Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Berharap Ini Mimpi Buruk Part 2


__ADS_3

Arana sangat shock melihat hal di depannya. Sedangkan Diandra terasa lemas kedua kakinya, bak petir di siang bolong dia mengetahui Uno dan Zia melakukan suatu dosa besar.


Zia massih tetap menangis di bawah ranjangnya, dia menyembunyikan wajah iblisnya di bawah kedua lututnya.


"Ha-halo, Juna," suara Arana tampak lirih.


"Sayang, kamu kenapa? Apa ada masalah? Aku mencari kalian semua di sini, tapi tidak ada. Kalian di mana?"


"Juna, tolong kamu ke kamar Zia sekarang, kamu harus tau sesuatu." Arana kembali menangis.


Juna segera menutup teleponnya dan meminta tolong untuk acara Zia segera di selesaikan dengan alasan Zia kurang enak badan. Juna seolah sudah bisa membaca ada suatu hal yang terjadi di sini.


Saat Juna sampai di kamar Zia, Juna langsung terlihat shock keadaan di sana. "Jun!" Arana berlari memeluk Juna dan menangis.


"Arana ini ada apa? Dan kenapa Uno serta Zia tidak memakai apa-apa?" Juna sepertinya sudah mengerti kejadian di sini, tapi dia mencoba untuk memastikan.


"Ayah!" Zia melihat ayahnya dan memeluk ayahnya sangat erat dan menangis histeris.


Haduh! Ini bocah aktingnya benar-benar meyakinkan.


"Zia, katakan ada apa ini?" Zia menggeleng-gelengkan kepalanya, dia seolah shock tidak mau berkata apa-apa.


Juna melepaskan pelukannya pada Zia dan berjalan menghampiri putranya Uno. Dia membalikkan tubuh putranya yang tertidur dan mencoba membangunkannya.


Juna mencium aroma minuman dari mulut Uno. "Uno, minum?" katanya lirih. Juna mengambil segelas air dan mencipratkan perlahan pada wajah Uno. Seketika Uno tersadar dan bingung melihat semua orang ada di sana.


"Ada apa ini, Yah?" tanyanya keheranan.


"Uno, apa kamu bisa jelaskan semua ini?"


Uno masih mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih tersebar. "Jelaskan masalah apa, Yah? Ini kenapa aku bisa tidak memakai pakaian seperti ini?" Uno melihat dirinya yang polos dan hanya menggunakan boxernya.


"Kenapa kamu lakukan hal ini pada kakak kamu, Uno? Kenapa?" Arana berteriak histeris.

__ADS_1


"Ibu, aku tidak melakukan apa-apa? Aku dan kak Zia--." Uno terdiam saat melihat kakaknya menangis dengan hanya memakai selimut putih untuk menutupi tubuhnya. "Kak? Apa yang terjadi dengan Kakak?" Uno tampak shock juga.


"Kamu mabuk dan kamu sudah melakukan hal berdosa dengan kakak kamu, Uno! Lihat apa yang tetjadi dengan Zia, dia bahkan sampai shock seperti itu. Lihat dia!" bentak Juna.


"Ayah, aku tidak mabuk, bahkan aku tidak minum. Kalau ayah tidak percaya, coba tanya Diandra." Uno berdiri dari tempatnya dan mendekat ke arah Diandra.


Uno mencoba memegang tangan Diandra, tapi Diandra malah menjauhkan tangannya. "Jangan menyentuhku, Uno," ucapnya lirih.


"Diandra, kamu kenapa?" Uno kaget melihat sikap Diandra. Tentu saja Diandra bersikap seperti itu, dia sangat shock dengan apa yang terjadi pada Uno.


"Kita akan bicarakan ini di rumah, setelah keadaan Zia lebih baik. Arana, tolong urus Zia dulu, dan aku akan mengurus Uno."


***


Hampir tiga hari Zia tidak mau keluar kamarnya, dia hanya mengurung diri di dalam kamarnya, bahkan maid yang mengantarkan makanan ke kamar Zia tidak pernah dibukakan pintunya. Diandra pun mencoba tidak bicara pada Uno, dia memilih menghindari Uno. Diandra benar-benar shock dengan keadaan ini.


