Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Rencana Honeymoon


__ADS_3

Binna naik ke lantai atas tidak memperdulikan suaminya. "Enak saja aku di suruh membersihkan semua ini, mendingan aku ikut dia naik ke lantai atas." Kak Devon naik ke lantai atas mengikuti Sabinna.


Saat membuka pintu Kak Devon tidak sengaja melihat Binna yang baru saja memakai baju kaos u can see.


"Kak Devon! Kenapa Kakak main selonong aja? Aku, kan, masih berganti baju." Binna mengerut kesal.


"Memangnya kenapa? Kamu masih malu denganku?"


"Bukan malu, cuma aku takut nanti Kakak meminta lagi. Aku kan mau menghilangkan tanda merah ini."


"Aku akan menahannya sampai kita nanti pergi berbulan madu." Kak Devon malah membuka bajunya dan dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


Tidak lama kak Devon keluar dari dalam kamar mandi dia berganti baju dengan menggunaka. kaos u can see berwarna abu-abu dan celana pendek selutut dengan warna senada.


Binna ada di sana sedang tidur-tiduran santai sambil tengkurap dengan melihat ke layar ponselnya.


"Kamu sedang apa? Sedang berchat ria dengan Lukas?"


"Kakak ini bicaranya jangan ngasal. Aku sedang mencari tempat yang indah untuk bulan madu kita." Binna menunjukkan ponselnya yang berisi isi-isi tentang tempat wisata.


"Memangnya kamu mau bulan madu ke mana?" Devon tidur di samping istrinya sambil mendusel manja pada leher Sabinna.


"Kakak ini bikin geli saja. Jangan mengganggu aku. Aku masih mencari tempat yang indah, yang memiliki pantai yang sangat indah."


"Aku tidak mau kalau ada pantainya, kalau kolam renang di dalam hotel aku mau."


"Kenapa?"


"Kalau kita ke pantai, yang ada kamu nanti memakai bikini, atau baju renang lainnya, dan aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi, Binna. Aku tidak mau tubuh istriku dilihati oleh orang lain. Hanya aku yang menikmatinya.


"Ya nanti aku akan memakai celana pendek dan kaos biasa saja."


"Kita ke tempat lain saja, jangan ke pantai. Bagaimana kalau kita ke Portugal atau Spanyol, di sana banyak spot foto romantis, dan tempat-tempat indah lainnya?"


"Hanya foto? Tidak berenang? Aku ingin berendam berdua menikmati mata hari terbit seperti di film vampire romantis itu."


Vampire kan ayahnya Binna. Akakakak!


"Nanti aku akan mencari hotel dengan privat pool, dan kita bisa melihat pemandangan yang indah sambil berendam. Ngomong-ngomong soal berendam. Bagaimana kalau kita berendam berdua di bathub." Mata Kak Devon melihat nakal pada Sabinna.


"Tidak mau, aku sudah mandi tadi. Aku mau tidur saja."

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa." Kak Devon beranjak dari tempatnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Apa itu, Kak?"


"Salep yang tadi aku bilang, dan ini baju menari buat kamu."


Binna segera membuka hadiah yang katanya baju menari untuknya. "Ini indah sekali."


Kak Devon memberikan baju menari ala balerina berwarna coklat muda bagian atasnya dan coklat muda bagian roknya, hanya saja roknya ini sangat pendek dan tidak kaku seperti balerina.


"Salepnya di oleskan pada saat mau tidur saja, tapi bajunya bisa kamu pakai sekarang, aku mau melihat istriku menari pole dance."


Binna langsung mengkerutkan kedua alisnya. "Aku tadi tidak latihan, Kakak tau sendiri kalau mama Tia dan Tante Vony datang sampai ini tadi Kak Devon pulang, jadi aku tidak bisa latihan menari."


"Ya sudah! Kamu latihan saja sekarang, dan aku akan melihatnya."


"Hem ...! Kenapa aku merasa ada maksud lain dari ucapan Kakak itu?"


