
Setelah mereka saling berkenalan, Arana baru sadar jika putranya Tia tidak ada di sana.
"Tia, Devon mana?"
"Devon sebentar lagi juga akan datang, dia masih di rumah temannya yang dulu satu sekolah dengan dia di luar negeri, dan kemudian dia pindah di sini. Saat tau aku akan mengajaknya lagi kembali ke Indonesia, Devon sangat senang sekali."
Arana mengajak mereka duduk bersama, Uno duduk di dekat adiknya-- Sabinna, Sabinna yang dari tadi mukanya cemas, di dalam hatinya dia terus berdoa supaya cowok yang akan di jodohkan dengan dia tidak jadi datang, siapa tau dia tersesat saat mencari rumahnya. Wakakkaka! dasar Binna.
"Kamu tidak sabar menunggu pangeran berkuda putih kamu datang ya, Binna?" Uno berkata dengan lirih.
"Aku sudah punya pangeran sendiri, dan lusa dia akan menemui ibu. Lukas akan aku perkenalkan dengan Ibu," ucap Sabinna sombong
"Kita lihat saja, aku yakin kalau pilihan ibu adalah hal yang terbaik untuk anak-anaknya."
"Kalau pilihan ibu yang terbaik, aku doakan supaya kakak suatu saat akan di jodohkan dengan seseorang."
"Mau menderita cewek itu menikah denganku, aku akan membawakan ibu calon mantu yang terbaik, Sabinna, dan dia pilihanku yang bisa membuat hatiku bertekuk lutut di hadapannya."
"Memang ada cewek yang benar-benar membuat kakak jatuh cinta? setahu aku tidak ada, jadi aku ganti doakan kakak tidak akan pernah menikah saja," celetuk Sabinna asal banget.
"Dasar! adik nakal, kenapa jahat begitu sama kakaknya sendiri, aku doain calon suami kamu ini orangnya jelek, gendut, dan kalau tidur suka mengorok," Mereka ini masih berdebat dengan lirih.
Muka Binna sudah di tekuk saja mendengar apa kata Uno, dia lama-lama kesal dengan sifat usil kakaknya itu. "Uno, kamu sendiri belum punya pacar?" suara tanya Tia seketika membuat dua kakak beradik itu menoleh ke arah Tia.
"Aku baru saja putus dengan kekasihku, Tante. Aku juga masih tidak terpikir untuk mempunyai hubungan yang serius dengan seseorang."
"Kamu masih suka bersenang-senang, Ya? boleh sih, Nak. Tapi tetap jangan lupa batasan, takutnya nanti kamu malah terjebak pada hubungan yang salah dengan seseorang," ucap Tia memelan
Dia teringat masa lalunya dulu saat dia salah dalam mencintai seseorang yang mengakibatkan hidupnya berantakan.
"Aku sudah paham dengan semua batasannya Tante, ibuku selalu mengingatkan akan hal itu." Uno tersenyum.
__ADS_1
"Kalau tante boleh tau, bagaimana tipe gadis yang benar-benar kamu inginkan, Uno?"
Uno tersenyum kembali. "Dia harus mempunyai mata yang indah, karena itu akan bisa membuatku jatuh cinta, terlihat keras, tapi hatinya ternyata lembut. Ya hampir mirip dengan kakak cantikku ini." Uno tiba-tiba memeluk Zia yang ada di sampingnya, tentu saja Zia yang dari tadi mendengarkan Uno langsung menyambutnya dengan membalas pelukan.
"Aku menyayangi kamu, Uno," ucap Zia.
Arana dan Juna yang duduk saling berdekatan melihat satu sama lain, sepertinya, apa yang mereka berdua pikirkan adalah hal yang sama. Zia dan Uno memang juga sangat dekat dari kecil, Zia lebih terlihat sangat menyayangi Uno daripada Binna, tapi apakah mereka berdua saling jatuh cinta?
Sebenarnyakan tidak masalah jika mereka jatuh cinta, tapi Arana seolah tidak setuju, apalagi Zia sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri, akan aneh jika adik dan kakak ini jatuh cinta.
"Kamu sangat mengagumi kakak kamu, ya Uno?"
