Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kekesalan Sabinna


__ADS_3

Ciuman itu masih berlanjut, tangan Sabinna yang mau memberontak di pegang erat oleh tangan Devon. Sabinna hanya melihat mata Devon saat bibirnya masih dalam pagutan bibir Devon. Tidak lama Devon melepaskan ciumannya. Dia menyeringai melihat Sabinna.


"Sekarang aku mau tau, apa yang bisa kamu lakukan setelah aku mencium kamu kembali dengan paksa," ucap Devon tegas, dan terlihat menantang.


"Aarrghh ...! kamu cowok menyebalkan ... menyebalkan! aku membenci kamu!" Binna memukul-pukul badan Devon dengan marahnya, Devon hanya diam saja, bagi Devon pukulan Sabinna sama sekali tidak terasa di tubuhnya.


"Binna dengarkan aku." Devon berusaha menenangkan Sabinna.


"Tidak mau! aku belum puas kalau belum memukul Kak Devon, atau kalau perlu aku rusakan saja motor kakak!" teriaknya marah.


Tiba-tiba tubuh Sabinna yang tidak bisa di tenangkan oleh Devon, dipeluk sama Devon sampai mereka berdua tidak seimbang dan jatuh ke tanah, Devon tepat berada di atas tubuh Sabinna. Kedua mata itu saling berpandangan.


Sabinna seketika tediam melihat mata coklat terang milik Devon. "Kamu cantik juga ternyata kalau di lihat sangat dekat seperti ini," celetuk Devon. Devon mendekatkan wajahnya pada Sabinna. Sabinna dengan cepat menutup kedua matanya erat. Dia takut jika Kak Devon akan menciumnya lagi.


"Kenapa? Takut aku cium lagi?" Devon malah berbaring di sebelah Sabinna. Mereka sekarang malah tiduran terlentang di atas rumput. "Kamu tau, Sabinna. Aku membayangkan bagaimana kelak jika aku menikahi kamu, menikah gadis yang sangat keras kepala." Devon melihat le samping. Pun dengan Sabinna melihatnya.


"Ya sudah, jangan nikahi aku, lagian siapa yang mau menikah dengan kakak." Sabinna melotot.


"Kalau aku tidak menikah kamu, berarti aku mengingkari janjiku sendiri."


"Janji? janji apa?" Sabinna tampak bingung.


"Ya sudah! ayo kita pulang." Devon tanpa menjawab pertanyaan Sabinna beranjak dari tempatnya berjalan santai menuju motornya.


"Kak Devon! ih! ditanya selalu tidak peduli!" gerutu Binna kesal. "Lihat saja, aku tidak akan mau menikah dengan kamu!" teriaknya kesal, tapi sama Devon sama sekali tidak di pedulikan, malah Devon sudah duduk di atas motornya melihati Sabinna yang berjalan dengan muka di tekuknya ke arah motor.

__ADS_1


"Cepat naik! kamu mau pulang tidak?"


Binna naik ke atas motornya, dia memberi jarak antara dirinya dan Devon, dan lagi-lagi Devon yang suka menggoda Binna mengegas motornya dengan cepat, sampai akhurnya Binna kaget dan spontan memeluk Devon.


Tangan Devon menarik tangan Binna membuat Binna merangkul Devon dari belakang. "Pegangan yang erat, aku tidak mau di salahkan kalau kamu nanti jatuh dari motorku." Devon menyeringai samar.


Mereka akhirnya pulang ke mansion. Sampai di depan pintu utama mansion, Binna secepatnya turu, Binna tidak ada keinginan untuk mengucapkan terima kasih sama Devon, dia sebal sekali sama cowok itu.


Saat Binna mau langsung masuk, matanya menangkap sosok ibunya Arana yang ternyata berjalan ke arah mereka. "Binna, Devon, kok kalian bisa datang bersamaan?"


"Siang, Tante Arana. Maaf tadi saya kebetulan lewat sekolah Sabinna, dan melihat Sabinna sudah pulang, jadi saya menawarkan untuk mengantar Sabinna pulang."


"Oh begitu, tapi kalau tidak kebetulan juga sebenarnya tidak apa-apa, lagian supir keluarga ini masih pulang ke kampung halamannya. Kalau mau kamu bisa mengantar jemput Sabinna, Devon."


