
Tangan pria brengsek itu menyikap dress bagian bawah Binna ke atas. Mata Nico mendelik melihat paha mulus milik Binna, dia mengusap perlahan dari ujung kaki dan perlahan naik ke atas.
Jijik deh author nulis begini aslinya. Wkakaka.
"Kamu benar-benar mempesona dan membuatku gila Binna," ucapnya dengan suara parau.
Tidak lama saat Nico mulai mengecup paha Binna. Pintu tiba-tiba di dobrak dengan Devon sangat kasar. Lila yang melihat Binna terbaring dan kekasihnya yang juga ada di sana sangat terkejut.
"Brengsek! Aku sudah menduganya."
Tonjokan pun melayang tepat di muka Nico. Nico jatuh tersungkur dengan darah keluar dari hidungnya. Lila hanya bisa terpaku di tempatnya, dia juga shock melihat apa yang dilakukan calon tunangannya itu.
Devon tidak berhenti menghajar Binna sampai babak belur. Muka Nico berubah merah karena darah yang mengucur dari mukanya.
"Kak Devon sudah! Kak Devon." Lila mencoba menghentikan apa yang dilakukan oleh Kak Devon.
"Biarkan aku habisi pria kurang ajar ini, Lila. Dia sudah berani menyentuh calon istriku." Devon mencengkeram baju Nico dan Nico sudah pingsan.
"Kalau dia sampai mati, nanti Kak Devon malah akan mendapat masalah. Kakak ingat jika Kakak akan menikah dengan Binna, hari pernikahan mereka sudah dekat."
Kata-kata Lila berhasil menghentikan emosi Kak Devon. "Sebaiknya urungkan niat kamu menikah dengan pria brengsek ini. Lihat! Apa yang sudah dia lakukan kepada sahabat kamu."
"Iya, Kak." Lila meneteskan air matanya dia menatap nanar ke arah Nico yang jatuh pingsan di sana.
"Binna! Binna, bangun." Kak Devon menepuk pipi Binna. Tapi karena pengaruh obat bius yang di masukkan ke dalam minuman Binna tadi. Binna belum sadar.
Kak Devon merapikan baju Sabinna dan menggendongnya keluar dari kamar itu. Kak Devon memilih lewar jalan belakang, karena dia tidak mau Binna nanti mendapat malu dari teman-temannya. Dan dia berjanji jika urusan dia dengan Nico belum selesai.
Devon mamasukkan Binna ke dalam mobil. Dia bingung mau dibawa ke mana Sabinna. Tidak mungkin dia membawa Sabinna pulang. Kedua orang tuanya akan shock nantinya.
Di tempat Uno. Dia dan Diandra sudah masuk ke dalam kolam renang. Diandra merasakan air yang sangat dingin, tangan Uno memegang tangan Diandra. "Uno, ini dingin sekali," ucapnya dengan mulut bergetar.
"Kamu kan tidak pernah berenang malam hari. Apa kamu menyukainya?" Uno mendekap tubuh Diandra di dalam kolam.
__ADS_1
"Suka, tapi dingin." Tangan Diandra melingkar pada leher Uno.
Uno memberikan kecupan lembut pada bibir Diandra, merekapun berciuman di dalam kolam. "Uno, bagaimana jika kedua orang tua kamu dan ayahku mengetahui hubungan kita? Apa mereka akan marah?"
"Tentu saja mereka tidak akan marah, mereka malah senang jika aku memiliki kekasih gadis yang mereka kenal dengan baik. Mungkin mereka akan menyuruhku menikah dengan kamu."
"Tapi aku belum siap jika menikah sekarang, walaupun itu salah satu impianku."
"Apa yang membuat kamu belum siap?"
"Aku belum siap karena nanti aku akan menyusahkan suamiku, Uno. Kamu tau yang aku maksud, Kan? Jika nanti aku memiliki donor mata, dan bisa melihat, mungkin aku akan siap menikah nantinya."
"Aku tidak memikirkan hal itu, Sayang. Menurutku, kamu bukan orang yang menyusahkan. Kamu gadis yang kuat dan mandiri." Uno kembali mendaratkan kecupannya.