"Iya, Tante. Dia kakak terbaik di dunia ini. Dia banyak sekali membantuku, dan seolah tau jika aku sedang dalam kesulitan."
"Kakak tidak menyayangi aku?" celetuk Binna dengan muka cemberut.
"Tentu saja kakak juga menyayangi kamu, kalau tidak mana munngkin kakak mendukung kamu untuk di jodohkan." Uno gantian memeluk Sabinna.
"Selamat malam semua," tiba-tiba suara seseorang yang baru datang menggema di ruangan itu. Dan sekaranf pandangan mata semua orang tertuju pada cowok yang berdiri dengan setelah kemeja dan suit berwarna hitam, dan tanpa menggunakan dasi, kemejanya memiliki 3 buah kancing yang dibiarkan terbuka. cowok itu berdiri dengan tegapnya dan senyuman kecilnya.
"Devon, kamu sudah datang, Nak," suara Tia tampak senang. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri serta memeluk putranya.
"Halo, Ma. Maaf aku baru saja datang."
"Tidak apa-apa, apa kamu tadi tersesat?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tersesat, aku tau arah jalan ke sini dengan mudah."
Jantung Binna seketika berdetak cepat, cowok itu sudah datang, dan Binna mulai memperhatikan cowok itu, Binna kenapa merasa sepertinya pernah bertemu cowok itu sebelumnya, tapi di mana, Ya?
"Selamar datang, Devon." Arana juga berdiri menghampiri Devon dan memeluknya. "Kamu sudah sangat dewasa, bahkan kamu sangat tampan, Nak," puji Arana.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante Arana."
Akhirnya mereka semua berkenalan dengan Devon, saat giliran Sabinna, dia hanya terdiam memperhatikan pria dengan muka tegas dan kaku di hadapannya itu.
"Binna, kamu kenalan sama Devon dulu, kenapa malah kamu lihatin dia?" celetuk ibunya.
"Aku Devon." Devon mengulurkan tangannya pada Sabinna, dan Sabinna perlahan-lahan menerima jabatan tangan Devon.
"A-aku Sabinna," ucapnya pelan.
"Sayang, kita makan malam sekarang saja, para maid sudah menyiapkan makanan untuk kita," kata Harajuna pada Arana, Arana kemudian mengajak mereka semua menuju meja makan.
Binna yang masih berdiri di sana, masih mengingat sesuatu. "Kenapa aku seperti pernah melihatnya.
"Kamu kenapa? terpukau ya sama calon suami kamu? dia boleh juga, aku suka dengan dia," ucap Uno yang lewat di depan dia.
"Kalau suka, kakak saja yang menikah sama dia," ujar Binna sebal sambil mengerucutkan bibirnya.
Binna sebal sekali hari ini, dia kemudian berjalan dengan malas menuju meja makan, dia ikut makan bersama dengan keluarganya. Tia banyak menceritakan tentang putranya yang kuliah di sana sambil bekerja, Devon sudah memiliki perusahan kecil sendiri yang bergerak di bidang properti, walaupun tinggal di luar negeri, Devon sangat mengerti bahasa Indonesia, karena Tia tidak lupa mengajarkan dia bahasa Indonesia.
Setelah makan malam itu berakhri, Arana menyuruh Sabinna untuk mengajak Devon berkeliling untuk melihat mansion kakek yang memang indah, Binna kalau bisa menolak dia akan menolak, tapi dia tidak mau terlihat jika dia tidak suka dengan acara pertemuan ini. Sabinna akhirnya mengajak Devon berkeliling berdua. Sabinna juga akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatakan jika dia tidak menyetujui perjodohan yang di lakukan ibunya dan mama Devon.
"Kak Devon," ucap binna lirih. "Apa aku boleh memanggil kamu kak Devon? usia kamu pastinya seumuran kakak aku-- Uno."
"Terserah kamu," ucapnya singkat.
"Em ... sebenarnya???" Sabinna ini bingung mau memulai dari mana.
"Binna, ini uang kamu." Tiba-tiba tangan Devon mengulur dengan uang yang di sodorkan pada Sabinna. Mata Sabinna mendelik kaget.
Hem ...
__ADS_1
ini Binna bakalan mengatakan kalau dia menolak perjodohan ini apa tidak, Ya?