
Uno masih berjalan tanpa memperdulikan Cerry yang berlari mengejarnya, Uno ingin segera sampai di tempat parkiran, Uno langsung masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Cerry.
"Sayang, aku benaran tidak kenal dengan pria itu, aku ingin menjelaskan semuanya!"
"Aku memang bukan pria yang baik, Cerry. Aku juga tidak menuntut punya kekasih yang baik, tapi aku tidak mau punya masalah dengan pria lain, karena dianggap merebut kekasihnya. Setiap aku dekat dengan seorang gadis manapun, aku akan memutuskan gadisku lainnya, aku tidak pernah berpacaran lebih dari satu orang. Kalau kamu memang sudah punya kekasih lain, aku tidak masalah kamu memutuskan hubungan denganku dan memilih orang itu."
"Aku tidak berpacaran dengan orang lain, aku hanya mencintai kamu, Uno!" seru Cerry menyakinkan.
Uno hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu dia menghadap ke arah kemudia, dia menjalankan mobilnya pergi dari sana.
Keesokan harinya, keluarga Atmaja sudah berkumpul di meja makan. "Binna, nanti kamu ke sekolah akan diantar dan di jemput oleh supir, ayah tidak bisa mengantar kamu, ayah ada urusan pekerjaan pagi ini. Tidak apa-apa kan, Binna?"
"Iya, Yah," jawab Binna lirih. Juna melihat ke arah putrinya yang dari tadi hanya memutar-putar sendok makannya di atas sepiring nasi goreng kesukaannya.
"Kamu kenapa? Masih memikirkan masalah Lukas yang tidak bisa datang?" Tanya Juna.
"Em ... itu?" Binna langsung sadar dan melihat ke arah ayahnya, kemudian Binna juga melihat ke arah Ibunya. Wanita cantik yang di panggil Binna Ibu itu sama sekali tidak melihatnya, Binna tau jika Arana masih marah sama dia, Binna sadar jika memang dia yang salah.
Binna sudah janji sama ibunya, jika Lukas tidak datang hari itu, makan dia akan menerima perjodohan itu, tapi kemarin seolah Binna masih belum mau menerima janji yang dia ucapkan, dia masih penasaran kenapa Lukas tidak datang. Hal itu yang membuat Arana kesal, karena putrinya seolah tidak menjadi gadis penurut seperti biasanya.
"Jangan memikirkan masalah itu, cepat makan." Juna beranjak dari tempatnya, Arana juga beranjak dari tempatnya, dan Juna mengecup pelan kening Arana, ketiga anak Juna juga mengecup punggung tangan Juna bergantian, memang itu yang selalu mereka lakukan. Hari ini Juna akan berangkat kerja pagi sekali, karena dia nanti mau pergi ke proyek barunya yang sedang dia kerjakan.
__ADS_1
Arana kembali ke meja makan setelah mengantar Juna sampai di depan pintu utama mansio. "Ibu akan ingin memberitahu pada kalian, minggu depan paman Tommy dan Diandra akan datang, dan mereka akan tinggal selama sebulan di sini, ibu harap kalian bisa bersikap baik sama mereka."
"Iya, Bu. Aku juga penasaran dengan si gendut Diandra itu," celetuk Uno.
"Aku senang sekali, paman Tommy orang yang baik, Bu," lanjut Zia.
Binna hanya terdiam saja, sambil melihati ke arah piring yang berisi nasi gorengnya yang masih banyak itu. Arana hanya melihat sekilas ke arah putrinya, dia memilih mendiamkan putrinya itu.
"Binna, kamu kenapa diam saja? tumben sekali, kamu sedang bingung, ya, memilih antara dua cowok, si Devon dan si Kulkas itu?" Uno malah menggoda adiknya. Binna tidak menjawab hanya melirik sebal sama kakaknya.
"Aku berangkat sekolah dulu." Binna beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekati ibunya, dengan sedikit takut Binna berpamitan pada Arana, Arana juga menanggapi Binna tidak seperti biasa. Binna kemudian berjalan ke arah kakaknya Zia mengecup punggung tangan Zia dan kemudian sekarang ke Uno.