"Aku sangat mencintai kamu, Uno.
"Sayang, apa kamu mau kita melakukan permainan?"
"Permainan apa?"
Diandra mengerutkan kedua alisnya. "Apa ini salah satu akal bulus kamu?"
"Akal apa? Kamu kan juga jago berenang, kalau aku kalah kamu boleh minta apa saja sama aku. Dan aku akan siapa memberikan apa yang kamu mau."
"Baiklah! Kalau kamu kalah, kamu tidak boleh menciumku dalam waktu satu minggu," ucap Diandra tegas.
"Apa?! Kenapa hukumannya susah sekali?" Muka Uno tampak kesal.
"Mau tidak?"
"Baiklah. Lalu kalau aku menang?" Uno berpikir sebentar. "Nanti aku akan pikirkan apa hukumannya buat kamu. Sekarang kita mulai."
Uno dan Diandra sudah bersiap-siap pada tempatnya. Setelah Uno memberi aba-aba. Diandra dan Uno mulai berenang cepat-cepatan
__ADS_1
"Yeah! Aku menang!" Sorak Uno bahagia.
"Kamu curang ya, Uno?" Diandra mengerucutkan bibirnya.
"Siapa yang berbuat curang, aku bukan cowok yang seperti itu, Diandra. Dan sekarang kamu harus mendapat hukuman." Uno mendekat ke arah Diandra dan menarik tubuh Diandra mendekat ke arahnya.
Diandra rada deg-degan ini. Dia merasa Uno sudah menyiapkan hukuman yang pastinya membuat Diandra agak ngeri.
"Uno, kita naik dulu, Ya? Aku kedinginan."
"Apa kamu sedang mencari alasan supaya tidak mendapat hukukuman?" Salah satu alis Uno naik.
"Aku serius, Uno."
"Ya sudah, setidaknya aku tidak harus menerima hukuman dari kamu yang bagiku sangat menyiksa itu."
Uno mengangkat tubuh Diandra, dan mendudukkan tubuh Diandra di pinggir kolam, kemudian Uno juga naik, dan mengambilkan Diandra handuk. Uno memakaikan handuk pada tubuh Diandra. Dan dia juga memakai handuk duduk di sebelah Diandra.
"Sudah tidak kedinginan, Kan?"
Diandra menggeleng pelan. "Sekarang kamu katakan apa hukuman yang kamu inginkan? Aku tidak mau di kira orang yang tidak memegang ucapannya."
"Aku tidak akan memberi hukuman untuk kamu, tapi aku meminta hadiahku."
Setelah mengatakan itu. Uno mengecup bibir Diandra lebih dalam, bahkan perlahan - lahan. Uno membaringkan tubuh Diandra dengan tidak melepaskan ciumannya. Uno yang mulai terbawa suasana saat Diandra menuju rambut basah Uno. Tangan Diandra perlahan *******-***** rambut Uno. Sedangkan Uno, tangan satunya mulai meraba pelan perut Diandra. Uno dapat menyentuh perut Diandra langsung karena baju renang two piece yang di siapkan oleh Uno.
Kan, Ini Uno memang sengaja ini. Wakkaka. Kek ayahnya agak mecum.
"Uno." Diandra menahan tangan Uno, dan Diandra mengelengkan kepalanya perlahan saat tangan Uno mau masuk ke dalam bikin bagian bawah Diandra. "Aku mencintai kamu, tapi aku tidak ingin membuat diriku hanyut begitu saja. Aku akan memberikan hal berharga yang aku miliki dengan pria yang aku cintai yang menjadikanku istrinya kelak."
Seketika Uno mengecup kening Diandra. "Maaf, Aku terbawa suasana. Aku juga sangat mencintai kamu Diandra. Dan hanya kamu." Uno memeluk Diandra.
"Uno, kita pulang, ini sudah malam, aku tidak mau ayahku nanti mencariku."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu gantilah baju dulu." Diandra di bantu Uno bangkit dan mereka akan bersiap-siap untuk pulang. Di dalam mobil Diandra mengatakan terima kasih untuk makan malam yang indah ini. Dia sangat menyukai malam ini.
Nanti aku up 1 bab lagi