Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perhatian Manis Uno


__ADS_3

Binna hanya mengerucutkan bibirnya saat mendapat pertanyaan dari Diandra. "Bilang saja kalau kamu mulai suka sama calon kekasih kamu itu?"


"Siapa yang suka, sih Kak? Aku itu cuma tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku."


"Ya sudah kamu terima saja, lagian kakak yakin kalau pilihan orang tua itu tidak akan salah. Ayahku dulu mau menjodohkan aku dengan seseorang, tapi aku tidak mau."


"Kenapa?" tanya Binna heran.


"Kamu tau kan keadaan kakak, Binna? Apa kamu bisa yakin dia mau menerima kakak? Sedangkan kakak sendiri pernah tersakiti oleh pria yang menjadi teman kakak sendiri."


"Tapi pilihan paman, kan, bisa saja benar?"


"Iya, tapi sejak kejadian itu, kakak lebih menjaga hati dan diri kakak sendiri. Kakak tidak mau di kecewakan lagi. Biar nanti Tuhan yang akan mempertemukan kakak dengan jodoh yang hati kakak bisa menerima."


"Kakak pasti dapat seseorang yang tulus mencintai Kakak suatu hari nanti."


Tepat jam 10 Binna izin untuk pergi bertemu dengan Lila di cafe langgangan mereka. Tinggal Arana dan juga Diandra di rumah. Kedua wanita cantik beda usia itu sedang asik memasak untuk makan siang. Siang ini Arana hanya di temani oleh Diandra makan siang.


"Ibu Arana, setelah selesai makan siang, aku akan bersiap-siap pergi ke tempat aku mengajar musik."


"Iya, Diandra, nanti supir yang akan mengantar kamu, dan nanti biar supir juga yang akan menjemput kamu."


"Iya, maaf ya Ibu Arana, aku jadi merepotkan keluarga di sini."


"Ini juga keluarga kamu, Sayang. Dan tidak ada yang merasa di repotkan sama kamu."


Diandra tersenyum, dan selesai makan siang, Diandra pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian dia turun ke lantai bawah untuk berpamitan pada Arana.


"Kamu cantik sekali, Diandra."


Diandra menggunakan dress selutut berwarna hijau lumut, dengan ikat pinggang kecil pada pinggangnya, tidak lupa dia mengepang rambutnya miring. "Terima kasih, Bu, tapi jujur saja aku sangat takut dan cemas. Ini hari pertama aku mengajar."


"Kamu tenang saja, Ibu yakin kamu akan bisa mengatasinya, mereka anak-anak yang sangat menyenangkan, jadi kamu pasti menikmati hari pertama kamu ini."


Diandra mengangguk dan dia berpamitan pada Arana. Diandra masuk ke dalam mobil dan diantar oleh supir. Sesampai di sana, dia disambut oleh salah satu pengurus di sana, Diandra ditunjukkan kelasnya, dia sudah siap di depan mejanya, dan beberapa menit kemudian, anak-anak yang akan ikut les musik itu berdatangan satu persatu.

__ADS_1


"Hai, semua," sapa Diandra.


"Hai!" Seru mereka semua.


"Wah! Kakak sangat sangat cantik," celetuk bocah dengan kacamata putihnya.


"Terima kasih. Maaf, ya, kalau kakak tidak bisa melihat kalian satu persatu, tapi kakak yakin kalau kalian semua anak-anak yang cantik dan tampan semua."


"Kakak tidak bisa melihat?"


Diandra mengangguk dan dia mencoba berjalan mendekati meja mereka dengan meraba-raba. "Kakak dari kecil tidak bisa melihat, kakak hanya mengandalkan hati dan pikiran kakak untuk melakukan semua."


"Apa Kakak bisa mengajari kita bermain piano? Kakak saja tidak bisa melihat?"


"Kakak dari kecil sudah belajar main piano, bagi kakak musik adalah jiwa kakak. Dan jika kalian ingin belajar main piano, kalian harus benar-benar menyatu dengan alat musik itu dan rasakan setiap nada yang kalian ciptakan."


Diandra kembali meraba mencari di mana piano itu diletakkan. Diandra duduk dan mulai menekan tuts itu. Semua anak-anak di sana memperhatikan Diandra dengan sangat fokus.


