Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Keluarga Berkumpul part 2


__ADS_3

Arana mengajak mereka makan bersama, mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.


"Tom, apa kamu sudah bertemu dengan Mara?" tanya Arana, dan seketika Tommy menghentikan acara makannya. "Kenapa? Apa kalian ada masalah?" Arana seolah tau expresi Tommy.


"Tadi sebelum ke sini, kami sudah menemui tante Mara, tapi tadi juga ada seseorang yang mendatangi tante Mara, namanya om Asta."


"Asta? Siapa dia? Apa dia pacar Mara?"


"Bukan, dia hanya teman Mara," Jawab Tommy cepat.


"Makanya, cepat ajak dia langsung menikah. Tidak perlu pendekatan lagi. Kamu kelamaan, Tom," celetuk Juna.


"Aku kan sudah menceritakan semua dengan kamu, Juna. Aku sedang mencari tau ada apa dengan Mara. Aku melihat cinta di mata Mara untukku, tapi kenapa dia seolah ingin menghindariku?"


"Wanita memang seperti itu, padahal cinta, tapi pura-pura tidak suka, sukanya kita mengejar mereka." Juna melirik pada Arana.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Dan kenapa melihat aku seperti itu?" Arana memutar bola matanya jengah.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Tom, kita ke kantorku saja, lebih leluasa jika kita bicara di sana, nanti aku akan mengajari kamu untuk membuat Mara mengakui perasaannya sama kamu."


Mereka melanjutkan makan mereka, dan setelah itu Tommy dan Juna izin ke kantor. "Tante, aku mau ke kamar aku dulu, aku mau mandi sebentar dan mau menata baju-bajuku."


"Kamu gerah ya, di sini? Kamu pasti agak kaget dengan cuaca di sini."


"Sedikit sih, Ibu Arana, tapi memang aku terbiasa sehabis perjalanan dari manapun aku suka sekali langsung membersihkan diri."


"Ya sudah, biar ibu Arana antar kamu ke kamar kamu dan bantu merapikan baju-baju kamu."


"Kamu serius, Sayang?" tanya Arana tidak percaya. Diandra mengangguk. "Ya sudah, Ibu Arana menyiapkan kamar kamu di lantai dua, kamu naik anak tangga, lalu belok kiri dan kamu jalan saja, kamar kamu Ibu siapakan tepat di antara kamar Uno dan Binna. Ibu sengaja mendekatkan kamar kamu dan Binna serta Uno, agar mereka bisa berkumpul dengan kamu." Arana mengusap lembut pipi Diandra.


"Lalu kamar kak Zia di mana, Bu?"

__ADS_1


"Zia pindah di lantai 4, dia butuh ketenangan karena mau skripsi, kalau dekat kamarnya dengan Uno dan Binna, yang ada Zia akan terganggu."


Diandra tersenyum. "Ya sudah Ibu Arana, aku akan mulai belajar tentang letak ruangan di sini."


"Kamu yakin tidak mau Ibu antarkan?" Diandra menggeleng dan Diandra mulai berjalan menghitung dalam hati perlahan-lahan menuju anak tangga. Arana hanya melihatinya dari bawah dan memang benar Diandra masih mengingat semua yang di katakan oleh Arana.


"Pasti ini kamarku." Diandra masuk ke dalam kamar itu, indra penciumannya langsung menangkap aroma yang dia sukai. "Aroma kamar ini enak sekali." Diandra meraba-rabah mencari kamar mandi di dalam kamar itu dan dia menemukannya, dia masuk dan mulai mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Tidak lama Diandra keluar dari dalam kamar mandinya dan hanya menggunakan handuk yang melilit di dada sampai lututnya. Diandra tampak sangat senang, dia sampai melantunkan sebuah lagu kesukaannya sambil mengeringkan rambut basahnya.


"Aku mau ganti baju dulu." Diandra melepas handuknya dan meraba-raba tas yang dia yakin di taruh oleh pelayan di atas kasurnya. "Tas aku ke mana?" tangannya mencari tasnya.


"Wow!" Seru seseorang di belakang Diandra. Seketika kedua kelopak mata Diandra yang bulat dan besar mendelik kaget.


Wadidaw ... siapa itu ....???

__ADS_1


Maaf, author lama gak up, Author dan suami lagi berjuang melawan sakit, Kak. Semoga ini segera berlalu, dan Author serta suami bisa segera pulih, author 3 minggu cuma bisa berbaring, buat duduk dan pegang hp aja susah.


Minta doanya semua ya, Kak. Jangan lupa jaga kesehatan juga, Kak. Terima kasih yang masih mau menunggu cerita ini 🙏


__ADS_2