Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kejadian yang tidak di sangka


__ADS_3

Kak Devon akhirnya memutuskan untuk mengajak Sabinna kembali ke hotel tempat mereka menginap. Kak Devon melemparkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


"Kak, apa kita hanya begini-begini saja di kamar hotel ini?" Binna mengerucutkan bibirnya lucu tanda dia sedang merasa bosan dan kecewa.


"Banyak yang kita bisa lakukan di sini, Binna. Kita bisa bercinta di kamar indah ini, atau berendam di bathub."


"Susah kalau bicara dengan pria mesum seperti Kakak."


"Devon bangkit dari tidurnya, dia kemudian mengecup kecil pundak istrinya. " Sabar sebentar, Ya? Nanti malam kamu akan mendapatkan malam yang indah yang tidak akan kamu lupakan."


"Kak Devon merencanakan apa memangnya?"


"Rahasia! Sekarang, bagaimana jika kita berbelanja saja? Moodku sudah kembali baik."


Kakak Devon beranjak dari tempat tidurnya dan menggandeng tangan Sabinna. Saat mereka keluar kamarnya, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Ken.


"Ken!"


"Hai, Binna." Ken melambaikan tangannya pada Binna.


Muka Devon sudah tidak enak saja dilihat. "Kak Devon, mukanya tolong di kondisikan, dunk!" bisik Sabinna pelan.


"Dikondisikan bagaimana? Mukaku sudah tampan dari lahir."


Binna tampak dibuat kesal. Ini suaminya apa benaran tidak tau apa maksud dari istrinya?


Binna menggandeng tangan Kak Devon dan berjalan menuju arah Ken yang kamarnya satu lantai dengan kamar di mana Sabinna menginap.


"Kalian menginap di kamar itu?"


"Iya, Ken. Apa ini kamar kamu?"


"Iya, Binna." Ken melihat wajah suami Sabinna yang tidak bersahabat. Ken tersenyum pada Devon.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Ada yang lucu di wajahku?" celetuk Devon ketus.


"Maaf, ya, Devon. Aku tau kamu pasti tidak suka denganku karena waktu di pantai itu. Aku tidak punya maksud apa-apa sama Sabinna. Aku juga tidak akan merebut Sabinna dari kamu."

__ADS_1


"Cari mati saja kalau kamu berani merebut istriku."


"Kak Devon!"


"Kalian pasangan yang membuatku iri. Andai saja pernikahan aku tidak batal, pasti sekarang aku akan menikmati bulan madu seperti kalian."


"Kamu cari saja gadis lain yang bisa menerima kamu apa adanya. Kalau dia meninggalkan kamu karena penyakit kamu, itu berarti dia bukan gadis yang baik yang bisa menerima kamu apa adanya, dia tidak tulus sama kamu."


"Tapi aku sudah sangat mencintainya. Sangat menyakitkan jika kita sangat mencintai seseorang, dan merasa di mencintai kita juga, tapi nyatanya dia tidak benar-benar tulus." Wajah Ken tampak kembali sedih.


"Ken, kamu sabar dulu, aku yakin nanti kamu akan segera mendapat jodoh yang lebih baik."


"Kapan, Binna. Mungkin hidupku juga tidak akan lama lagi. Aku berharap di sisa hidupku, aku bisa ditemani oleh orang yang aku cintai."


"Pikirkan saja kesehatan kamu, Ken." Tangan Kak Devon menepuk pundak Ken. "Karena hidup kamu itu lebih berarti dari cinta yang tidak tulus yang selalu kamu harapkan."


"Terima kasih, Devon. Maaf sudah mengganggu waktu kalian, sepertiny kalian mau pergi. Kalian bersenang-senanglah. Aku akan istirahat di kamarku."


"Ya sudah kami pergi dulu."


Binna dan Devon berjalan pergi dari sana. Namun, baru akan berbelok ke arah lift tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.


"Kak Devon! Itu, Ken jatuh pingsan." Binna menunjuk ke arah Ken yang jatuh pingsan.


