Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bertemu Kamu


__ADS_3

Binna yang sudah berganti baju dengan baju casualnya, tidak lupa dia memakai jaket sweternya. Lila yang melihat tampak bingung.


"Binna, kamu sudah bicara sama suami kamu? Kamu itu menikah dan seharusnya kamu meminta izin dulu kalau mau pergi."


"Bodo amat! Dia saja pergi tidak minta izin sama aku, langsung menyelonong begitu saja." Author garuk-garuk kepala, dah. Bukannya tadi Devon izin mau pergi dari luar pintu kamarnya.


Lila jadi bingung, apa dia menghubungi kak Devon dulu? Tapi Binna sudah nyelong keluar saja. Lila mengejar Binna dan mereka sampai di parkiran mobil Lila. "Kamu itu mau mengantarkan aku atau tidak, Lili?"


"Iya, aku antarkan, aku tidak mungkin membiarkan kamu jalan-jalan sendirian, tapi sebaiknya kamu kirim pesan sama suami kamu," desak Lila.


Binna yang duduk di samping Lila mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura sedang mengirim pesan pada Kak Devon, padahal Binna tidak akan mau menghubungi suaminya itu."


Lila yang mengira Binna sudah memberitahu suaminya merasa lega. Mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Binna mengajak Lila makan di tempat makan favorite mereka dulu."


"Binna, setelah ini kita mau ke mana?" tanya Lila dengan mulut mengunyah makanan.

__ADS_1


"Kita belanja, aku mau shooping hari ini." Binna kembali melanjutkan makannya.


"Shooping? Sejak kapan kamu seperti suka shooping, kamu itu, kan, tidak suka dengan namanya belanja, kenapa sekarang jadi suka begini?"


"Aku mau memakai uang yang di berikan oleh Kak Devon, lihat saja aku mau belanja baju-baju yang seperti Karla pakai. Aku juga bisa menjadi Karla. Baju kurang bahan begitu saja, aku juga bisa pakai.


Burr ...


Lila reflek menyemburkan minuman yang baru saja dia teguk mendengar ucapan Binna. "Oh! Kamu mau menyaingi si Karla? Kalau begitu pakai saja baju lingerie, Na. Tiap malam kamu pakai itu, pasti Kak Devon hanya akan melihat kamu."


"Aku punya baju aneh itu," celetuk Binna cepat.


"Tidak mau! Lagian aku juga tidak mau memakainya, aku mau menghukum kak Devon, aku benaran kesal dan marah sama dia."


"Kamu cinta ya sama dia?" goda Lila.

__ADS_1


Binna hanya diam saja tidak menjawab. Binna malah melengos kesal. Tidak lama kedua mata Binna, menangkap bayangan seseorang yang berjalan dari luar restoran di mana Binna dan Lila sedang makan.


"Itu seperti--?" Binna dengan cepat beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar mengejar sosok yang tadi dia kenal.


"Binna! Kamu mau ke mana?" Lila yang kaget ikut berdiri juga dan mengejar Binna yang berdiri di depan pintu utama restoran.


"Lukas!" teriak Binna.


Dari kejauhan sosok yang tadi membuat Binna penasaran langsung menoleh ke belakang. Pria janggung yang memiliki wajah kalem dan imut itu tersenyum melihat Sabinna.


Lila yang berada di samping Binna sangat terkejut melihat ada Lukas di sana. "Lu-lukas, kok bisa di sini?"


Luka berjalan perlahan menghampiri Sabinna. Kemudian tanpa permisi, Lukas memeluk Sabinna. Kedua mata Lila semakin membulat sempurna.


"Aku kangen sama kamu, Binna." Lukas malah mendekap Sabinna lebih erat. Binna hanya terdiam dalam pelukan Lukas.

__ADS_1


"Hai! Lukas," sapa Lila.


Lukas tersenyum manis pada Lila. "Hai, Lil." Cowok berwajah kalem itu menarik tubuhnya dari tubuh Binna. Seketika mata yang tampak meneduhkan Lukas menatap Sabinna.


__ADS_2