"Ibu!" Sabinna melotot. Wkakakka ini emaknya gercep juga. "Kak Devon, Kan banyak pekerjaan, lagian jangan merepotkan dia. Aku bisa pulang sendiri." Muka Binna di tekut kesal melihat ke arah Devon.


Lila takut, orang Binna tidak sama dia. Binna sekarang merasa bersalah sama ibunya, ibunya sangat peka pada Binna, memang benar tadi Binna hampir saja di jahatin oleh ketiga pria brengsek itu.


Sebenarnya, tadi Devon memang menuju ke sekolah Sabinna, dia ingin memastikan jika Sabinna baik-baik saja, ya! mumpung dia masih di Indonesia, benar kata Binna, Sih! Devon memang mengikutinya.


Lalu saat Devon melihat ada Lila dengan cowoknya yang baru datang, Devon menghampiri Lila, Lila lalu menceritakan jika Sabinna baru saja pergi ke sebuah perumahan di mana Binna ingin mencari Lukas. Devon tanpa basa-basi langsung menuju ke sana. Dan selanjutnya, itulah yang terjadi.


"Aku baik-baik saja, Bu. Ibu tidak perlu khawatir." Binna memeluk ibunya.


"Saya akan mengantar jemput Sabinna, Tante Arana," ucap Devon cepat.

__ADS_1


"Terima kasih, Devon. Minggu depan supir tante juga sudah datang, kok." Muka Arana tampak sumringah, beda dengan anaknya. "Ya sudah, ayo kamu ikut makan siang juga sama kita berdua," ajak ibunya Binna.


"Maaf, Tante, saya mau pulang dulu, ada beberapa berkas kepindah yang masih harus saya urus soalnya. Lain kali saya pasti menerima undangan makan siang tante."


"Oh! ya sudah kalau begitu. Salam buat mama dan ayah kamu, Ya Nak?"


"Iya, Tante."


"Oh ya, Binna!" Arana melihat jaket Devon yang masih melekat di tubuh Sabinna, bukannya kemarin Arana menyuruh Sabinna mengembalikan pada Devon, tapi kenapa ini malah di pakai lagi? "itu jaketnya Devon kamu balikin, kenapa malah kamu pakai lagi?"


Kedua mata Sabinna kaget dan dia langsung melihat ke arah Devon. "Em ... ini ...?" Binna bingiung, kalau dilepas pasti ibunya melihat baju Sabinna yang sobek.


"Tante, itu untuk Sabinna, Sabinna ternyata menyukai jaketku, dan aku mau memberikan jaket itu untuk Sabinna," jelas Devon cepat.


"Kamu menyukai jaket ini? kok bisa? bukannya kamu malas sekali memakai jaket, ibu saja membelikan untuk kamu tidak pernah kamu pakai, kenapa sekarang menyukai jaket milik Devon?" Mata Arana tidak percaya.


"Iya, jaket milik kak Devon bagus, lagian kalau aku jadi di antar jemput Kak Devon, aku butuh jaket, biar tidak masuk angin," jawabnya mencari alasan


"Tidak apa-apa, Tante. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Binna, jangan lupa, hari Minggu aku jemput kamu." Arana kaget, Binna tidak menjawab, dia hanya menunjukkan muka sebalnya.


Devon berlalu dari halaman mansion kakek yang besarnya hampir sebesar lapangan sepak bola. Binna berjalan masuk dengan kesal, Arana mengejarnya dan menarik tangan putrinya itu. "Binna, kamu sama Devon, kalian mau berkencan?" Mata Arana tampak berbinar.


"Iya, kak Devon ingin mengajakku pergi." Binna cemberut.


"Bagus kalau begitu, tapi kenapa kamu cemberut begitu? kamu tidak mau diajak kencan sama Devon?"

__ADS_1


Binna bingung, dia nanti kalau menjawab tidak, lalu ibunya pasti tanya, kenapa menerima ajakannya kalau terpaksa? Binna tidak mungkin menceritakan jika kencan ini hasil negosiasi anatara dirinya dan kak Devon.


Author pengen mereka segera menikah, pengen tau rumah tangga mereka bakalan seperti apa? wkakakak


__ADS_2