Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kalung Diandra part 1


__ADS_3

"Ibu juga kangen sama anak kamu. Saat liburan nanti kamu jangan lupa ajak dia ke rumah, Ya?”


“Iya, Bu. Kak Zia tadi juga menyarankan agar aku meminta cuti pada ayah supaya kita bertiga bisa pergi berlibur.”


“Ide yang baik, kalian kan selama menikah sampai Zia melahirkan Ken tidak pernah pergi berbulan madu, mungkin ini saatnya kamu dan


Zia serta Ken bisa bersenang-senang.”


“Iya, Bu. Ya sudah kalau begitu, nanti aku akan ke rumah untuk mengambil barang-barang milik Kakak. “


Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Uno kembali melakukan pekerjaannya hingga waktu menunjukkan pukul tiga sore. Uno izin pada


ayahnya untuk pulang cepat karena pekerjaannya sudah selesai dan dia ingin


mengajak Ken jalan-jalan sore di taman.


“Iya, sampaikan salam ayah untuk cucu dan kakak kamu Zia.”


“Iya, Yah.”

__ADS_1


Uno segera menuju ke mansion dulu untuk mengambil barang-barang milik kakaknya. Sampai di sana Arana memberikan kotak merah dan sebuah goodie bag berisi makanan untuk mereka makan malam.


“Ibu sudah membuatkan makanan kesukaan kamu dan kakak kamu dan kotak merah itu ada barang-barang yang berharga milik kakak kamu.”


“Memangnya ini isinya apa, Bu?”


“Itu ada foto-foto masa kecil kamu dan kakak kamu serta foto dari orang tua kandung dari kakak kamu.”


“Foto kedua orang tua kandung Kak Zia?”


“Iya, hal ini juga ibu akan bicarakan dengan ayah kamu, dari mana Zia mendapatkan foto-dari ayah kandungnya?”


“Iya, namanya Sofia, tapi ayah kandunganya ibu tidak tau? Ibu juga baru melihat orang itu.”


Uno memperhatikan foto pria yang sepertinya dia pernah melihat orang itu. “Sepertinya aku pernah melihat foto pria ini?" Uno mencoba mengingat sesuatu.


"Kamu pernah melihatnya?"


"Bu, bukannya ini foto yang sama yang diambil oleh Binna di hotel waktu Kak Zia merayakan pesta kelulusannya. Pria itu yang kak Zia bilang sebagai orang EO yang mengurusi pesta kak Zia." Uno melihat ke arah ibunya.

__ADS_1


"Apa? Orang EO? Apa kamu tidak salah?"


"Iya, aku ingat tato di leher yang di miliki orang itu sama persis dengan yang di miliki oleh ayah kandung Kak Zia."


Uno lalu memeriksa lagi ke dalam kotak itu dan matanya dikejutkan dengan sebuah kalung yang ada di sana. "Ini?" Uno sekali melihat ke arah ibunya.


"Itu kenapa? Bukannya itu kalung milik Kakak kamu?"


"Bu, ini kalung milik Diandra yang diambil oleh perampok yang menusukku waktu itu."


"Maksud kamu apa, Uno?"


"Kalung ini milik Diandra, Bu. Aku sendiri yang memberikan kalung ini untuk Diandra, tapi kenapa kalung ini malah ada pada Kak Zia?"


"Mungkin kamu salah, Sayang. Ini mungkin milik kakak kamu."


"Aku tidak akan salah, Bu. Kalung ini aku pesan khusus untuk Diandra dan hanya ada satu kalung seperti ini. Aku tidak akan salah."


Arana benar-benar bingung dengan semua ini. "Apa Zia yang menyuruh orang-orang itu?" ucap Arana pelan.

__ADS_1


Uno melihat ke arah ibunya. "Kata ayah orang-orang yang merampok Diandra waktu itu di temukan meninggal. Kak Zia pasti tau kenapa kalung ini bisa ada di dalam kotak rahasia miliknya." Uno memasukkan semua barang-barang itu dan dia beranjak pergi dari sana.


__ADS_2