Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Toxic People


__ADS_3

Devon mencoba mencari Sabinna dan tidak memperdulikan Karla. Devon sangat khawatir jika tidak melihat Sabinna, seolah dia yang trauma dengan kejadian yang menimpa Sabinna.


Devon mencoba mencari Sabinna ke ruang ganti. Ternyata, Sabinna baru saja keluar dari sana dengan gaun yang tadi dia pakai saat berangkat.


"Binna, kamu kenapa tidak menungguku?" Devon mencoba menghalangi jalan Sabinna.


"Kakak, kan, tadi sibuk. Ya sudah aku pergi sendiri. Lagian aku bukan anak kecil yang harus dikawal oleh Kakak terus." Muka Binna tampak kesal.


"Apa karena Karla?" Seketika ucapan Devon menghentikan langkah Binna. Binna menoleh dan melihat ke arah Devon.


"Sikap kak Karla sama Kak Devon itu berlebihan. Aku tau kalau kalian berteman dari kecil, tapi apa harus seperti itu dia bersikap dengan Kak Devon."


"Kamu cemburu lagi?" Kak Devon berjalan perlahan berjalan mendekati Sabinna. "Kamu melihat apa yang tadi dilakukan Karla?"


"Memangnya aku salah kalau aku cemburu? Kak Devon calon suamiku, dan aku mulai memupuk rasa kepercayaan aku sama Kakak. Mencoba percaya jika Kakak dan kak Karla memang hanya berteman baik, tapi jika melihat sikap kak Karla yang seperti itu, aku bisa-bisa tidak percaya, dan malah mempunyai pikiran jika sebelum-sebelum Kak Devon bertemu denganku, kakak sudah berbuat banyak hal sama dia."


"Aku mencintai kamu, Binna, dan aku tidak pernah berbuat hal apa-apa dengan Karla. Ayo ikut aku." Kak Devon menggandeng tangan Sabinna dan membawanya pergj dari sana.


Devon membawa Binna untuk menemui Karla. Kebetulan Karla ada di stand minuman, dia sedang menikmati minumannya.


"Karla, aku ingin bicara sama kamu."


"Devon, aku senang melihat kamu, dan--." Karla melihat ke arah Sabinna. "Hai, Binna."


"Karla, katakan pada Sabinna. Kalau selama ini kita tidak ada apa-apa. Hubungan kita hanya sahabat biasa, tidak lebih, dan tidak pernah melakukan hal lebih dari seorang sahabat."


"Ada apa sih? Kenapa aku harus menjelaskan tentang hubungan kita? Lagian calon istri kamu ini manja dan kekanak-kanakan sekali. Apa yang kita lakukan selama ini itu hal yang wajar, bahkan kalau kita pernah berciuman dan tidur satu ranjang juga hal yang wajar. Jangan seperti anak kecil, Binna."


Binna melihat tajam ke arah Devon. "Tapi kita tidak pernah melakukan itu, Karla. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh dengan maksud ucapan Karla, Binna."


"Di Belanda, banyak sahabat yang melakukan hal itu dengan sahabatnya dan itu hal wajar, bahkan yang bukan kekasih."

__ADS_1


"Tapi maaf, ya Kak Karla. Di sini aku tidak mau hal itu terjadi. Kak Devon calon suamiku dan aku tidak mau dia dipeluk seenaknya dengan cewek lain."


"Kaku sekali kamu."


"Tolong hormati yang aku minta itu."


Karla tidak menjawab, hanya memutar bola matanya malas. Dia pergi dari sana. Dari kejauhan Zia melihat perdebatan hal itu.


"Jadi gadis itu menyukai calon suami Binna, dan dia adalah sahabat dari Devon. Pantas saja tadi aku melihat gadis itu sangat mesra dengan Devon. Kasihan sekali gadis itu, dia sudah mengenal Devon dari dulu, tapi Devon harus menikah dengan Binna yang dijodohkan aama dia."


Tiba-tiba Zia dikagetkan oleh tepukan dari belakang, Zia sangat kaget melihat siala yang menepuknya.