Sampai Tommy akhirnya kembali, dia mempercepat kembalinya dari Paris, karena dia ingin sekali, menikahi Mara sesuai janjinya pada Mara.


"Selamat malam semuanya," sapa Tommy yang datang dengan Mara di sampingnya memeluk lengan tangan Tommy.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya tampak bersedih?" Tommy heran melihat Juna dan Arana diam saja.


"Diandra ada apa ini?" tanya Mara pada Diandra.


Tommy berjalan dan duduk di depan Arana dan Juna. "Juna, apa kamu bisa jelaskan ada apa ini?"


Sebelum Juna menjawab terdengar suara Uno ada di sana. "Yah, aku akan membuat Kak Zia keluar dan menjelaskan semua ini. Ini semua tidak benar. Kak Zia harus menjelaskan semuanya."


"Berhenti, Uno!" seru Juna tegas menghentikan langkah putranya yang ingin naik ke lantai atas kamar Zia.


"Kak Zia harus menjelaskan semua ini, Yah. Aku sendiri tidak tau kenapa aku dan Kak Zia sampai terlibat kejadian itu. Aku sudah jelaskan pada kalian. Kenapa kalian tidak percaya?"


"Kami percaya dengan apa yang kami lihat, dan ayah juga sudah memeriksakan Kakak kamu, dan dokter mengatakan jika selaput darahnya telah robek."

__ADS_1


"Apa? Apa maksud kamu Zia dan Uno--? Tapi mereka itu saudara, Juna?" Tommy sangat kaget mendengar kata-kata Juna.


"Mereka bukan saudara, Tom. Dan kamu tau akan hal itu."


Sekarang gantian Uno dan Diandra sangat shock mendengar perkataan Juna barusan.


"Ma-Maksud ayah?"


"Zia bukan putri kandung ayah dan ibu. Dia anak dari mantan kekasih ayah yang ayah rawat dari bayi saat ibunya meninggal setelah melahirkannya. Ayah Zia sendiri tidak diketahui di mana keberadaannya."


"Apa? Jadi aku dan Binna bukan adik kandung Kak Zia?"


"Iya, Uno. Kami menyembunyikan hal ini sangat lama, karena Zia sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Ibumu dan ayah sangat menyayangi Zia."


"Kenapa kalian tidak menceritakan hal ini?"


"Kami tidak ingin ada jarak diantara kalian bertiga dalam hal ini. Biarlah kalian menganggap jika kalian adalah saudara. Beberapa bulan yang lalu, Zia mengetahui hal ini, tapi dia meminta agar kami tidak menceritakan pada kalian, karena dia tidak mau kalian menganggapnya bukan kakak kandungnya," jelas Juna sekali lagi.


Tidak lama seorang maid terlihat masuk ke ruang keluarga dengan wajah pucatnya, dia mengatakan jika tadi mendengar suara kaca pecah dan suara benda jatuh yang sangat keras dari kamar Zia saat mengantarkan makan malam untuk Zia.


"Zia!" Juna langsung berlari menuju kamar Zia dan diikuti oleh mereka semua. Mara menuntun Diandra naik ke kamaer Zia.


"Pintunya di kunci dari dalam, Juna." Tommy mencoba mendobrak pintunya, tapi tidak di bisa.


Arana menyuruh maid mengambil kunci cadangan di laci. Setelah mendapat kunci cadangannya. Juna segera membuka pintu itu, dan alangakah terkejutnya mereka melihat tubuh Zia tergeletak di bawah lantai dengan pergelangan tangan bersimbah darah.


"Zia!" Arana menangis melihat Zia. Juna segera mengangkatnya ke atas tempat tidur dan menyuruh Uno memanggilkan dokter pribadi secepatnya.


Mereka cemas menunggu kedatangan dokter pribadi keluarga. Mara segera membalut tangan Zia yang terluka.


Tidak lama dokter itu datang dan segera memeriksa Zia, dokter membalut tangan Zia setelah memberikan suntikan.


"Bagaimana, Dok? Putriku tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Putri Anda baik-baik saja, sayatan di tangannya tidak sampai dalam dan melukai pembulu darahnya. Sepertinya putri Anda mengalami shock yang berat, tolong jaga dia, takutnya dia akan melakukan percobaan bunuh diri lagi."


Nanti dua bab lagi ya


__ADS_2