Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Bazar Amal


__ADS_3

Binna semakin penasaran saja, kenapa kak Devon tidak melanjutkan kata-katanya. “Melihat apa, Kak? Apa yang sudah terjadi denganku?”


Binna semakin gelisah.


“Nico hampir melecehkan kamu, Binna. Tapi dia tidak berhasil karena aku dan Lila datang tepat waktu dan aku hajar pria brengsek itu sampai


dia bahkan tidak akan berani lagi untuk mendekati kamu. Andai saja Lila kemarin


tidak menghentikan aku, aku sudah buat dia menghilang selamanya dari dunia ini.” Sekali lagi Devon menggeram marah. Binna mukanya langsung lemas, bahkan air matanya menetes perlahan di pipinya.


Devon yang melihatnya langsung memeluk Sabinna dengan erat, di saat itulah Sabinna menangis dengan kencang dalam pelukan kak Devon. “Kenapa dia bisa sejahat itu sama aku, aku tidak pernah berbuat salah dengannya.”


“Semua bukan karena berbuat buruk, Binna, tapi memang dia seorang iblis, dia bukan manusia. Kamu tenanglah, mulai sekarang aku tidak akan


membiarkan terjadi apa-apa sama kamu. Dan aku pastikan kamu tidak akan melihat Nico


lagi.” Devon mengecup lembut pucuk kepala Sabinna.


“Terima kasih, Kak. Kakak sudah menyelamatkan aku sekali lagi. Lalu, bagaimana dengan Lila?”


"Aku tidak tau, aku berharap kali ini matanya terbuka dan tidak mengharapkan lagi cowok brengsek seperti Nico. Kalaupun dia masih mau menerima Nico, aku pastikan kamu tidak perlu lagi berteman dengan Lila. Aku tidak akan mengizinkannya.”


Binna hanya terdiam tidak mau membantah ucapan kak Devon. “Aku akan bicara dengan Lila nantinya, Kak. Aku akan memastikan dia akan melupakan kak Nico  karena kak Nico tidak baik untuk Lila, dia sama sekali tidak mencintai Lila.”


“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu dulu, lebih baik kamu pikirkan saja kesehatan kamu.”


“Iya. Kak, aku lupa nanti malam aku akan mengisi acara dikampus kak Uno, dan seharusnya hari ini aku ada latihan dengan kak Diandra di kampus.”


“Kamu mau menari di acara itu? Apa keadaan kamu sudah baik, Binna?”  Kedua alis Devon mengkerut.


“Itu acara bazzar amal, Kak. Dan aku mau membantu agar acara itu berjalan sukses, aku juga mau menyumbang sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan. Keadaanku sudah baik, kok, lagian aku tidak mau terlalu larut


dalam kesedihan ini. Aku tidak mau karena kejadian ini aku menjadi trauma untuk melakukan apa yang aku inginkan. Aku tidak mau dikalahkan dengan rasa takut ini.”


“Kamu ternyata sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Bahkan kamu juga bisa memberi aku anak,” bagian itu Kak Devon berbicara pelan.

__ADS_1


“Apa maksudnya? Aku mendengar kalimat terakhir yang Kakak ucapkan.”


“Memang aku bicara apa? Aku tidak bicara apa-apa?” elaknya.


“Aku kan memang dari dulu sudah dewasa. Kak Devon saja yang menganggap aku anak-anak.” Muka Binna di tekuk kesal. “Kak, aku mau ke kampus kak Uni. Apa Kakak mau mengantarkan aku?”


“Dengan senang hati, Binna. Aku akan mengantarkan kamu.  Tapi kamu habiskan dulu makanan kamu ini.” Devon menyuapkan sekali lagi makanan ke dalam mulut Sabinna.


“Kak, aku sudah kenyang, sudah, Ya?”


“Ya sudah kalau begitu.” Kak Devon memberikan segelas air, dan setelah minum, Devon mengusap lembut bibir Sabinna dengan lap. Devon mendekat ke arah Sabinna, dan mengecupnya pelan. “Aku sangat mencintai kamu, Binna.” Binna hanya bisa terdiam. “Dan sekali lagi kak Devon mengecupnya, kali


ini dengan cepat tapi beberapa kali.


“Sudah! Kenapa menciumi aku banyak sekali.” Binna langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kayaknya Binna mulai ketagihan ini dengan ciuman mau kak Devon.


“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Apa kamu lebih mau diciumi oleh Nico?”


