Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Ajakan Kencan Lagi


__ADS_3

Uno mengajak kakaknya pergi dari sana, Uno juga heran, ini kenapa kakaknya jadi agresif seperti ini, dia tidak pernah melihat kakaknya seperti ini?


"Kak, kenapa Kakak sampai berbuat seperti itu?"


"Kenapa memangnya? Kakak benaran kesal sama gadis murahan dan tidak tau diri itu. Apalagi dia masih berani memeluk kamu di depan umum, dia sudah mengkhianati kamu."


Uno menarik napasnya panjang. "Kak, aku sudah melupakan dia, aku sudah tidak peduli dengannya. Dan sikap Kakak tadi benar-benar aku baru melihatnya sekarang. Kakak tidak perlu ikut campur, aku bisa menyelesaikan masalah aku sendiri."


"Kakak tidak mau kamu didekati sama gadis yang tidak baik seperti Cerry itu, Uno." Zia tiba-tiba merangkul Uno. "Kakak itu sayang sama kamu, Kakak tidak mau adik kakak di tipu sama gadis seperti Cerry."


Uno seketikka merasa aneh juga dengan sikap kakaknya. Tapi dia kemudian berpikir, mungkin memang kakaknya ini sangat sayang sama dia


"Kamu jangan sampai kembali lagi dengan Cerry, jangan tertipu dengan rayuan Cerry." Zia ini khawatir, soalnya, hanya Cerry cewek yang pernah balikan sama Uno setelah mereka putus, padahal sebelumnya, Uno tidak pernah melakukan hal itu.


"Kakak tenang saja, aku tidak akan pernah lagj balikan sama Cerry, karena ada orang lain yang benar-benar aku cintai saat ini."


Manik mata Zia membulat, Zia menarik tubuhnya dari tubuh Uno, mendongak kaget melihat ke arah adiknya."


"Maksud kamu? Kamu sudah memiliki kekasih baru? Siapa, Uno? Apa dia juga satu kampus dengan kita?" Uno di cerca pertanyaan oleh Zia.


"Kakak nanti pasti aku beritahu, tapi tidak sekarang." Uno tersenyum pada kakaknya.


Jangan cerita, nanti bahaya, Uno.


"Jangan main rahasia dengan kakak, Uno. Kamu biasanya selalu cerita dengan kakak siapa saja kekasih kamu." Muka Zia ditekuk.


"Tapi kali ini, aku belum bisa menceritakan sama Kakak. Suatu hari nanti aku ceritakan sama Kakak. Kak, aku pergi dulu, aku mau kembali mengurusi acaraku itu. Kakak kalau mau menunggu sebentar tidak apa-apa, Kan? Atau Kak Zia mau pulang minta di jemput supir?"


"Kakak mau menunggu kamu saja," ucapnya lirih. Zia sambil berpikir, siapa lagi kekasihnya adiknya ini?"


Waktu berlalu dengan cepat, hari ini, Zia tidak pulang ke mansion, Diandra menghubungi ayahnya bahwa dia akan menginap di rumah tante Mara, karena nenek Kelli mengingikan Diandra menginap di sana. Tommy pun menyetujuinya.


"Sayang, kamu kenapa tidak pulang? Aku seharian ini tidak melihat wajah kamu."


"Maaf, Uno. Nenekku meminta aku menginap di rumahnya, dan aku tidak bisa menolak. Kamu tau, Kan? Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan nenekku Kelli, aku menganggap bisa bertemu nenekku Kelli bisa mengurangi rasa rindu aku dengan nenekku sendiri."


"Tapi aku sangat merindukan kamu, Diandra. Bagaimana kalau hari Minggu ini aku mengajak kamu kencan, apa kamu mau?"


"Apa kamu lupa, kalau aku hari Minggu mengajar pagi? Jadi aku tidak bisa ikut sama kamu."

__ADS_1


"Oh Tuhan! Aku lupa." Uno mengusap mukanya kasar.


"Lagipula, bagaimana cara kamu mengajak aku kencan? Apa kamu mau seleuruh keluarga tau tentang hubungan kita?"


"Kamu tenang saja, itu urusan aku. Aku akan menculikmu diam-diam nantinya."


