
Saat mereka akan pergi, kedua mata Kak Devon menangkap seseorang yang barusan keluar dari dalam ruangan yang ada di toko itu. Pria itu fokus pada ponselnya sampai tidak menyadari jika di sana Kak Devon memperhatikan dia dari tadi.
"Binna." Kak Devon memegang pundak istrinya.
Kedua mata Sabinna melotot melihat siapa pria itu. "Kak Dion!"
Seketika pria yang di panggil namanya itu melihat ke arah Sabinna dan Devon.
"Binna? Kalian kok ada di sini?"
"Kak Dion, aku sedang mencari Kakak ke sini, tapi kenapa pegawai Kakak itu billang kalau Kak Dion belum pulang dari luar kota."
"Aku memang mau ke luar kota lagi. Ada apa kamu mencariku? Kalau tidak ada hal penting aku mau pergi."
"Tunggu, Kak!" Binna memegang lengan tangan Kak Dion untuk menghalanginya mau pergi dari sana.
Dion melihat ke arah tangannya yang di pegang oleh Binna. “Ada apa, Binna?”
“Kak, aku mau tanya tentang hubungan Kak dengan Kakaku Zia.”
Seketika Binna melihat ada tarikan napas panjang dari Kak Dion. “Kamu pasti mau bertanya kenapa aku dan kakak kamu sepakat untuk mengakhiri hubungan kita?”
“Iya, kenapa kalian putus? Padahal kakakku sangat mencintai Kak Dion, dia sampai terlihat frustasi dengan putusnya hubungan kalian.”
“Maaf ya, Binna. Aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan kakak kamu karena aku akan menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuaku. Aku sudah bicara baik-baik dengan kakak kamu dan kita sepakat untuk
mengakhiri hubungan kita ini.”
“Tapi Kak Zia tidak merasa baikkan setelah putus dengan Kak Dion, dia mencintai Kak Dion.”
“Maaf, Binna, tapi aku memang tidak bisa. Kalau sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi aku mau pergi dulu karena calon istriku sedang menungguku di rumahnya.”
“Tapi Kak--.”
__ADS_1
“Sudah, Binna.” Kak Devon memegangi tangan Binna untuk menghentikan Binna supaya tidak lagi mengejar Kak Dion.
“Kenapa Kak Dion seperti ini? Apa dia memang tidak benar-benar mencintai Kak Zia? Kalau mencintai pastinya dia akan mempertahankan kakakku. Lagian kenapa orang tua kak Dion tidak mau menerima kak Zia. Kakakku anak dari orang baik-baik dan terhormat, aku aneh saja kedua orang tua kak Dion tidak menerima kakakku?”
“Mungkin wanita yang dijodohkan dengan kak Dion sudah kenal baik dengan keluarganya, seperti aku sama kamu. Lebih baik kita pulang saja, atau aku akan membelikan kamu ice cream supaya kamu lebih baikkan.”
Binna mengangguk dan mereka pergi dari sana menuju ke cafe di mana Binna biasa membeli ice cream. Dari kejauhan seseorang sedang memperhatikan mereka di sana, dengan muka sebalnya dan kesalnya dia melihat ke
arah Sabinna dan Devon yang tengah asik menghabiskan ice creamnya.
“Kalia berdua terlalu ikut campur. Akan aku buat kalian sibuk dengan masalah kalian sendiri. Pernikahan aku dan Uno harus bisa terlaksana karena aku ingin mendapatkan pria yang sangat aku cintai dan melihat Diandra menangis darah.”
Zia pergi dari sana, di dalam mobil dia menghubungi seseorang. “Karla, apa kamu bisa datang ke Indonesia? Apa kamu tidak merindukan Devon kamu?”
“Aku sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Devon, tapi aku takut di malah nanti mengusirku agar pergi dari sana seperti waktu itu.”
“Kamu harus pandai-pandai mengambil hatinya. Apa kamu tidak mereka terlibat masalah dan akhirnya Devon merasa kamu yang terbaik selama ini karena sifat adikku itu masih ke kanak-kanakan dan cemburuan.”
Karla terdiam sejenak di tempatnya. “Nanti aku akan pikirkan dulu, di sini aku juga masih ada urusan lainnya.”