Tidak lama terdengar suara tepuk tangan yang sangat keras dari mereka. "Kakak hebat sekali! Kakak keren!" celetuk bocah si kacamata berwarna putih itu.


"Terima kasih, sekarang kita mulai, tapi sebelum itu kakak mau mengetahui siap nama kalian, sebutkan nama kalian satu persatu dan kakak akan mencatatnya, dan bolehkan kakak meraba wajah kalian satu persatu? Kakak akan mengingat kalian satu persatu."


Diandra memanggil satu persatu anak-anak itu dan menanyakan namanya serta meraba wajah mereka, mengingat nama dan postur wajah mereka. Mereka semua tampak senang.


Beberapa jam telah berlalu, hari pertama Diandra mengajar berjalan dengan baik, dan anak-anak itu sangat senang diajari oleh guru cantik baru mereka. Diandra juga sangat senang bisa berkenalan dan bertemu dengan mereka. "Anak-anak tadi pulang dengan muka bahagiannya, dan mereka dengan bangga menceritakan jika guru baru mereka sangat cantik dan menyenangkan."


"Terima kasih, Ibu Sita. Saya juga tidak menyangka mereka akan senang bisa saya ajari bermain piano."


"Dari awal kamu datang, saya yakin kamu bisa dekat dengan anak-anak di sini. Diandra, apa mau pulang sekarang? Dan kamu pulang sama siapa?"


"Saya pulang di jemput oleh supir, Bu. Kalau begitu saya izin pulang dulu." Diandra beranjak dari tempat duduknya.


"Ibu kira kamu dijemput sama pacar kamu waktu itu. Apa dia tidak menjemput kamu?"


"Dia bukan pacar saya, Bu. Dia seperti saudara buat saya. Kalau begitu saya permisi dulu. Mungkin supir saya sudah menunggu di depan."

__ADS_1


"Mau ibu antarkan?"


"Tidak usah, Bu. Saya sudah hapal letak pintu keluar dari sini."


"Baiklah! Hati-hati kalau begitu."


Diandra memakai tongkatnya berjalan perlahan-lahan keluar dari ruangannya mengajar. Dia menuju keluar dan berdiri di luar parkiran. "Ini apa? Diandra merasakan tetesan air, dan sepertinya sedang turun hujan. " Hujan!" serunya saat hujan mulai turun dengan deras, Diandra mencoba mencari tempat berteduh, tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh seseorang.


"Ikut aku," suara seseorang yang Diandra kenal dan dia sedang memayungi Diandra.


"Uno, kamu ada di sini?"


"Ayo, ikut! hujannya semakin deras." Uno mengajak Diandra masuk ke dalam mobilnya.


"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?"


Uno tidak menjawab, dia menjalankan mobilnya dan mereka berjalan menuju arah pulang. "Uno, di sini dingin sekali, apa bisa mengecilkan sedikit ac mobilnya?" Diandra menyilangkan tangannya ke depan dadanya.


"Ya! Kenapa macet begini jalannya?"


"Ada apa, Uno? Kenapa mobilnya berhenti?"


"Macet Diandra, sepertinya ada pohon tumbang dan masih ditangani. Kamu kedinginan? Baju kamu basah kuyup."


"Iya, tapi tidak apa-apa. Uno, kenapa kamu bisa ke sini?"


"Tadi aku pulang dari kantor ayahku, aku teringat kamu, dan aku langsung menuju ke sini."


"Tapi kenapa kamu menjemput aku? Nanti supir yang diperintahkan menjemput aku bagaimana?"


"Kamu tenang saja. Aku sudah menghubunginya dan aku suruh tidak perlu menjemput kamu, karena aku yang akan menjemput kamu, dia menjemput kak Zia.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot menjemputku."


"Memangnya kamu tidak suka aku jemput? Apalagi tadi hujan deras di tempatku, aku khawatir sama kamu tadi."

__ADS_1


Diandra terdiam dan masih tetap memeluk tubuhnya dengan menyilangkan tangannya.


"Diandra, jalanan masih macet, sebaiknya kamu ganti baju saja, kamu bisa pakai kemeja milikku." Uno melepaskan kemeja putih miliknya, jadi dia yang malah bertelanjang dada.


__ADS_2