
Devon melihat Kak Zia sepertinya sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya walaupun pria itu menggunakan jaket dan topi.
"Mungkin itu orang sedang ada urusan dengan kakak kamu. Biarkan saja."
"Urusan apa? Kak Zia itu jarang bergaul dengan orang asing, dia itu susah sekali membaur dengan orang."
"Ya mungkin dia mulai membuka diri."
Tidak lama mereka sudah sampai di rumah ibunya Arana. Arana sangat senang melihat Binna datang dengan suaminya.
"Binna, apa kamu sudah sehat?"
"Aku sudah baikkan, Bu."
"Menantu ibu." Arana memeluk Devon. "Kalian ini berdua kelihatannya sangat bahagia."
"Tentu saja kami bahagia. Aku baru tau jika menikah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita itu sangat menyenangkan. Apalagi Kak Devon sangat memanjakan aku." Binna melihat ke arah suaminya.
"Iya, Bu. Aku sangat senang memiliki istri seperti Sabinna. Dia sangat baik dan perhatian denganku. Dia mau belajar banyak hal."
"Apa masakan Sabinna sudah lebih baik, Devon?"
"Tentu saja, ini saja aku tiap hari membawa bekal yang dibuatkan oleh Sabinna."
"Aku kan sudah pandai memasak, Bu."
"Tidak hanya pandai memasak, Sabinna juga malah mengajariku bagaimana itu gerakan menari."
"Apa?" Arana melihat ke arah Sabinna. "Kenapa kamu mengajari suami kamu menari?"
"Sebagai syarat agar Kak Devon boleh menyentuhku."
"Kamu ya! Dia itu kan suami kamu, kenapa harus ada syarat agar bisa menyentuh kamu?" Arana menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bu, aku permisi dulu untuk berangkat bekerja."
"Iya, sudah. Kamu hati-hati ya, Devon."
Setelah izin dengan ibu mertuanya, Devon pergi dari sana. Arana meminta Binna untuk mengantarkan kue untuk kakaknya ke kamarnya, karena Arana sedang repot di dapur.
"Iya, Bu. Aku akan antarkan." Binna dengan semangat naik ke lantai atas menuju kamar Uno.
Ceklek!
__ADS_1
"Binna!"
"Ups! Maaf!" Binna langsung menutup kedua matanya, karena ternyata dia melihat kakaknya sedang berdua di dalam kamar dengan Diandra dan mereka sedang berciuman.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?" ujar Uno marah.
"Aku kan tidak tau, Kak. Lagian kalau mau pacaran di sini itu pintunya di kunci. Coba kalau ibu yang datang, bagaimana kakak menjelaskannya?"
"Ya bilang saja kalau aku mencintai Diandra," ucap Uno santai.
Binnq masuk dan duduk di atas ranjang, dia meletakkan nampan berisi makanan di atas tempat tidur.
"Hai, Binna!" sapa Diandra.
"Hai, Kak." Binna memeluk Diandra. "Kak, secepatnya minta Kak Uno untuk menikahi kamu, jangan mau diajak pacaran saja sama Kakakku. Menikah itu menyenangkan loh, Kak."
Diandra tersenyum. "Sebentar lagi, Binna. Aku juga segera ingin memeberitahu semuanya pada keluarga kamu, kita sedang menunggu waktu yang tepat nantinya."
"Yeah! Sebentar lagi aku akan memiliki kakak ipar yang aku inginkan, nanti kalau Kakak sudah menikah dengan Kak Uno. Kita bisa berbulan madu bersama."
"Enak saja! Aku tidak mau berbulan madu dengan kamu dan Devon, yang ada malah kalian menggangguku dengan Diandra, aku dan Diandra akan berbulan madu ke tempat yang ada kita berdua. Privat island."
Muka Binna langsung cemberut. "Memangnya kenapa? Aku tidak akan mengganggu kalian."
"Jangan dengarkan kakak kamu Binna. Nanti setelah menikah aku yang menentukan di mana kita akan berbulan madu, kamu tenang saja," bisik Diandra.
"Tidak Diandra sayang, nanti setelah menikah, aku yang menentukan di mana kita berbulan madu, dan nanti hanya ada kita berdua di sana. Ayah pernah mengatakan pernah membeli sebuah pulang yang waktu itu ayah dan ibu gunakan untuk berbulan madu, dan tempat itu sangat pribadi. Kita akan ke sana." Uno mengusap lembut pipi Diandra.
