
Jantung Sabinna berdetak dengan sangat cepatnya, dia bingung, gerogi, apakah ini adalah ciuman pertamanya? dan dia senang karena dia akan merasakan ciuman pertama dengan seorang cowok yang sangat dia sukai.
Lukas semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Sabinna, dan sekarang jaraknya hanya beberapa sentimeter.
"Binna!"
Seketika kedua orang itu menoleh ke arah suara yang tiba-tiba terdengar di sana, dengan posisi tangan Lukas masih memegang dagu Sabinna.
"Oops! maaf. Apa aku mengganggu kalian?" gadis yang juga teman menari Sabinna itu mukanya berubah tidak enak, dia sudah datang di waktu yang tidak tepat sepertinya.
"Miranda, ada apa?" tanya Binna yang sebenarnya malu.
"Kak pelatih menyuruh kamu segera kembali untuk latihan, aku minta maaf, ya. Aku tidak bermaksud mengganggu keromantisan kalian." Miranda ini juga salah satu teman sekolah Sabinna yang juga ikut latihan menari dengan Sabinna.
"Tidak apa-apa, Miranda." Lukas beranjak dari tempatnya dan memegang tangan Sabinna, mengajaknya berdiri juga. "Kalau begitu kamu latihan dulu, besok kita bisa lanjutkan pembicaraan kita di sekolah, aku akan menunggu kamu di taman sekolah." Lukas mendaratkan kecupannya pada dahi Sabinna.
Sabinna rasanya ingin meloncat kegirangan, kenapa Lukas ini sangat-sangat baik sekali, dia sama sekali tidak ada rasa kesal di wajahnya. "Kalau begitu kamu hati-hati ya nanti kalau pulang, dan aku akan pulang dengan supirku seperti biasanya.
Lukas mengangguk perlahan dan pergi dari sana, Sabinna tampak sangat bahagia melihat cowok yang sangat dia sukai itu berjalan pergi dari sana. "Binna, ayo kita di tunggu," ucapan Miranda membuat Binna tersadar dan mereka pergi menuju tempat latihan lagi.
Sore hari di rumah, Arana tengah sibuk mempersiapkan makan malam yang sangat istimewah, karena hari ini keluarga Tia--sahabatnya akan datang dengan anak dan juga suaminya, Arana sangat merindukan Tia datang ke sana, bahkan Arana menyuruh Tia untuk menginap beberapa hari di mansion kakeknya, Tia menerimanya, karena kedua orang tua Tia pun sudah pindah lama dari tempat tinggalnya yang dulu, dan memilih tinggal di tempat yang agak jauh dari keramaian, orang tua Tia tinggal di villa mewah mereka, jadi Tia mau menginap di rumah Arana.
"Sayang, kamu bersemangat sekali." Juna memeluk Arana dari belakang.
"Kamu sudah datang? cepat bersiap-siap, sebentar lagi Tia akan datang, dia masih di rumah mamanya." Arana yang masih di dalam pelukan Harajuna dengan tangan yang masih menata alat makan di meja.
"Mau mandi bersama?" bisik Juna lirih, seketika Arana menghentikan gerakannya menata alat makan.
__ADS_1
Arana menolehkan badannya menghadap Juna. "Tuan vampire, kamu lupa ya kalau anak kita sudah 3, bahkan sudah dewasa semua, apa kamu tidak malu mengatakan hal itu?" Arana mengusap rahang yang masih tegas yang dimiliki oleh suaminya itu.
"Kenapa malu? apa kamu meragukan kemampuanku? aku masih bisa membuat kamu hamil lagi, bahkan beberapa kali," ucapnya asal.
"Enak saja, siapa yang mau hamil lagi?" Arana memutar bola matanya jengah.
Blup ...
Tiba-tiba Juna malah menggendong Arana, ala bridal style. "Tuan vampire kamu mau apa?!" Arana benar-benar kaget tidak menyangka jika suaminya akan melakukan hal yang bertahun-tahun yang lalu sering dia lakukan.
"Membuat adik buat Sabinna dan Juna," ucapnya sambil terus berjalan membawa Arana naik ke lantai atas kamar mereka.