"Wajah kamu jangan kusut begitu, nanti teman-teman kamu pada lari semua!" Uno terkekeh. Binna masih tidak bergeming dengan mulut manyunnya.
"Auw ...!" terdengar teriakan seseorang kemudian. "Binna. Kamu!" seru Uno marah karena ternyata tangannya bukan di cium malah digigit oleh adiknya itu.
"Bye, Uno jelek!" seru Binna sambil berlari.
"Dasar, gadis itu!" Uno mengusap-usap tangannya yang sakit karena digigit Sabinna. Zia langsung melihat dan menarik tangan Uno. "Tidak apa-apa, Kak.
"Sampai merah begini, Sabinna itu nakal sekali," ucap Zia lirih sambil meniupi tangan Uno.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku malah senang, dia tidak murung lagi mukanya, aku malah sedih lihat Binna terdiam seperti itu. Bu, sebenarnya kenapa dengan Binna?" Tanya Uno pada ibunya.
Arana tadi yang sempat melamun melihat sikap Zia yang terlihat sangat perhatian pada Uno, langsung gelagapan melihat ke arah Uno. "Ada apa, Nak?" tanya Arana bingung.
"Ibu ini, kenapa jadi ketularan Binna? aku tadi bertanya, Binna kenapa murung begitu? apa dia ada masalah?" Uno ini diam-diam sangat perhatian pada adiknya itu, walaupun setiap hari selalu mengusili Binna.
"Huft!" Arana menghela napasnya pelan. "Semalam Lukas tidak datang ke sini, Binna yang coba menghubungi dia, tapi ternyata tidak dijawab. Kita juga tidak tau kenapa Lukas tidak datang. Yang membuat ibu kesal pada Binna, Binna sudah berjanji jika Lukas tidak datang hari itu, dia akan mau menerima pertunangannya dengan Devon, tapi nyatanya, Binna seolah ingin melanggar hal itu, dia masih ingin mencari Lukas, Binna sudah berubah, dia tidak lagi menjadi gadis penurut seperti dulu. Padahal ibu melakukan hal ini karena ibu sangat menyayangi Binna.
"Mungkin Lukas memang pria yang baik, Bu. Makannya Binna ngotot tidak mau di jodohkan, tapi kemarin saat bertemu Devon, dia juga tidak buruk, tapo aku tetap percaya sama pilihan ibu." Uno beranjak dari tempatnya dan memeluk ibunya dari belakang, dia mengecup pipi ibunya. Ibu tidak perlu memikirkan hal ini terlalu berat, biarkan semua berjalan apa adanya. Aku mau berangkat kuliah dulu ya, Bu."
Arana mengusap lembut pipi Uno. "Hati-hati ya kalian berdua."
Zia juga mengecup pipi ibunya dan berlari mengerjar Uno yang sudah berjalan lebih dulu, tangan Zia merangkul lengan tangan Uno, Uno melepaskan dan malah merangkul pundak kakaknya.
Arana yang melihat hal itu sempat bingung. "Apa Zia menyukai Uno? kenapa aku merasa perhatian Zia sangat berbeda pada Uno? Oh Tuhan!" seru Arana sambil menghela napasnya.
Di sekolah, Binna yang sedang cemas mengunggu ke datangan si Lukas itu, berkali-kali melihat ke arah pintu kelasnya, berharap dia melihat sosok yang di tunggunya datang, tapi ternyata sosok Lukas tidak muncul sama sekali. Binna kembali menghubungi ponsel Lukas, tapi tidak di jawab.
"Lukas ke mana? apa dia tidak masuk lagi? apa bibinya sakit lagi?" Binna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sampai pada bel masuk sekolah Lukas tidak datang, bahkan sampai ujian sekolah hari ini selesai, Lukas juga tidak datang. Binna benar-benar bingung, Lukas ini ke mana?
__ADS_1
"Binna, kamu tidak pulang?" Tanya Lila yang duduk di samping Sabinna. Binna tidak menjawab dia hanya melihati layar ponselnya. "Ya ampun! ini anak kenapa? Kamu kenapa sih, Binna? mikirin Lukas yang tidak masuk sekolah?"