
Zia tidak akan memberikan nomor rekening orang itu, sama saja bunuh diri. "Bu, aku saja nanti yang mengurus semuanya, lagian ini sudah tanggung jawabku."
"Oh ya sudah kalau begitu. Apa kamu mau makan sesuatu? Nanti ibu akan siapakan makanan untuk kamu."
"Aku tidak memerlukan apa-apa, Bu. Aku mau istirahat saja dulu."
Arana meninggalkan Zia sendiri di kamarnya. Zia benar-benar kesal dengan ayah kandungnya yang terus saja minta uang kepadanya.
Binna dan Kak Devon sudah sampai di kampusnya. "Kak, aku masuk dulu." Binna memeluk suaminya.
"Iya, nanti tunggu aku menjemput kamu dan kita pulang saja ke apartemen kita. Aku ingin mengajak kamu makan malam di luar nanti."
"Makan malam di luar? Tumben sekali, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku ingin saja makan malam romantis sama kamu, kemudian romantisnya kita lanjutkan di kamar," ucapnya menggoda.
"Sudah kuduga, pasti ada udang di balik batu."
"Kenapa udang di bawa-bawa. Bukannya kamu ingin kita segera memilik seorang bayi. Aku siap tiap hari melakukannya."
"Tiap Hari?" Mata Sabinna melotot.
"Iya, biar cepat jadinya," jawabnya santai.
"Tapi tidak tiap hari juga, Kak. Bisa-bisa aku tidak hamil malah tidak bisa jalan. Kak Devon, kan mainnya kadang tidak kenal lelah." Binna cemberut.
"Ehem ...!" Terdengar suara deheman dari belakang.
Mereka berdua langsung menoleh ke asal suara itu. " Lila!"
"Kalian tidak ada hari tanpa bermesraan ya? Di setiap tempat selalu bermesraan, memangnya semua tempat di sini punya kalian sendiri?"
"Kenapa sih nih anak? Iri, Ya?" tanya Binna.
"Iya, aku iri. Kalian membuat aku sedih saja, apalagi harapanku dekat dengan Lukas sudah tidak ada."
"Kenapa kamu bilang tidak ada?" tanya Devon.
__ADS_1
"Huft! Lukas itu kelihatannya tidak tertarik sama sekali denganku dan aku tidak mau jadi gadis bodoh yang mengejar-kejar dia." Lila bersedekap.
Tidak lama datang seorang pria dengan tinggi badan hampir mirip Kak Devon, dia berpakaian rapi, tapi lebih mendekati model retro, apalagi rambutnya di sisir rapi menyamping, dia juga menggunakan kacamata dan tas ransel.
"Permisi," sapanya.
"Kamu siapa?" Lila melihat dari atas sampai bawah pria di depannya. "Lucu sekali tampangnya," celetuk Lila.
"Lila, jangan asal bicara," Binna mendelik ke arah Binna, Kak Devon malah terkekeh pelan.
"Aku memang lucu kata ibuku. Maaf, aku mau bertanya di mana ruang rektor?"
"Kamu mau kuliah di sini? Kamu anak baru?" tanya Lila.
Pria itu hanya tersenyum kecil. "Perkenalkan, namaku Kian." Pria itu menjulurkan tangannya pada Lila. Lila hanya melihatinya dengan serius.
"Nama kamu Kian? Apa tidak salah? Aku kira nama kamu Paijo atau Seno, nama yang sesuai penampilan kamu."
"Ya ampun, Lila! Kamu itu dari tadi ya, jangan menilai orang dari penampilannya." Binna sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak menilai dari penampilan, aku hanya bicara jujur apa adanya, Binna. Habisnya dia penampilannya begini, unik sih bagiku dan menggemaskan."
"Terima kasih, aku permisi dulu. Oh ya, nama kamu tadi Lila, Ya? Nama yang indah," ucapnya lembut lalu dia masuk ke dalam gedung kampus. Lila yang mendengar itu kaget dan hanya kedua matanya yang mengerjap-kerjap beberapa kali
"Cie ... ada yang naksir kamu ini kelihatannya. Uda! Kamu terima saja, dia kelihatannya baik dan menggemaskan seperti apa kata kamu tadi," goda Binna.