Binna membuka tangannya. “Tentu saja tidak, kenapa Kak Devon malah mengingatkan aku dengan pria itu? Pokoknya aku tidak mau dicium siapapun. Kak Devon juga.” Binna berbaring dan menutup kepalanya dengan selimut.


“Katanya mau ke kampus? Kenapa sekarang jadi berbaring?”


“Aku tidak mau, aku kan berjanji akan menjaga kamu, jadi aku tidak mau meninggalkan kamu.”


“Jangan mulai, Kak. Kita, kan, belum menikah. Lagian aku ada di rumahku, jadi tidak akan terjadi apa-apa denganku nanti. Kak sekarang keluar dulu.”


“Ya sudah, aku akan keluar, aku akan menunggu kamu di bawah.” Kak Devon membawa nampan berisi piring kotor dan turun ke bawah.


“Cowok itu menyebalkan, tapi kenapa aku mulai menyukainya?” Binna tersenyum sendiri.


Di kampusnya, Uno mengajak Diandra bertemu dengan teman-temannya. Teman-teman Uni tampak antusias ingin berkenalan dengan


Diandra, karena bagaimanapun juga, meskipun Diandra tidak bisa melihat, tapi dia memang gadis yang sangat cantik.


“Uno, ini siapa kamu?”

__ADS_1


“Dia anak dari sahabat ayahku. Namanya Diandra, dan dia akan mengisi acara musik di sini, seperti yang aku bilang waktu itu.”


“Oh, jadi dia pianis yang tidak bisa melihat itu?” celetuk salah satu temannya. Uni tiba-tiba melayangkan jitakan di kepala temannya itu. “Maaf, aku hanya memastikan saja, aku tidak bermaksud menghina, Uno.”


“Tidak apa-apa, aku tidak marah, aku memang tidak bisa melihat, dan aku menganggap kekuranganku ini sebagai anugrah.”


“Tapi walaupun kamu tidak bisa melihat, kamu memiliki bakat dan kecantikan yang sempurna Diandra.”


“Dia sudah punya kekasih,” ucap Uno cepat, padahal tidak ada yang tanya apa Diandra sudah punya kekasih atau belum.


“Kamu kenapa? Aku saja belum tanya dia punya kekasih atau belum? Tapi kalau sudah punya kekasih, sangat di sayangkan, aku tidak bisa usaha,” ucap teman Uno kecewa.


“Walaupun Diandra belum punya kekasih, aku tidak akan membiarkan kamu mendekatinya. Dasar! Playboy sok ganteng.”


“Memangnya kamu tidak? Dasar! Palyboy yang memang ganteng,” ucapnya sekali lagi malas. Diandra yang mendengar tersenyum kecil.


“Diandra, aku akan mengajak kamu ke tempat di mana kamu nanti akan  tampil.” Uno menggandeng tangan Diandra dan membawanya pergi dari sana.


Teman-teman Uno yang melihat merasa ada sesuatu diantara mereka. Apalagi sikap Uno yang seolah perhatian sekali dengan Diandra.  “Apa gadis itu akan menjadi korban selanjutnya si playboy tampan itu?” salah satu teman Uno menyeletuk.


Di tempat itu, ternyata Uno sudah mempersiapkan sebuah piano besar dan dia tutup dengan kain hitam. Diandra berdiri dan membayangkan dia bisa melihat suasana di sana , saat Uno menjelaskan tentang dekorasi yang ada di sana.


“Pasti sangat indah nantinya. Andai aku bisa melihatnya, Uno.”


“Akan sangat indah jika melihat kamu dan Binna tampil bersama di sana. Aku yakin, kalian berdua akan menjadi bintang  dalam acara ini.” Uno memeluk Diandra dari belakang.


“Uno, jangan memelukku begini, nanti kalau ada yangg melihat bagaimana? Di sini juga ada kak Zia.”


“Kamu jangan khawatir, kakakku sedang berada di ruang dosen untuk mengurusi skripsinya, kamu tenang saja.” Uno malah memeluknya erat.


“Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan tentang menjadi terbaik di sebuah acara, yang aku pikirkan adalah, aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, karena bagiku itu hal yang paling indah dibanding


harus mendapat pujian dan tepuk tangan dari orang-orang.”


“Aku mencintaimu, Diandra.” Uno mengecup pipi Diandra.

__ADS_1


“Uno, Kamu--," Suara seseorang tiba-tiba datang.


Maaf kalau tulisannya rada aneh, aku nulis di laptop soalnya


__ADS_2