Di seberang telepon, Diandra tertawa kecil. Uno sangat senang melihat senyum kekasihnya itu. Mereka ini sedang melakukan video call. "Baiklah! Aku penasaran bagaimana kamu menculikku nanti. Hari Minggu kita jadi berkencan, tapi setelah aku selesai mengajar."


"Setuju. Aku akan mengantar dan menjemput kamu."


"Uno ... Kamu--."


Uno dengan cepat mematikan panggilan teleponnya, karena tiba-tiba kakaknya menyelonong masuk kamarnya.


"Kak, apa kakak tidka bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" ucap Uni kesal.


"Maaf, tapi memangnya kenapa? Biasanya kamu tidak akan marah sama kakak? Apa kamu sedang menghubungi kekasih baru kamu?" Zia berjalan dan menatap curiga pada Uno.


Uno hanya tersenyum. "Kakak ada apa ke sini?"


"Kenapa kamu tadi lagi memutus panggilan kamu? Kakak mau kenal sama pacar kamu." Zia seolah memaksa pada Uno.


Zia melihat ke arah ponsel Uno yang di letakkan di atas laci samping tempat tidur Uno. Zia ini penasaran sekali dengan siapa Uno berhubungan saat ini.


"Kakak, hanya mau meminjam spidol milik kamu, Kakak mau mengerjakan tugas kuliah kakak dan spidol milik kakak tidak ada." Zia ini hanya beralasan.


"Oh ambil saja di lemari kecilku."


Zia mengangguk dan pergi ke lemari kecil milik Uno. Zia mengambil spidol milik Uno dan berjalan lagi ke arah ranjang Uno.


"Uno, apa kamu mau tidur sekarang?"


"Iya, Kak. Aku mengantuk sekali, aku tadi di kampus banyak kegiatan yang aku lakukan, dan sekarang aku capek sekali."


"Ya sudah kalau begitu, selamat malam." Zia keluar dari kamar Uno. Zia tidak langsung pergi, dia masih di depan kamar Uno dan mukanya kelihatan sangat marah. Zia meremas dengan kuat spidol di tangannya. "Siapa gadis itu? Dan kenapa Uno sampai menyembunyikan dariku?" Zia berdialog sendiri dengan marah.


Di dalam kamarnya Binna sedang menunggu panggilan teleponnya di angkat oleh Kak Devon.


"Halo," jawab seorang cewek dari seberang telepon.

__ADS_1


"Halo, Ini benar nomor kak Devon, Kan?" tanya Binna agak kaget mendengar suara cewek yang mengangkat ponsel kak Devon.


"Iya, ada apa Sabbina? Aku Karla, apa kamu ada perlu sama Devon?"


"Kak Karla? Kakak kenapa ada di rumah Kak Devon malam-malam begini?"


"Aku kan memang menginap di rumah Devon selama aku di sini."


"Apa? Memangnya Kakak tidak punya tempat tinggal di sana?"


"Sebenarnya ada rumah nenekku di sini, tapi aku lebih senang di rumah Devon. Kamu ada perlu apa?"


"Kak Devon ada?"


"Devon sedang berada di kamar mandi, dan aku sedang menunggunya di dalam kamarnya."


"Kakak di dalam kamar Kak Devon? Malam-malam begini?" tanya Binna heran.


"Memangnya kenapa? Aku sering tidur di kamar Devon waktu di Belanda."


"Ti-tidur? Satu ranjang?"


"Iya. Memangnya kenapa? Tidak ada yang aneh bagiku?" Karla tersenyum licik.


"Tapi itu kan tidak boleh, apalagi kalian buka. suami istri."


"Ahahahah! Itukan buat kamu, buatku dan Devon di Belanda bukan hal yang aneh dan harus ada status."


Binna mukanya tampak sedih, ternyata dia belum tau semua tentang kehidupan kak Devon yang bebas di sana. "Dasar! Cowok menyebalkan," gerutu Binna.


Tidak lama, Devon keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Karla yang sibuk berbicara dengan seseorang dengan ponselnya.


"Kamu bicara dengan siapa, Karla?" tanya Devon.


"Calon istri kamu, Devon." Karla menunjukkan ponsel miliknya.


Devon dengan cepat menghampiri Karla dan mengambil ponselnya. Binna mukanya sudah di ditekuk saja.


Besok ya

__ADS_1


__ADS_2