Kak Devon dan Sabinna segera berlari menuju Ken. "Ken ...! Ken, bangun." Suami Binna berusaha membangunkan Ken dengan menepuk-tepuk pipi Ken.


"Kak, kita bawa masuk saja ke dalam kamarnya, aku akan membuka pintu kamarnya dan Kak Devon mengangkat tubun Ken.


Devon mengangguk dan Binna segera mengambil id card dari tangan Ken. Setelah pintu dibuka, Kak Devon membawa tubuh Ken masuk ke dalam dan meletakkan di atas ranjang.


"Kak, apa kita panggilkan tim medis saja?" Binna melihat ada foto Ken dengan seorang gadis yang di letakkan di sebelah ranjang Ken. "Kak Devon, apa ini kekasihnya Ken, ya? Gadis ini cantik sekali." Binna mengamati foto itu.


"Binna, coba cari obat Ken saja, biasanya kalau di sedang menjalani pengobatan dia pasti akan membawa obatnya."


Binna meletakkan bingkai foto dan mulai membuka tiap laci di sana.


Perlahan kedua mata Ken mulai membuka dan dia agak bingung melihat ada Devon dan Sabinna di sana.

__ADS_1


"Kalian kenapa bisa ada di sini? Apa yang terjadi denganku?" Ken menarik tubuhnya duduk bersandar pada tepi ranjang.


"Kamu tadi pingsan di depan pintu kamar kamu, Ken. Aku dan suamiku menolong kamu."


"Aku pingsan? Mungkin aku pingsan karena lupa meminum obatku. Maaf sudah merepotkan kalian berdua."


"Tidak apa-apa. Oh ya, Ken? Di mana obat kamu biar aku ambilkan dan kamu bisa minum?" tanya Kak Devon.


"Ada di laci." Ken menunjuk ke arah laci dekat televisi.


Kak Devon mengambilkan obat milik Ken. "Ken, apa yang di foto itu kekasih kamu? Apa dia gadis yang akan menikah dengan kamu?"


"Iya, dia Giza, aku dan dia berpacaran sudah lama, aku kira dia akan menjadi pasanganku seumur hidup, aku berani melamarnya, dan kita bertunangan. Namun, saat aku di vonis kanker darah, dia perlahan meninggalkan aku, bahkan dia sudah memiliki kekasih barunya."


"Dia cantik sekali, tapi mau bagaimana lagi. Aku memang harus merelakan dia walaupun itu sangat sakit sekali."


"Ya sudah kamu lupakan saja dia. Ini obat kamu." Devon memberikan obat untuk Ken. Ken meminumnya dengan segelas air yang di berikan oleh Sabinna.


"Terima kasih, kalian berdua baik sekali. Kapan-kapan aku mau mentraktir kalian untuk makan malam. Apa kalian mau?"


"Tentu saja, Ken," jawab Binna cepat


"Terima kasih, kalian boleh pergi, keadaan aku sudah baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih."


Devon menggandeng tangan Sabinna dan mereka keluar dari sana. Binna terlihat masih sedih. Binna kasihan mendengar cerita dari Ken.


"Kasihan sekali ya, Kak, si Ken itu?"


"Iya, tapi dia seharusnya tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia harus lebih fokus pada hidupnya."


"Kalau seumpama Kak Devon ada di posisi Ken bagaimana?"


"Aku jadi Ken dan aku di tinggalkan oleh kekasih yang sangat aku cintai?" Kak Devon melirik pada Sabinna.


"Kenapa melihatiku begitu? Jangan menyamakan aku dengan kekasih Ken. Aku mencintai Kak Devon selamanya apa pun keadaan Kak Devon."


"Kalau aku ditinggalkan oleh gadis yang aku cintai karena penyakitku, aku akan berjuang untuk sembuh dan membuat dia menyesal telah meninggalkan aku, tapi kalau aku kalah dengan penyakitku, setidaknya aku sudah berusaha untuk bisa menyayangi hidupku."

__ADS_1


"Prinsip yang keren." Tangan Binna memeluk suaminya itu. "Sudah! Kita pergi sekarang, kita belanja dan pulang kemudian aku mau berendam."


__ADS_2