spesial? Seperti pacaran?" tanya Diandra ragu-ragu.
Mara dan Asta saling melihat. "Kita memang punya hubungan yang sangat dekat, karena aku sudah lama mengenal Mara."
"Apa Om Asta mencintai Tante Mara?" celetuk Diandra lagi.
Asta agak terkejut mendengar pertanyaan Diandra. Asta kembali melihat bingung pada Mara. "Sayang, kita tidak perlu membahas semua ini di sini, ini masalah pribadi Tante. Kimu bisa mengerti, kan?" Mara memegang tangan Diandra.
"Iya, Tante aku minta maaf."
"Tidak apa-apa, Sayang."
"Ya sudah, mari kita lanjutkan makananya. Pelayan mengeluarkan lagi beberapa hidangan makanan untuk mereka. Mereka menikmati makan malam kali ini.
"Tom, cobalah ini, kamu dulu sangat menyukai pasta ini." Nina malah menyuapkan makanan ke dalam mulut Tommy, dan Tommy menerimanya dengan senang.
Di depan cermin wastafel Mara menangis mengingat betapa mesranya Nina dengan Tommy, andai saja dia yang berada di posisi Nina pasti dia akan bahagia.
Mara cepat-cepat menghapus air matanya saat mendengar ada yang masuk ke dalam kamar mandi. Dia merapikan dirinya di sana.
Tidak lama Mara keluar, saat berjalan dia sangat kaget melihat Tommy sudah bersandar pada dinding kamar mandi dengan bersidekap.
"Tommy?" Kenapa kamu ada di sini?" tanya Mara heran.
"Kenapa tadi kamu tidak menjawab pertanyaan Diandra tentang hubungan kamu dan Asta?"
"Aku tidak perlu menjawabnya, lagian itu urusan pribadiku, Tom. Orang lain tidak perlu tau." Mara berjalan melewati Tommy, tapi dengan cepat Tommy menarik tangan Mara dan mencium paksa Mara. Beberapa detik ciuman itu berlangsung.
"Tom, kamu apa-apaan?" Mara mengambil napas saat dia bisa melepaskan ciumannya pada Tommy.
"Itu hanya aku ingin meyakinkan kamu saja, apa kamu masih mencintaiku atau tidak seperti ucapan kamu."
"Aku tidak mencintaimu, Tom, dan kamu harus tau. Lagian kamu sudah memiliki kekasih yang sangat baik seperti Nina. Kalian sangat cocok." Mara berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
"Kenapa kalian dua bersaudara memiliki sifat yang sama, sama-sama keras kepala," Tommy berdialog sendiri.
Mereka akhirnya kembali ke meja makan dan seolah tidak terjadi apa-apa. "Asta mana?" tanya Mara.
"Dia tadi izin ke kamar mandi juga. Itu dia barusan datang."
"Maaf, ya, tadi masih antri di kamar mandi."
"Kamu tidak bertemu dengan Tommy, Asta?" tanya Nina.
"Aku bertemu, dan aku melihat Tommy." Asta melihat ke arah Tommy yang dengan muka santainya menikmati makanannya. Beda dengan Mara, dia berpikiran mungkin saja Asta melihat adegan saat Tommy mencium Mara.
Di apartemen Binna, ternyata mama Tia pulang setelah Devon datang, mama Tia sangat khawatir meninggalkan Binna sendiri di rumah dalam keadaan tidak enak badan.
"Kalian jadi kapan bulan madunya? Mama ingin segera menimang cucu loh."
"Secepatnya, Ma. Lagian kakak Sabinna barusan sembuh dan Binna jug kurang enak badan."
"Binna sakit karena bosan di sini. Kamu ajak istri kamu bersenang-senang biar hatinya bahagia."
"Iya, Mama. Ini Binna juga ingin kuliah biar dia tidak jenuh di rumah."
"Benarkah? Kamu mau kuliah di mana?"
"Aku mau kuliah di kampus kak Uno, Ma. Nanti berangkat dan pulang kuliah biar bisa dijemput oleh Kak Devon."
"Ya sudah, mama setuju saja kamu kuliah, karena pendidikan juga sangat penting. Mama yakin kamu akan bisa menjadi mahasiswi yang pandai di sana. Kalau begitu mama dan tante pulang dulu, kamu jaga istri kamu baik-baik."
"Iya, Ma." Mereka berdua keluar dan tinggal pasangan suami istri itu.
"Huft! Mama akhirnya pulang, aku gerah sekali memakai baju ini." Binna mau membuka bajunya, tapi tidak jadi karena ada sepasang mata memperhatikannya dari tadi.
"Kenapa tidak jadi dibuka?"
"Tidak jadi, aku gantinya di dalam kamar saja. Kakak tolong bereskan semua ini." Binna naik ke lantai atas.
"Kenapa jadi aku yang membereskan?"
__ADS_1