
Malam itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga, Binna membagikan hadiah yang dia beli di Spanyol untuk keluarganya di sana.
“Ibu dan Tante Mara, ini untuk kalian juga.”
“Masih berlanjut ini pemberian hadiahnya, Binna?” tanya Mara.
“Iya, Tante, aku kan memang membawa banyak sekali hadiah buat kalian semua. Salah sendiri Kak Devon menyuruhku berbelanja sesuka hatiku, jadi ya aku belanja banyak sekali.”
“Kamu kan dari dulu tidak suka boros, Binna, kenapa sekarang jadi boros begini?”
“Tidak apa-apa, Bu. Kan aku juga tidak tiap hari, apalagi pas bulan madu saja aku bisa belanja banyak seperti ini di luar negeri.”
“Iya, Bu, tidak apa-apa. Walaupun ATM aku di kuras habis aku tidak masalah, asal dia bahagia, tapi jangan minta bulan madu lagi.”
Kak Devon terkena lemparan bantal dari Binna. “Awas, ya!” ancam Binna. Suaminya itu malah tertawa.
“Binna, apa di Spanyol sangat indah?” tanya Diandra yang duduk dekat dengan Mara.
“Indah sekali, Kak, cuma aku di sana tidak ke pantainya, habisnya Kak Devon tidak mengizinkan aku untuk ke pantai katanya dia tidak mau melihat aku pakai bikini.”
“Iya, tidak boleh,” sahut Kak Devon.
“Kalian pasti ke tempat-tempat seperti cafe dan
bangunan-bangunan yang indah di sana. Banyak spot foto indah di sana. Nanti kalau aku menikah dengan Paman Tommy kalian, aku juga mau ke sana, bersama Diandra juga.”
“Iya, Tante coba ke sana, Tapi jangan mengajak Kak Diandra, biarkan saja dia nanti ke sana sendiri dengan suaminya, pasti lebih menyenangkan.” Binna terkekeh sambil melihat ke arah Uno yang wajahnya malah datar.
“Aku masih belum kepikiran sampai sana Binna, lagian mungkin aku nanti saja menikahnya, aku mau membuka sekolah musik dulu di Kanada, aku rindu pulang ke Kanada.”
“Pulang ke Kanada? Kenapa tidak di sini saja, Kak?”
“Iya, Binna, Kakak kamu Diandra akan pulang ke Kanada karena kontrak mengajarnya di sini sudah selesai dan dia akan membangun sekolah musiknya sendiri di sana.”
__ADS_1
“Tapi Paman Tommy--?” Binna bingung ini, apa mereka memang belum cerita tentang hubungan Kakaknya Uno dengan Diandra, kalau dari ucapan pamannya, sepertinya memang mereka belum cerita.
“Kami masih di sini karena menunggu pernikahan kakak kamu Zia. Setelah Kakak kamu Zia menikah kita akan kembali ke Kanada, dan nanti Paman Tommy akan menikah di sana secara sederhana. Kalian nanti gantian paman undang ke Kanada.”
“Kita pasti datang, Tom,” ucap Arana lirih.
“Kak Zia, aku senang sekali Kakak akan menikah, aku juga membelikan piyama tidur untuk Kakak Zia. Jadi nanti kalau Kakak sudah menikah, piyaman couple ini bisa kalian pakai.”
Binna menyerahkan sebuah paper bag berwarna coklat. Zia hanya melihati paper bag itu dan tidak menerimanya, dia malah beranjak dari tempatnya duduk dan berlari menuju kamar atasnya.
Binna yang melihat hal itu mengerutkan alisnya heran. Ini kakaknya kenapa malah aneh begitu? Apa ada yang salah dengan pemberian Binna?
“Kakak kenapa, Bu? Aku salah memberi dia piyama couple untuk dia pakai saat dia sudah menikah dengan Kak Dion?”
“Binna, Kak Zia tidak akan menikah dengan Kak Dion.”
