Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Cerita Cerry


__ADS_3

Uno mengangguk membenarkan jika kakaknya yang bernama Zia sedang ingin makan buah semangka. Cerry juga agak bingung kenapa Uno bisa ada di supermarket sini, bukannya ini jauh dari mansion tempat tinggalnya?


“Uno kamu jauh sekali mencari buah semangka di sini?”


“Aku tinggal dekat sini, Cer, setelah menikah aku pindah ke rumah pribadi milik ayahku di sini.”


“Uno, Tunggu!” Cerry memanggil Uno yang akan keluar dari supermarket itu.


“Ada apa? Aku sudah selesai belanja dan aku mau pulang.”


“Apa benar kamu menikah dengan Zia? Dan kalian tinggal di rumah pribadi milik ayah kamu hanya berdua?”


“Seperti yang kamu tau.”


“Lalu, gadis buta kamu itu di mana?” Seketika pertanyaan Cerry membuat langkah Uno terhenti, Uno terdiam di tempatnya dan Cerry mendekat ke arah Uno. “Kalian putus? Dan kenapa malah kamu bisa menikah dengan kakak kamu itu? Kamu tidak mungkin mencintai kakak kamu itu karena putus dengan gadis buta kamu itu?”


“Namanya Diandra, dan maaf aku tidak bisa bercerita banyak dengan kamu karena ini urusan keluargaku, yang jelas aku dan Kak Zia tidak melakukan hal yang tabu dengan menikahi kakakku sendiri. Kak Zia bukan kakakku dia hanya anak angkat ayahku dan ibuku jadi tidak ada hubungan apa-apa.”


“Uno, aku sebenarnya ingin mengatakan ini dari dulu sama kamu.”


“Mengatakan apa?” Uno melihat Cerry dengan pandangan yang serius.


“Sebenarnya dari dulu aku sudah tidak suka dengan kakak kamu itu, dia aneh dan seolah dia seorang wanita yang merasakan cemburu jika kamu didekati oleh seorang wanita, atau kamu berpacaran dengan gadis manapun. Aneh, kan?”


“Dia melakukan itu hanya untuk melindungiku saja karena dia sayang sama aku.”


“Uno, apa kamu tidak bisa melihat?  Sayangnya dia sama kamu itu beda.”


“Maksud kamu?”


“Zia itu melihat kamu seperti kamu sebagai kekasihnya yang tidak bisa dimiliki orang lain, dia sakit jiwa, Uno. Mana ada kakak yang


mencintai adiknya seperti dia mencintai pacarnya, bahkan aku pernah bertemu


salah satu mantan kamu, dia bilang jika dia pernah di datangi kakak kamu dulu


dan mengancamnya agar dia memutuskan hubungan sama kamu. Aku bukannya ingin


mengatakan hal buruk tentang Zia, terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi

__ADS_1


hati-hati saja dengannya.”


“Cerry, Kak Zia orang yang baik, dia sangat sayang dan perhatian sebagia kakak kepadaku, kamu jangan bicara yang tidak-tidak.


“Uno!” Cerry memegang tangan Uno. “Aku hanya peduli sama kamu, walaupun aku tau kamu tidak akan peduli lagi denganku, hanya saja aku ingin kamu tau hal yang aku lihat selama ini tentang kakak kamu.”


“Maaf, aku harus pergi, lagian ini juga sudah malam.”


Uno berjalan pergi dari sana, dalam hati Uno memikirkan kata-kata Cerry barusan. Uno berpikir kalau yang dikatakan Cerry itu benar,


berarti Kak Zia sudah mencintainya sejak lama. Uno sampai dia rumahnya dan segera memberikan semangka yang diminta oleh kakaknya.


“Kamu kenapa lama sekali, Uno? Apa di supermarket dekat rumah kita tidak ada?”


“Tadi aku masih mengantri, jadi lama.”


“Enak sekali, Uno. Terima kasih kamu sudah mau menuruti mengidamku. Apa kamu mau? Aku suapi.” Zia menyodorkan semangka itu ke mulut Uno.


 “Kakak habiskan saja, aku mau tidur dulu, aku capek.


