
Diandra masih di dalam kamar dengan Binna. Binna melihat expresi muka Diandra yang sedikit aneh saat dia menyuruh supaya Diandra sendiri yang memberikan coklat itu pada Uno.
"Kakak kenapa mukanya begitu? Apa kakak pernah di usili oleh kak Uno?" Tatap Binna curiga.
Gadis dengan mata indahnya itu bingung. Tapi dia menggeleng pelan. "Jangan bohong, Kak? Kakak aku itu memang ngeselin, aku saja adiknya sering di usilin, cuma kak Zia aja yang enggak, malahan mereka terlihat seolah seperti sepasang kekasih, kak Zia sangat menyayangi kak Uno," Jelas Binna.
"Kak Zia juga pasti juga sangat menyayangi kamu, Binna. Cuma mungkin dia lebih dekat dengan Uno."
"Tapi aku tidak merasakan hal itu, tapi aku tidak peduli, aku sekarang sangat senang Kak Diandra ada di sini." Binna membuka coklatnya dan mengigitnya, kemudian menyuapi pada Diandra, mereka berdua kembali tertawa bersama.
Tok ... tok
Pintu kamar di ketuk oleh seseorang. "Biar aku yang membukanya, Kak." Binna langsung dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu dengan cepat.
"Binna! Kamu kok ada di sini?"
"Memangnya kenapa? Aku mau bercerita banyak dengan Kak Diandra."
Uno meminggirkan badan Binna lalu menyelonong masuk ke dalam kamar Diandra dan dia melihat Diandra yang duduk di atas ranjang, Uno segera melemparkan tubuhnya berbaring nyaman di atas ranjang Diandra.
__ADS_1
"Hai, Mata Indah." Uno tersenyum menyapa Diandra, tapi gadis itu hanya terdiam tidak menjawab sapaan Uno.
"Kakak ini, jangan mengusili Kak Diandra." Binna menutup pintunya dan duduk di atas ranjang.
"Siapa yang mengusili? Aku hanya menyapanya. Wow! Coklatnya banyak sekali." Uno melihat banyak coklat di sana.
"Kebetulan kamu di sini, itu yang aku masukkan ke dalam paper bag berwarna hitam punya kamu, kamu boleh membawanya," ucap Diandra.
"Ternyata kamu tidak lupa membelikan aku coklat."
"Tentu saja Kak Diandra tidak lupa, tapi Kak Diandra tidak mau memberikan sendri pada kakak karena kakak sudah mengusili Kak Diandra, Kan?" Kedua mata Binna menyipit.
"Sambutan yang sangat indah?" Binna bingung dengan maksud kata-kata kakaknya. "Maksud kakak apa?" tanya Binna. Diandra sudah takut saja, takut Uno akan menceritakan tentang hal waktu itu.
"Kamu anak kecil, jangan banyak tanya."
"Siapa yang anak kecil?" Binna cemberut.
"Oh iya! Aku lupa, kamu kan bukan anak kecil lagi, kamu kan mau menikah setelah lulus." Uno beranjak dari tidurnya dan duduk di depan Diandra."
__ADS_1
"Kakak ini! Kenapa membahas masalah ini? Kakak juga ngapain sih ke sini, biasanya sama kak Zia, kenapa ada di sini?"
"Kak Zia sedang sibuk dengan skripsinya, dan aku bosan di kamar sendirian."
"Pacar kakak kan banyak, telepon saja satu-satu, atau kencan sama mereka semua."
"Aku tidak punya pacar, Binna. Aku sudah memutuskan mereka."
"Putus? Kenapa? Apa mereka kecewa setelah tau kakak playboy, Binna tertawa kecil.
"Mereka sangat menyukaiku, Binna, aku saja yang bosan dengan mereka." Uno mengambil coklat yang sudah terbuka dari tangan Binna.
"Kak Paper bag kamu!" Binna menunjukkan paper bag kecil berisi coklat untuk Uno.
"Aku mau Diandra sendiri yang memberikannya kepadaku, biar dia yang menyerahkan sendiri coklat itu untukku." Uno menggigit coklat yang sudah terbuka tadi sambil berjalan ke depan pintu.
"Kak! Itu coklat bekas gigitan Kak Diandra, kenapa di bawa?" Seru Binna.
Uno menoleh dan tersenyum. "Pantas saja, rasanya begitu manis, apa karena bekas gigitan Diandra?" Uno tersenyum sambil berjalan keluar setelah membuka pintu, dan dengan membawa coklat itu.
__ADS_1
Binna melihatnya sampai menepok jidatnya, beda dengan Diandra, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar playboy," ucapnya lirih.