“Iya, nanti aku akan pikirkan.”
Mereka akan mengakhiri panggilannya. Zia kemudian memilih kembali ke rumah saja sebelum Binna melihat dia berada di sana. Binna yang dari tadi berbicara dengan serius seketika menangkap sosok wanita yang dia kenali, tapi hanya punggungnya yang sekilas terlihat.
“Itu kak Zia ya?”
“Mana?” Devon menoleh ke arah belakangnya. Namun, dia tidak melihat siapa-siapa di sana. “Tidak ada kak Zia di sini, Sayang. Kamu itu kenapa? Saking kesalnya dengan kakak kamu itu, kamu jadi terbayang dia terus.”
“Huft! Sepertinya begitu. Aku jadi merasa diikuti hantu yang mirip kak Zia.” Suaminya sampai terkekeh.
Malam itu di rumah Juna terasa berbeda, Tommy dan Diandra memilih makan malam di rumah Mara karena diundang mamanya Mara untuk makan malam. Jadi yang ada di meja makan hanya dari keluarga Juna saja.
“Binna, ayah mau tanya sama kamu.” Juna berbicara pada putri bungsunya tanpa melihat ke arah putrinya.
__ADS_1
“Mau bicara apa, Yah?”
“Apa benar kamu tadi siang pergi ke hotel ayah dan sedang mencari tau tentang kejadian antara kakak kamu?”
Binna langsung meletakkan sendok makannya dan melihat ke arah Zia. “Aku--.”
“Untuk apa? Apa kamu mau mencari kesalahan kakak kamu sendiri? Kamu curiga kakak kamu Zia sengaja melakukan hal ini pada Uno?”
“Binna, bukannya kamu bilang mau beli ice cream dengan suami kamu?” tanya Arana heran.
“Maafkan aku, Yah, Bu. Aku masih belum bisa percaya saja jika Kak Uno melakukan hal itu pada Kak Zia.”
“Lalu kamu menganggap aku dengan sengaja menjebak Uno agar tidur denganku? Kamu pikir aku wanita semurah itu, wanita yang tidak punya etika? Kamu benar-benar keterlaluan Binna! Aku tidak pernah menyakiti kamu,
kenapa kamu sangat membenciku? Bahkan aku selalu menyayangi kamu seperti aku menyayangi Uno.” Zia merasa marah dan kesal pada Binna.
Pasti tau kan siapa yang memberitahu Juna kalau Binna ada di hotel miliknya untuk mencari tahu masalah ini. Zia berpura-pura menyamar menjadi salah satu pegawai di hotel dan memberitahu Juna.
“Bukan begitu, Kak. Aku juga tidak membenci Kakak, hanya saja aku terkadang tidak suka dengan sikap Kakak yang seolah-olah berpura-pura baik padahal ada hal jahat di hati Kak Zia.”
“Apa maksud kamu?”
“Cukup!” Juna mulai terbawa emosi mendengar pertengkaran antara kedua putrinya. Dia bahkan sampai membentak dengan kasar mereka berdua. Hal ini tidak pernah Juna lakukan pada anak-anaknya.
“Juna, tahan emosi kamu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Arana mencoba menenangkan suaminya.
“Memang lebih baik aku pergi dari sini, aku juga sebenarnya bukan keluarga kalian, aku hanya anak yang kalian pungut dan kalian besarkan karena kasihan. Aku sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah mau
mengasuhku. Semua permasalah ini timbul karena aku yang tidak bisa melawan Uno saat dia terpengaruh minuman dan menginginkan aku.Uno juga tidak bersalah dalam hal ini. ” Zia berjalan pergi dari sana.
“Zia ... Zia ...!” Arana berteriak memanggil Zia, tapI Zia tidak memperdulikan panggilan ibunya.
“Aahahahah! Kita lihat saja sebentar lagi mereka akan ke sini dan menahanku agar tidak pergi dari rumah ini. Tangisanku akan membuat mereka percaya dengan kesedihan yang sedang aku alami.” Zia mengambil kopernya
__ADS_1
dan seolah-olah berpura-pura mau meninggalkan rumah itu.
Kalian jangan marah ya karena setelah ini ada pernikahan, tapi tenang saja endingnya happy ending pokoknya.