
Devon masih menggandeng tangan Sabinna dan kak Devon mencari di mana tempat duduk mereka.
"Itu tempat duduk kita." Mereka naik dan duduk di bangku nomor 5 dari depan, Devon menyuruh Sabinna duduk di tepi anak tangga, dan dia di sebelahnya, biar gak ada yang di samping Sabinna selain dia.
Beberapa menit kemudian film pun mulai di putar, entah kenapa tiba-tiba Sabinna merasakan hawa yang tidak enak. Belum apa-apa dia sudah berteriak kaget melihat film yang sedang diputar, Binna sampai menutup kedua matanya karena kaget.
"Kenapa, Binna? Kamu takut melihat film horor?" tanya Kak Devon yang melihat Binna menutup matanya.
Binna membuka matanya perlahan. "Film horor? Kenapa kak Devon mengajakku nonton film horor?"
"Memangnya kenapa? Bukannya tadi waktu aku tanya kamu bilang kita nontonya terserah film apa saja. Ya, aku memilih film horor."
"Ck! Kak Devon ini pernah kencan gak sih? Masak mengajak cewek berkencan nontonnya film horor, film romantis kan bisa, apa film komedi. Kakak sengaja, ya? Biar aku ketakutan dan akhirnya memeluk Kak Devon. Jangan harap!" ucapnya ketus.
__ADS_1
Kak Devon mengerutkan kedua alisnya. "Siapa yang berniat seperti itu? Tanpa melihat film horor pun, kamu naik motor juga suka memelukku." Kak Devon kembali melihat ke arah layar kacanya dan dengan santai makan pop cornnya.
Binna yang melihat sangat kesal. Dia melipat kedua tangannya ke depan. Sambil mencoba untuk tidak takut. Jujur saja, Binna ini agak penakut, apalagi dengan tontonan seperti itu.
'ih ...! andai bisa menggetok kepalanya, aku mau getok itu kepala kak Devon, bahkan aku ingin mencakar muka dingin dan songongnya itu,' ucapnya kesal dalam hati.
Binna bingung sendiri, dia benaran takut. apalagi suara film itu benar-benar membuatnya merinding. Binna mencoba menutup matanya dengan kedua tangannya karena takut.
"Argh ...!" Binna menyerah dan akhirnya memeluk lengan tangan kak Devon yang bersandar di tepian bangkunya. "Kak Devon aku takut," ucapnya kesal sambil tetap memeluk lengan tangan kak Devon.
Binna tidak memperdulikan, dia masih sembunyi di balik lengan tangan kak Devon. Tidak lama Binna kaget, karena Kak Devon tiba-tiba berdiri dan mengajak Binna keluar dari sana. "Kak, kita mau ke mana?"
"Katanya takut, yq sudah kita keluar saja, tidak perlu di teruskan untuk menonton sampai habis."
__ADS_1
"Tapi~."
Devon mengandeng tangan Sabinna dan mereka keluar dari ruang theater 1. Setelah keluar dari sana, Binna dengan cepat memukul-pukul dada Kak Devon dengan kesal. "Dasar! cowok kutub utara, kalau tidak bisa mengajak kencan seorang cewek, jangan sok-sokan mengajak aku kencan. Aku mau pulang!" ucapnya kesal plus marah.
"Aku kan tidak tau jika kamu takut, Binna. Kalau kamu bilang tidak mau melihat film horor, aku tidak akan memilihnya."
"Kak Devon menyebalkan!" Binna melipat tangannya kesal.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke apartemenku saja, kamu bisa menari pole dance dengan bebas di sana. Apa kamu mau?"
"Apa?! Kakak mau mengajak aku ke apartemen, dan menyuruhku menari pole dance di depan Kak Devon? Kaka Devon jangan berpikiran mesum denganku, Ya?"
"Mesum?" Devon bingung. "Maksud kamu apa? Aku tidak pernah berpikiran mesum denganmu, memangnya apa yang ada dipikiran kamu saat aku mengajak kamu ke apartemenku untuk menari pole dance. Binna, aku hanya ingin kamu tidak kesal lagi. Aku tidak punya pikiran apa-apa," ucap kak Devon tegas dan berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
Binna terdiam di tempatnya memikirkan kata-kata kak Devon barusan. "Kak Devon!" teriaknya sambil berlari mengejar kak Devon.
Wah! mereka bakal ke mana lagi kali ini? setelah nontonnya gagal.