Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Suatu Tujuan


__ADS_3

Pagi itu Kak Devon yang sudah terbangun dari tidurnya merasakan ada tangan yang memeluk tubuhnya yang polos bagian atasnya.


Kak Devon melihat Sabinna tertidur di sampingnya dengan memeluknya. “Binna, kamu?”


Binna mendengar suara seseorang dan dengan perlahan dia membuka kedua matanya, Binna melihat ke arah suaminya. “Kak Devon, Kakak sudah bangun?” Binna beringsut dari tidurnya. Pun dengan suaminya duduk bersandar pada tepi ranjang.


“Binna, apa yang terjadi semalam? Aku ingat waktu itu aku marah dengan Ken dan aku tidak tau selanjutnya.”


“Ken, ternyata benar orang yang jahat, dia sudah merencanakan semua ini, Kak. Aku sudah meminta bantuan pihak hotel untuk


mencari keberadaan Ken.”


“Mencari keberadaan Ken? Maksud kamu?” Kak Devon yang masih tampak pusing memegangi kepalanya.


“Ini Kakak minum dulu.” Binna memberikan segelas air kepada suaminya. Suaminya itu menghabiskan segelas air yang diberikan oleh Sabinna. “Kemarin adalah malam yang benar-benar menakutkan, Kak. Aku ingin kita segera pergi dari sini, atau kita kembali pulang saja.” Binna memeluk tubuh suaminya erat karena


merasa takut.


“Binna, katakan? Apa kamu tidak apa-apa? Ken tidak melakukan apa-apa sama kamu, Kan?”


Binna menggeleng. “Dia sudah merencanakan semua ini, Kak. Dia ingin membuat rumah tangga kita salah paham dan akhirnya akan terjadi perpisahan.” Binna menangis dalam pelukan suaminya.


“Itu tidak akan terjadi. Aku kesal kenapa saat itu aku malah tidak bisa apa-apa.”


“Ken memberikan obat penenang  ke dalam minuman Kak Devon, sebenarnya aku juga


tapi karena aku tidak meminumnya, jadi aku tidak sampai jatuh pingsan.”


“Apa yang sebenarnya Ken inginkan dari kita?”


“Dia merencakan untuk membuat seolah-olah Kak Devon berselingkun dengan tidur dengan seorang wanita di kamar ini dan akhirnya aku


menulis surat yang mengatakan jika aku sakit hati karena melihat suamiku berselingkuh dan aku memilih pergi dengan orang lain, yaitu,  Ken. Ken ingin membawaku pergi sejauh mungkin dari sini.”


“Apa? Kenapa dia melakukannya? Apa karena dia menyukai kamu?”


“Katanya ini ada hubungan dengan masa lalu, di mana dia ingin melihat aku menderita.”

__ADS_1


“Masa lalu? Apa tentang Nico?”


“Sudahlah, Kak, aku tidak mau membahas ini lagi, aku mau pulang saja. Kita pulang saja, tidak perlu lama-lama di sini.”


“Jangan Binna, kita akan  melanjutkan bulan madu kita, dan aku pastikan kali ini tidak akan ada yang mengganggu bulan madu kita, dan soal Ken, nanti aku akan meminta pihak


keamanan hotel menghubungi aku jika ada perkembangan masalah ini.”


Hari itu berlalu dengan perasaan Binna yang masih takut untuk keluar kamarnya, dan suaminya tau, dia berusaha membuat Binna untuk melupakan kejadian yanga menimpa mereka berdua. Kak Devon mengajak Binna segera berkemas karena mereka akan menuju tempat bulan madu selanjutnya. Kak Devon


ingin membuat Binna melupakan tentang kejadian waktu itu, dan sekarang Binna


akan mulai waspada terhadap orang yang dikenalnya.


“Aku janji setelah bulan madu ini, aku akan mencari tau tentang siapa Ken sebenarnya. Aku sendiri masih mencari tau tentang pria yang tempo hari memberi kamu obat perangsang itu. Dia ternyata hanya  bajingan yang suka mencari gadis-gadis muda.”


“Kak Devon mengusut masalah itu?”