"Kamu sedang apa?"


"Dion! Kamu jangan mengagetkan aku? Kamu ngapain sih? Kenapa tiba-tiba ada dj sini?" kata Zia kesal.


"Aku sedang mencari makanan kecil dan ternyata aku melihat kamu di sini. Eh ayo ke sana, kamu tidak ingin melihat Diandra menyanyi."


Arana menyenggol lengan tangan Juna saat dia melihat Zia dengan Dion. Juna tampak tersenyum.


"Gadis buta itu ada di sini. Uno itu apa tidak salah menyuruh dia untuk ikut acara di kampus kita," ujar kebencian seorang gadis yang berdiri di sebelah Tommy.


"Eh suara dia bagus loh, Cer. Lantunan musik pianonya juga sangat indah," bela salah satu temannya.


"Indah apanya? Malah telingaku sakit mendengarnya. Dia itu buta, dan tidak cocok tampil di sini. Dia bisa tampil di sini hanya karena kenal sama Uno. Siapa yang berani melawan keinginan Uno."


Tommy yang mendengarnya sangat marah. "Tom, biar aku saja." Mara memegang tangan Tommy saat akan menemui gadis yang mengatakan hal buruk tentang anaknya.


"Ehem ...!" Mara mendekat dan berdehem di samping Cerry. "Maaf, apa kamu salah satu mahasiswi di sini?"


Cerry melihat ke arah Mara dengan tatapan aneh. "Iya, memangnya kenapa, Tante?"

__ADS_1


"Kata Uno semua mahasiswi di sini orang yang punya perilaku yang baik dan sangat sopan, tapi kenapa kamu memilik mulut yang berbau busuk." Mara menekankan kata-katanya.


"Maksud Tante apa?" Cerry agak marah.


"Saya Tantenya Uno, dan juga Tantenya pianis buta yang kamu hina tadi. Asal kamu tau, meskipun keponakanku itu tidak bisa melihat, setidaknya dia tidak memiliki hati sebusuk kamu, di lebih cantik bahkan lebih segalanya yang tidak kamu punyai."


Cerry hanya menatap dengan kesal. "Kamu gadis yang cantik, tapi sayang hati kamu sangat busuk. Aku peringatkan, jaga bicara kamu apalagi tentang keponakanku, kamu bahkan tidak mengenalnya."


Mara pergi dari sana dengan muka kesalnya. Teman Cerry menarik tangan Cerry. "Makannya, lain kali hati-hati kalau kamu bicara, Cer."


"Sayang saja dia tantenya Uno. Aku kesal dengan gadis buta itu. Dia sudah merebut Uno dari tanganku."


"Bukan dia yang merebut Uno. Uno kan memang playboy, Cer, dan lagian kamu yang sudah mengkhianati Uno. Apalagi sekarang kamu hamil dengan orang lain. Kesempatan kamu dengan Uno sudah tidak ada."


"Ini semua gara-gara pria itu. Aku kesal kenapa aku bisa bersama dengan pria itu."


Diandra mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari orang-orang di sana. Kemudian Uno menyusul Diandra di atas panggung. Uno dengan cepat memeluk dan mengecup Diandra.


"Kamu sangat memukau, Sayang. Kenapa aku yang menjadi kekasih kamu tidak tau jika kamu memiliki suara sangat indah seperti itu?"


"Itu karena kamu belum mengenal aku sepenuhnya, Uno."


"Kalau begitu, biarkan aku mengenal kamu sepenuhnya." Uno malah menelungsupkan tangannya pada pinggang Diandra dan mendekatkan tubuh Diandra ke arahnya.


"Uno, jangan seperti ini. Ini kita di tempat umum, lagian ada kelurga kita di sini." Diandra agak takut.


"Tenang saja, semua keluarga ada di depan panggung."


"Kak Uno, kalian ngapain?" Suara Binna yang tiba-tiba ada di sana.


Seketika Uno dan Diandra sangat terkejut melihat ada Binna di sana. "Kalian pacaran?" tanyanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2