“Bukannya tadi Paman Tommy bilang kalau Kak Zia akan menikah tidak lama lagi?”
“Iya, kakak kamu akan menikah, tapi tidak dengan Dion. Dia akan menikah dengan kakak kamu Uno.”
“Ini serius, Yah?” tanya Devon yang juga tidak percaya akan hal yang barusan di dengarnya.
“Ini serius. Telah terjadi sesuatu di antara Uno dan Zia, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi karena mereka bukan suami istri.”
“Ma-maksud, Ayah?”
Arana menceritkan tentang kejadian di malam pesta perayaan kelulusan Zia. Binna benar-benar shock mendengar tentang hal itu, bahkan Binna sampai tidak kuat berdiri, dia terduduk di bawah lantai dan suaminya mendampingi Sabinna di sampingnya.
“Karena itu, kakak kamu Uno harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan dia pada Zia.”
“Tapi itu tidak mungkin, Kak Uno pria yang baik walaupun dia dulu banyak sekali memiliki kekasih, tapi tidak mungkin dia sampai berbuat hal dengan Kak Zia, kakaknya sendiri, Bu.”
“Zia bukan kakak kandung kalian, Binna. Zia adalah anak angkat ayah, dia sama sekali tidak membawa darah dari keluarga kita, bahkan
__ADS_1
dulu ibu kamu juga tidak memberikan ASI pada Zia, jadi Zia dan Uno tidak ada hubungan saudara sama sekali.”
“Kak Zia bukan Kakak kandungku dan Kak Uno?”
“Zia adalah anak dari mantan kekasih ayah kamu dulu, dia menikah dan mempunyai seorang bayi, tapi ayah dari Zia tidak mau merawatnya, dan setelah melahirkan Zia, ibu Zia meninggal dunia karena sakit. Jadi ayah dan Ibu yang akhirnya membawa Zia dan merawatnya sampai sekarang.”
“Apa-apaan semua ini? Kenapa keluarga banyak menyimpan hal yang sama sekali tidak aku ketahui selama ini, dan pernikahan Kak Zia dan Kak Uno ini tidak boleh terjadi! Kak Uno tidak mencintai Kak Zia, walaupun akhirnya
mereka bukan saudara, tapi ini terdengar sangat aneh, Yah.”
“Binna, ini adalah keputusan ayah, mencintai atau tidak mencintai, Uno harus menikah Zia. Ayah tidak mau putra ayah satu-satunya
menjadi seorang pengecut yang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya,”
ucap Juna tegas.
“Aku benar-benar tidak menyangka ayah tidak percaya padaku, aku tidak merasa melakukan apa-apa dengan Kak Zia, kalaupun akhirnya apa yang kalian lihat seperti itu, belum tentu sebenarnya yang terjadi seperti itu.” Uno
beranjak dari tempatnya dan berlari ke lantai atas menuju kamarnya.
Binna yang melihatnya tampak sangat kasihan terhadap kakaknya dan Kak Diandra. Impian mereka yang ingin menikah akhirnya tidak akan
pernah terwujud.
Devon mengusap lengan tangan Binna seraya mengingatkan Sabinna supaya tidak berdebat lagi masalah ini dengan ayahnya apalagi keadaan sedang seperti saat ini. Malam ini Diandra meminta ingin menginap di rumah
tante Mara karena ingin menghabiskan waktu dengan tante Maranya, Diandra juga sebenarnya rasanya tersiksa berada lama-lama di mansion itu.
Tommy mengantarkan dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya saat ini, kemudian Tommy pulang ke mansion dan melihat Juna duduk di dalam kegelapan sendirian.
Kamu belum tidur Juna?” Tommy duduk di samping Juna.
“Aku tidak bisa tidur, Tom. Aku memikirkan tentang masalah Uno dan Zia. Aku seolah tidak percaya jika putraku melakukan hal ini.” Juna
__ADS_1
mengusap mukanya kasar.