“Iya, aku diam-diam mengusutnya dan pria itu sudah diamankan pihak berwajib. Agar tidak meresahkan orang lain.”


“Terima kasih ya, Kak.”


Beberapa hari berlalu, sepasang suami istri itu sudah berada di Spanyol, mereka menikmati bulan madunya dengan wajah yang bahagia. Binna perlahan mulai melupakan kejadian di Maldievs. Kini mereka sedang menikmati


bulan madunya dengan berswan foto ke tempat-tempat indah di sana.


“Kak, kenapa kita tidak menyewa hotel berbintang seperti waktu di Mladievs?”


“Lebih baik kita tidak terlalu mencolok, bahkan aku tidak mengatakan pada siapapun di mana kita menginap, hal ini akan membuat bulan madu kita lebih nyaman.”


“Iya, walaupun bukan di hotel bintang lima, beberapa hari ini rasanya lebih tenang dan nyaman.”


“Binna, sebenarnya aku menyewa beberapa orang untuk mengawasi kegiatan kita dari kejauhan, ya hanya untuk pengamana saja.”


Mata Sabinna melotot. “Kakak serius?”


“Iya. Sudah! Kamu habiskan makanan kamu dan kita segera kembali ke kamar.”

__ADS_1


Tidak lama ponsel Sabinna berdering dan itu dari ibunya. “Binna, apa kabar kamu, Nak?”


“Aku baik, Bu.”


“Binna apa bulan madu kamu menyenangkan di sana?”


“Sangat menyenangkan, Bu. Bu, aku minta maaf sepertinya aku tidak dapat menghadiri acara pesta perayaan kelulusan Kak Zia.”


“Tidak apa-apa. Lagian Kakak kamu bisa mengerti akan hal itu. Kakak kamu lulus dengan nilai yang membanggakan. Ibu dan Ayah sangat senang sekali.”


“Aku tidak kaget, kak Zia memang mahasiswa yang pandai. Sampaikan ucapan selamatku pada Kak Zia ya, Bu. Nanti pulang dari sini aku akan membawakan hadiah untuk Kak Zia.”


“Iya, ibu akan sampaikan. Salam juga untuk suami kamu.”


Mereka mengakhiri panggilannya dan Binna tampak tersenyum. “Kamu benaran tidak mau pulang untuk menghadiri pesta itu? Kalau kamu mau kita bisa pulang hari ini juga, aku akan memesankan tiket pesawat untuk kita.”


“Tidak perlu, Kak, lagian acaranya besok dan kalau kita berangkat sekarang apa cukup waktunya lama perjalanannya saja sekitar 28 jam lebih. Nanti pulangnya saja kita membelikan Kak Zia hadiah.”


“Memangnya kakak kamu suka apa? Nanti kita akan carikan.”


Binna menggedikkan bahunya seolah tidak tau apa kesukaan kakaknya itu. “Aku tidak tau, yang aku tau dia hanya suka dirinya sendiri dan


Kak Uno,” jawan Binna santai sambil menghabiskan spagetti di piringnya. Devon


hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


Malam itu di kamar Diandra, Tommy sedang berbicara dengan Diandra putrinya sebelum tidur. “Sayang, ayah ingin mengatakan sesuatu sama kamu.”


“Ada apa, Yah?”


“Ayah malam ini akan pergi untuk menyusul tante Mara ke Paris.”


“Benarkah? Apa ayah akan mengajak Tante Mara untuk kembali bersama dengan ayah?”


“Ayah sedang akan mengusahakannya. Kamu doakan kali ini niat baik ayah akan bisa membawa tante kamu menjadi milik ayah, Diandra.” Tommy mengusap lembut pucuk kepala putrinya.


“Tentu saja, aku yakin tante Mara akan bisa menerima ayah, karena perasaanku mengatakan jika tante Mara sangat mencintai ayah.

__ADS_1


“Feeling ayah juga mengatakan demikian. Sayang, apa tidak apa-apa ayah meninggalkan kamu sendirian dalam beberapa hari di sini?”


“Ayah tenang saja, ada ibu Arana dan ayah Juna yang menjagaku, juga ada Uno.” Diandra tersenyum. Tommy sudah merasa lega putrinya mengizinkannya


__ADS_2