“Uno, kamu tidur saja di sini denganku, nanti kalau aku membutuhkan sesuatu atau sewaktu perutku tidak enak lagi aku bisa meminta


Uno hanya mengangguk dan dia berganti baju dengan baju tidurnya dan kemudian dia berbaring di tepi ranjang menjaga jarak dari


kakaknya. Zia tampak tersenyum senang dan dia pun ikut berbaring. Rencananya


besok pagi dia akan pura-pura ketiduran sampai memeluk Uno.


Keesokan harinya Uno yang terbangun merasakan perutnya di tindih oleh sesuatu dan saat dia membuka kedua matanya dia melihat ada tangan Zia yang menindih perutnya, Zia sedang memeluknya dengan erat dan terlihat dia masih lelap dalam tidurnya.


“Kak Zia,” ucap Uno lirih.


Uno beranjak perlahan setelah memindahkan tangan kakaknya perlahan-lahan lalu dia bangun dan masuk ke dalam kamar mandi di luar kamar setelah mengambil beberapa bajunya.


Uno sudah bersiap-siap dan ternyata saat dia mau membangunkan kakaknya ternyata Zia sudah bangun bahkan muntah-muntah di kamar mandi.


“Uno, apa kamu hari ini tidak bisa libur kuliah dan bekerja dulu?”


“Libur kuliah dan kerja? Tapi aku harus segera menyelesaikan kuliahku, Kak. Aku mau skripsi dan pekerjaan kantorku juga banyak.”

__ADS_1


“Tapi aku tidak mau ditinggal sendirian di sini. Kamu bisa menghubungi ayah dan minta izin untuk tidak masuk kerja dulu karena menjaga


aku. Soal skripsi kamu nanti aku akan membantu kamu menyelesaikannya.”


“Begini saja kalau begitu, nanti aku akan antar Kakak ke rumah Ibu dan Kakak bisa meminta tolong sama orang-orang di sana, jadi Kakak


tidak akan sendirian.”


“Aku mau ditemani kamu, Uno,” ucapnya manja.


“Kak, aku tidak bisa, aku ingin segera menyelesaikan semua tugas dan pekerjaanku, aku mohon Kakak mengertilah sedikit.”


Zia tampak wajahnya sangat kesal. “Kamu memang benar tidak menyukai bayi ini, makannya kamu tidak terlalu perhatian sama aku dan bayi kita.”


“Kak, aku mohon jangan memulai pertengkaran dengan tuduhan yang tidak benar yang Kakak lontarkan padaku. Aku ingin segera menyelesaikan semuanya karena aku ingin bisa fokus nantinya untuk bertanggung jawab menjadi seorang ayah. Perusahaan ayah yang di tempat lain akan aku jalankan dan aku


harus bersungguh-sungguh belajar di dnia bisnis. Untuk anak dan istriku kelak,”


ucap Uno tanpa melihat pada kakaknya.


“Jangan marah Uno, aku minta maaf sama kamu. Ya sudah aku akan ke rumah ibu saja, aku akan bersiap-siap.” Zia memeluk Uno. Zia tidak boleh membuat Uno kesal dan membencinya karena akan tidak baik untuk rumah tangganya. Zia harus membuat Uno nyaman hidup berumah tangga dengan Zia.


Uno dan Zia ke rumah Ibunya dan mereka di suruh ikut sarapan pagi bersama mereka. Ternyata di sana juga ada Binna dan Kak Devon, mereka berdua ternyata menginap di sana.


“Binna, kamu menginap di sini ternyata?”


“Iya, Kak. Oh ya! Selamat buaT Kak Zia, kata ibu Kakak sedang hamil?”


“Iya, aku sedang mengandung anak Uno. Kamu sendiri apa belum ada tanda-tanda kehamilan?”


Binna terdiam dan melihat ke arah suaminya. “Belum, Kak. Kakak doakan saja semoga aku dan Sabinna segera memliki anak, jadi nanti anak kita bisa bermain bersama,” jelas Devon. Zia hanya tersenyum.


“Bu, aku minta tolong membantu menjaga Kak Zia karena aku harus pergi kuliah dan ke kantor, tugas dan pekerjaan kantorku banyak, aku


tidak suka menunda banyak pekerjaan.”


“Iya, kamu jangan khawatir tentang Zia, biar dia di sini sama Ibu.”


“Lalu bulan depan Kak Zia sama siapa jika kita semua pergi ke Kanada?” celetuk Binna.

__ADS_1


“Kanada?” tanya Uno heran.


__ADS_2