"Tuan vampire, aku belum menyiapkan makan malamnya, kenapa malah membawaku ke atas?" Arana tampak kesal.
"Ada pelayan lainnya, sudah kamu diam saja." Juna ternyata membawa Arana masuk ke dalam kamar mandi dan mengajaknya berendam di dalam bathub. "Kamu beberpa hari ini tampak sibuk menyiapkan kamar untuk kedatangan Tia dan keluarganya."
Satu jam kemudian, Arana dan Juna turun ke lantai bawah dengan wajah yang bahagia, mereka sudah tampil rapi, di bawah, Uno, Zia juga sudah siap. "Selamat malam, Bu, Ayah." Uno dan Zia gantian mengecup pipi ibunya.
"Ibu tampak beda sekali, memangnya apa yang sudah dilakukan oleh ayah?" Uno kumat usilnya dia melirik pada ayahnya.
"Ayah akan melakukan apapun agar bisa membuat ibu kamu selalu bahagia, kamu besok kalau menikah, jadilah pria yang bertanggung jawab, setiap dan tanamkan untuk selalu berusaha membahagikan sahabat seumur hidupmu, yaitu, pasangan kamu."
"Setia yang masih sulit mungkin bagiku, Yah." Uno menyeringai dan mukanya mirip sekali dengan Juna saat menyeringai.
"Adik kamu Binna mana, Zia?"
"Dia masih di kamarnya, Ma. Tadi aku memanggilnya dan dia bilang, ,dia nanti akan menyusul ke bawah."
__ADS_1
"Mungkin dia masih mempersiapkan diri supaya tampil baik di depan calon mertuanya dan calon suaminya." Uno terkekeh.
Padahal di dalam kamar, Binna dari tadi sedang mondar mandir kebingungan, dia rasanya ingin kabur saja dari rumahnya dan berlari ingin menemui Lukas. Namun, Binna bukan gadis yang tega mempermalukan keluarganya sendiri.
"Aku pakai baju apa, Ya? kalau rok nanti dikira terbuka, kalau celana? apa sopan? ah, sudah aku pakai celana saja, aku juga tidak mau tampil cantik dan baik di depan cowok itu. biar dia ilfeel dan akhirnya menolak perjodohan ini."
Sabinna tidak lama turun dan menemui keluarganya di ruang keluarga. "Malam semu, maaf aku lama," ucap Binna.
"Wow! kamu cantik sekali, Binna," puji Uno, yang aslinya menggoda Sabinna. Sabinna hanya melirik sekilas. Dia tau jika kakak jahilnya itu kumat usilnya. "Calon mertua dan suami kamu pasti sangat kagum melihat kamu, Binna." Senggol Uno. Sabinna malah menekuk mukanya kesal, Uno malah ketawa cekikian.
"Jangan ganggu adik kamu terus Uno," sergah Arana.
Tidak lama terdengar suara pelayan memberitahu jika keluarga dari tamu yang sedang ditunggu datang. Tia di persilakan masuk dan mereka bertemu di ruang keluarga.
"Arana ...! aku kangen sama kamu!" Tia berlari kecil langsung memeluk Arana.
"Tia, aku juga kangen sama kamu." Mereka berdua terdengar heboh.
Kemudian mereka saling berkenalan lagi, Tia melihat ke arah Sabinna dan dia tau jika gadis mungil dan imut itu adalah putri dari Arana yang akan dikenalkan dengan putranya.
"Ini Sabinna, Kan? kamu cantik sekali, Sabinna." Tia mengusap lembut pipi Sabinna.
"Terima kasih, Tante Tia."
"Kok tante? panggil mama Tia saja, kamu kan sebentar lagi juga akan menjadi putriku jika kamu dan Devon menikah. Kamu tau? mama Tia sangat menyukai kamu, bahkan Devon juga sangat menyukai kamu saat pertama melihat foto kamu."
Deg ...
__ADS_1
Binna tampak ingin tersenyum, tapi susah. Ini mamanya sudah terlihat suka sekali sama Binna, dan tadi bilang anaknya juga. Bagaimana ini???