"Maksud lain? Aku tidak punya maksud apa-apa, aku ingin melihat istriku memakai baju yang aku belikan."


Binna beringsut sekarang dia meninding tubuh suaminya. Binna duduk di atas perut six pack suaminya. "Baiklah, aku akan memakainya, tapi Kakak janji hanya duduk saja melihatiku, tidak boleh memiliki pikiran macam-macam, bahkan mengajakku melakukan hal itu lagi."


"Hal apa maksud kamu?"


Kak Devon tersenyum. "Kalau sekadar mencium kamu, boleh?"


"Tidak boleh!"


"Menyentuh tubuh kamu?"


"Juga tidak boleh!"


"Lalu aku diam seperti patung? Apa enaknya?"


"Kakak, kan, hanya jadi penonton. Mana ada penonton yang memegang atau bahkan mencium penari yang sedang menari, kecuali dia menari di tempat yang banyak pria hidung belang."


"Aku bukan pria hidung belang, aku suami yang hanya tidak tahan melihat istriku sendiri yang sangat cantik dan menggemaskan." Kak Devon menarik tangan Sabinna sehingga Binna jatuh mendekat ke arah Kak Devon.


"Jadi aku pakai itu?"


"Aku cium kamu dulu sebelum nanti di larang."

__ADS_1


Mereka malah berciuman di sana. Tidak lama Binna beranjak dari tubuh suaminya dan dia berganti baju menggunakan baju yang dibelikan oleh suaminya. Setelah selesai, Binna dan Kak Devon masuk ke ruang latihan pole dance. Kak Devon duduk di bawah sambil memeluk kedua lututnya, dan Binna sudah ada didekat tiang pole. Binna memulai aksinya.


Kak Devon yang melihat istrinya meliuk-liuk indah memutari tiang pole dance tampak termenganga. Binna tampak sangat mempesona dan sexy dengan baju yang di pakainya.


"Wow! Dia cantik sekali."


Beberapa menit kemudian Binna mengakhiri gerakannya dengan menunduk seolah memberi hormat pada seorang pangeran. Devon berdiri menghampiri Sabinna. Sabinna dengan cepat melompat ke arah suaminya dia melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya, dan mengecup suaminya.


"Kenapa jadi kamu yang melanggar ucapan kamu sendiri?"


"Jujur saja aku tadi malu dilihtain terus sama Kakak, tapi aku menahannya agar gerakan aku tidak salah."


"Jadi aku boleh--."


"Boleh, asal ada syaratnya."


"Kenapa jadi ada syaratnya kalau mau melakukan sesuatu pada istriku sendiri?"


"Mau tidak?"


"Iya, aku mau, apa syaratnya?"


"Syaratnya Kakak mau aku ajari menari?"


"Apa? Menari pole dance? Aku harus meliuk-liuk di tiang itu? Kalau tiangnya jatuh bagaimana? Apa aku harus juga memakai baju seperti itu? Atau aku memakai dalaman saja?"


Binna memutar bola matanya jengah. "Banyak sekali pertanyaannya, aku belum menjelaskan apa-apa?"


"Kamu ingin mempermainkan suami kamu?"


"Tari pole dance itu susah, Kak. Lagian aku tidak pernah melihat cowok menari pole dance, tapi lucu juga jika Kakak menari itu." Binna malah terkekeh.


"Tidak mau, Binna."


Binna turun dari tubuh Kak Devon. "Kakak menari biasa saja, aku ajarkan dan nanti Kak Devon ikuti."


Binna mulai memutar lagu, dan dia mulai berdiri di depan cermin besar yang ada di sana. Devon berdiri mengikuti istrinya.


"Lalu aku harus apa?"


"Tunggu musiknya di mulai, Kak." Setelah beberapa menit musik mulai terdengar. "Kakak lihat gerakan aku dan ikuti."

__ADS_1


"Hem ...!" Devon berdehem malas.


Hihi ini dasar istri yang bar-bar. Malah mengerjain suaminya untuk menari, masak suaminya yang memiliki wajah dingin itu malah di ajak menari


__ADS_2