Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Good News or Bad News


__ADS_3

"Kak, aku ingin kita berpisah secepatnya."


Tidak lama terdengar suara gelas pecah. Gelas minuman yang dibawa oleh Zia jatuh ke lantai. Zia sangat terkejut mendengar ucapan Uno.


"Apa?"


"Kak, aku tidak mau menunggu lama lagi, aku ingin kita bicara pada ayah dan ibu jika kita akan berpisah. Kita tidak perlu berpura-pura lagi selama ini."


"Tapi. Arrgh!" Zia meringis kesakitan saat kakinya malah terkena pecahan kaca dari gelas yang tadi dia jatuhkan.


"Kak, kamu tidak apa-apa?" Uno langsung kaget melihat hal itu. Uno menolong kakaknya dan mengangkat tubuh Zia duduk di sofa yang tidak ada pecahan kacanya.


"Uno, apa secepat itu? Nanti ibu dan ayah tidak akan menyetujui semua ini." Kedua tangan Zia memegang pipi Uno seolah dia tidak mau berpisah dengan Uno.


Uno melepaskan tangan kakaknya, dia beranjak dari sana dan berjalan ingin mengambilkan kotak P3K, setelah membawa kotak obat, Uno kembali ke tempat kakaknya.


"Kak, aku akan obati dulu luka di kaki kamu." Uno duduk di bawah kaki kakaknya dan mulai mengobati kaki kakaknya perlahan-lahan.


"Uno, apa kamu tidak bisa bersabar dulu?"


"Aku tidak bisa lagi, Kak. Aku sangat merindukan dan ingin bertemu Diandra, tapi tidak aku lakukan karena aku juga tidak mau Diandra dianggap sebagai orang ketiga nantinya kalau kita masih posisi sebagai suami istri."


"Apa tidak terlalu cepat jika seperti ini?" Sebenarnya dalam hati Zia dia ingin sekali menjambak Diandra yang selalu membayang-bayangi dirinya dan Uno.


"Aku sudah bertanggung jawab sama kakak, tapi perasaan cintaku pada Diandra benar-benar tidak bisa aku lupakan, sangat menyakitkan jika seperti ini rasanya. Kita mencintai seseorang, tapi tidak dapat kita memiliki orang itu, tidak bisa bersama dengannya."


"Iya, aku tau perasaan seperti itu. Aku pernah merasakannya." Zia menatap Uno.


"Sudah selesai. Besok pagi kita akan ke rumah ayah dan aku akan mengutarakan keinginan aku ini. Untuk apa kita menjalani pernikahan ini jika kita berdua malah terkesan aneh begini satu sama lain."


Kamu yang terkesan aneh Uno, Zia malah senang-senang saja sama pernikahan ini.


Uno mengangkat tubuh kakaknya ala bridal style membawanya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang, setelah itu Uno yang akan pergi tangannya di tahan oleh Zia.


"Kamu tidur di sini saja, Uno. Badan kamu pasti lelah dan tidur di sofa itu tidak nyaman."


"Aku tidur di sofa saja sekalian aku akan membereskan pecahan gelas itu."


"Besok saja di bersihkan, kamu pasti sangat lelah, tidur saja di sini. Kita hanya tidur saja tidak berbuat apa-apa, kamu jangan takut."


Uno akhirnya setuju dengan kakaknya. Mereka tidur seranjang, tapi berjauhan. Uno benar-benar menjaga jarak dengan kakaknya. Uno bahkan membelakangi kakaknya dan dia tertidur dengan lelap.

__ADS_1


'aku gagal lagi membuat Uno meminum obat itu. Apa besok Uno akan serius akan berbicara dengan ayah dan ibu? Aku tidak mau sampai berpisah dengan Uno. Uno tidak boleh meninggalkan aku.' Zia sedang berpikir mencari cara agar Uno tidak meninggalkan dia.


***


Keesokan harinya, Uno yang masih tertidur agak terganggu mendengar suara dari dalam kamar mandi.


"Apa itu kak Zia?" Uno beranjak dari tempatnya dan beranjak menuju kamar mandi. Uno melihat kakaknya sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandi.


"Uno, tolong ambilkan air minum."