"Apa sih, Binna? Kenal aja barusan, lagian aku itu trauma sama pria yang kelihatannya suka merayu begitu, nanti seperti si Nico bangsul itu."
"Siapa tau dia berbeda. Ya sudah! Ayo kita masuk saja. Sayang, aku ke kelas dulu." Binna berjalan dengan Lila.
Belum sampai Kak Devon masuk ke dalam mobil, terdengar teriakan Lila menyebut nama Binna. Kak Devon kembali menoleh ke arah istrinya.
Prak ...
Terdengar suara benda jatuh dan pecah tepat di depan Sabinna. Apa yang dilihat Kak Devon adalah suatu hal yang sebenarnya tidak ingin dia lihat. Lukas memeluk Sabinna dengan erat dan ada pot bunga yang jatuh dan pecah setelah mengenai pundak Lukas.
"Lukas, kamu tidak apa-apa?" tanya Binna pada Lukas yang sedang memeluknya.
__ADS_1
Lukas hanya menggeleng pelan dan melepaskan pelukannya pada Sabinna. Lukas langsung berjongkok sambil memegang pundaknya yang terkena pot yang jatuh itu.
"Binna, kamu tidak apa-apa?" Devon mendekat ke arah istrinya.
"Aku tidak apa-apa, Kak, tapi Lukas--." Binna melihat ke arah Lukas.
"Lukas, kamu baik-baik saja?" Devon menunduk dan memeriksa keadaan Lukas.
"Aku baik-baik saja, hanya pundakku saja yang terasa sakit. Binna, kamu tidak apa-apa, Kan?" Lukas menatap ke arah Sabinna."
"A-aku tidak apa-apa." Binna tampak bingung juga.
"My God!" seru Lila lirih.
"Lukas, apa sebaiknya aku membawa kamu ke dokter untuk memeriksakan pundak kamu, aku akan mengantarkan."
"Tidak perlu, Devon. Aku tidak apa-apa, aku lega pot itu tidak mengenai Sabinna." Lukas berdiri dan melihat ke arah Sabinna.
"Lukas terima kasih sudah menolongku, aku juga tidak tau jika akan ada pot bunga yang akan jatuh dari atas, padahal pot itu di gantung."
"Kita tidak akan ada yang tau apa yang akan menimpa kita, Binna. Aku senang kamu baik-baik saja." Lukas berjalan pergi dari sana. Lila yang beridiri di sana melihat bergantian ke arah Sabinna dan Devon.
"Maaf, sayang. Aku benar-benar tidak tau hal ini akan menimpa kamu."
"Tidak apa-apa, Kak." Binna memeluk suaminya. "Benar kata Lukas, kita tidak tau apa yang akan terjadi dengan kita. Tadi aku mau masuk ke dalam gedung kampus, tiba-tiba Lukas dari arah samping memelukku dan Lila berteriak. Pot itu jatuh begitu saja."
"Aku juga kaget karena kejadian itu cepat sekali. Ya sudah kalau begitu kita masuk saja. Binna, aku membawa minuman di dalam tasku, kamu tenangkan diri kamu di kelas saja."
"Apa kamu benar baik-baik saja, Sayang? Apa kamu mau pulang saja? Aku akan antar."
"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa bolos karena hari ini ada ujian harian."
"Ya sudah kalau begitu nanti tunggu aku menjemput kamu, kamu di dalam kelas saja."
"Iya, Kak."
Binna masuk ke dalam kelasnya dan dia melihat Lukas duduk di bangkunya dengan memegangi pundaknya yang sepertinya masih sakit.
__ADS_1
"Lukas, apa mau aku antar ke ruang kesehatan untuk memeriksa pundak kamu?" ajak Binna.
"Tidak perlu, nanti saja setelah ujian harian aku akan ke tempat kesehatan. Aku tidak mau kamu tertinggal mengikuti ujian harian."