"Hem ...! Memangnya kapan Kak Uno akan mengatakan pada ayah dan Ibu?"
"Kita tunggu sampai kelulusan Kak Zia. Oh ya, Binna! Apa kamu tau kalau kak Zia ingin mengadakan acara pesta merayakan kelulusannya?"
"Apa? Kak Zia akan mengadakan kelulusannya? Kok aneh?"
"Apanya yang aneh, Binna?" tanya Diandra.
"Aneh saja, kak Zia itu paling tidak suka acara pesta-pesta seperti itu. Ini malah mau mengadakan pesta kelulusan?" Binna tampak bingung.
"Mumgkin dia ingin memberi kejutan pada kita, atau memberitahu hubungannya dengan Kak Dion. Dia itu sekarang dekat dengan Kak Dion, Binna, dan nanti setelah kak Zia mengatakan hubungannya dengan kak Dion, aku akan mengatakan tentang hubunganku dengan Diandra dihadapa mereka semua."
"Kenapa Kakak tidak katakan saja langsung tentang hubungan Kakak lebih dulu pada ayah dan ibu? Kenapa menunggu kak Zia dulu?"
"Tidak apa-apa, Binna. Kita menghormati kak Zia yang lebih tua dari kita, kalau kak Zia sudah menemukan kebahagiaan nanti baru kita yang akan mengatakan tentang hubungan kita," ucap Diandra bijaksana.
__ADS_1
"Ya sudah terserah Kalian saja, aku hanya akan mendoakan untuk kebahagiaan kalian nantinya." Binna tersenyum
Zia memang ada maksud untuk semua itu. Kenapa author takut ya mendekati acara pesta yang diinginkan Zia?
Binna di sana sampai nanti suaminya menjemput dia. Uno yang menggerutu karena dia tidak bisa bersenang-senang dengan Diandra karena adiknya itu mengintili Diandra terus. Ini si Binna memang jahit, dia sengaja melakukan hal itu agar kakaknya tidak bisa berduaan dengan Diandra.
"Sayang, ayo ayah antarkan kamu ke tempat latihan musik kamu." Tommy yang sudah datang untuk menjemput Diandra.
"Iya, Yah."
"Paman, apa boleh kalau aku yang mengantar Diandra saja?" tawar Uno.
"Keadaan kamu, kan belum baikkan Uno, biar paman saja yang mengantarkan."
"Iya, Uno. Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Arana.
"Aku baik, Bu. Lagian aku bosan di rumah terus begini, aku mau mengantar Diandra terus ke bengkelku sebentar, habis itu aku pulang.'
"Tidak perlu, Uno. Kamu istirahat saja."
"Tidak apa-apa Diandra. Aku bosan di rumah soalnya."
"Begini saja, Bu. Bagaimana kalau aku ikut Kakak Uno saja? Nanti setelah mengantar Kak Diandra aku bisa pulang bareng Kak Uno?" Binna memberi ide cemerlang bagi dia, tapi tidak bagi Uno.
Ini anak kecil mengganggu saja, Uno mengumpat. Tidak lama terdengar suara ponsel Tommy dan Tommy tau itu dari Asta. Mungkin Asta sudah menunggunya di tempat mereka janjian.
"Halo, Asta."
"Tom, aku sudah mengirimi kamu alamat di mana kita bisa ketemuan."
"Iya, tunggu sebentar, ya? Aku mau mengantar putriku ke sekolah musiknya lebih dulu." Tommy memutus panggilannya.
"Paman, paman pergi saja, aku bisa mengantar Diandra."
"Apa tidak apa-apa, Uno?"
"Iya, tidak apa-apa, Paman. Iya, kan, Bu?"
"Iya, tidak apa-apa. Binna juga akan ikut dengan mereka."
"Binna?"
"Iya, adik kamu kamu ajak juga. Sudah! Kalian pergi saja. Nanti Diandra bisa telat."
__ADS_1
Mereka semua pergi dari sana. Tinggal Arana seorang di rumah. Niatnya Uno dia hanya berdua dengan Diandra setelah di rumah di ganggu sama Binna.