"Kak Zia tidak apa-apa? Apa Kakak sakit?"


"Tolong ambilkan air minum dulu."


Uno berjalan menuju meja dan mengambil air minum yang biasa Zia sediakan. Uno memberikan segelas air minum pada kakaknya.


"Kakak sakit ya? Apa kita ke dokter saja?"


"Tidak perlu, aku baik-baik saja, tadi bangun tidur entah kenapa kepalaku rasanya pusing dan perutku mual."


"Kaki Kakak tidak apa-apa?"


"Masih sakit, tapi karena tadi perutku tidak enak aku langsung saja ke kamar mandi tanpa menghiraukan kakiku."


"Badanku benar-benar lemas dan tidak enak, Uno. Aku mau berbaring sebentar. Maaf, aku tidak bisa menyediakan kamu makanan." Zia berbaring dengan menggunakan selimut.


"Tidak apa-apa, Kakak istirahat saja dulu, aku nanti bisa makan di kantor. Kalau begitu aku mau mandi dan bersiap-siap dulu kalau begitu."


Uno mengambil bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama Uno keluar dengan celana kerjanya dan kaos putih polosnya. Uno melihat kakaknya yang masih terbaring di atas tempat tidur.


"Sepertinya Kak Zia memang tidak enak badan."


Tidak lama Uno mendengar suara bel pintu rumahnya di bunyikan oleh seseorang dari luar. Uno berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.


"Pagi, Uno."


"Ibu, Ayah? Kalian ada apa pagi-pagi ke sini?"


"Uno, Zia mana?" Arana masuk ke dalam. "Ibu membawakan kalian sarapan kesukaan kamu dan Zia."


"Iya, Zia mana?" Juna melihat sekeliling rumah.

__ADS_1


"Kak Zia sedang sakit, Bu."


"Sakit?"


"Ini pasti karena dia terlalu memikirkan kamu yang tidak bisa bersikap menerima semua ini. Dia setiap malam menunggun kamu yang tidak pernah pulang seolah menghindari kakak kamu."


"Juna," Arana berkata pelan pada suaminya.


"Huft! Ayah mencoba mengerti perasaan kamu, tapi kamu juga harus paham keadaan kamu dan Zia sekarang Uno."


"Yah, aku sudah sepakat dengan Kak Zia kita akan mengakhiri pernikahan ini. Kita berdua juga merasa tersiksa karena pernikahan ini."


"Apa?"


"Kak Zia yang memberi ide ini, kita akan menikah dalam beberapa bulan dan nanti kita bisa berpisah karena Kak Zia juga tidak tega melihat aku menderita begini."


"Kakak kamu begitu baik sama kamu. Sudahlah! Ayah tidak bisa bekata apa-apa. Mana Zia?"


"Dia ada di dalam kamar sedang beristirahat."


"Apa badannya panas, Uno?" tanya Arana.


"Tidak, Bu. Tadi pagi saat aku bangun tidur aku mendengar suara Kak Zia muntah-muntah di kamar mandi dan dia bilang badannya tidak enak serta kepalanya pusing. Aku menawarkan memanggil dokter, tapi kak Zia tidak mau, dia memilih untuk beristirahat saja."


"Apa? Muntah-muntah?" Arana melihat ke arah suaminya yang juga melihat ke arahnya.


Mereka berdua segera menuju kamar diikuti oleh Uno. Arana duduk di samping Zia.


"Zia, bangun, ini Ibu dan Ayah. Apa kamu baik-baik saja?"


"Ibu, Ayah, aku hanya tidak enak badan saja." Zia mengangkat tubuhnya duduk bersandar pada tepi ranjang.


"Zia, apa benar kamu tadi mual dan muntah-muntah?"


"Iya, Bu. Kepalaku juga pusing."


"Kita ke dokter saja, Kak. Aku bisa mengantar Kak Zia, lalu nanti Kak Zia ke rumah Ibu dulu sampai aku pulang."


"Iya, kamu harus ke dokter karena siapa tau kamu sedang hamil, Zia," terang Arana.


Jangan tampol dan benci author ya, ini cuma rintangan kecil menuju novel ini tamat. Piss

__ADS_1


"


__ADS_2