Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hari Pernikahan part 1


__ADS_3

Sesampai dia rumah Uno langsung menuju ke dalam rumah mencari Diandra, dia juga naik ke kamar atas untuk memeriksa apa Diandra ada di dalam kamarnya. Ternyata Diandra tidak ada di dalam kamarnya. Uno turun dan bertanya pada salah satu pelayan di sana.


“Memangnya Diandra sudah pulang ke sini?” tanya Zia pura-pura tidak tau.


“Iya, tadi dia bilang akan pulang dan mengemasi barang-barangnya,” jawab Uno.


Arana yang mendengar hal itu takut jika Zia mengetahui tentang hubungan Diandra dan Uno. Padahal Zia sebenarnya sudah tau tapi kembali lagi, di bersikap seolah-olah tidak tau.


“Mungkin dia langsung kembali ke dengan Mara, Uno.”


“Kenapa Diandra tidak menghubungi ponsel Ibu saja kalau dia sudah pulang dan membereskan barang-barangnya? Kenapa malah menghubungi kamu?” Zia ini memang suka memancing masalah.


“Tadi mungkin dia menghubungi Ibu, tapi karena ponsel ibu mati jadi dia menghubungi Uno. Ya sudah kamu istirahat dulu saja Zia. Ibu mau menyiapkan makan siang untuk kalian.


“Ya sudah, aku mau ke kamarku dulu kalau begitu, Bu.” Zia naik ke lantai atas kamarnya.


Arana melihat Zia yang sudah naik ke lantai atas. Setelah itu dia mendekat ke arah Uno. “Uno, apa kamu tidak bisa berusaha tidak menunjukkan perasaan kamu terhadap Diandra. Ibu tidak masalah sebenarnya, tapi tolong jaga perasaan Zia. Dia tidak tau kamu dan Diandra memiliki hubungan, apalagi kalian akan menikah.”


“Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan, Bu. Aku sangat mencintai Diandra, dia akan kembali ke Kanada setelah aku menikah dengan Kak Zia.” Uno mengelap mukanya kasar, Uno tampak benar-benar frustasi.


“Sayang, maafkan Ibu. Ibu dan ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Semua ini harus terjadi dan kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” Arana memeluk putranya itu. Binna dan Devon tadi sudah pulang saat Arana dan Uno akan pergi ke butik.


“Kenapa semua ini bisa terjadi? Aku sudah merencanakan pernikahan aku kelak dengan Diandra, aku sangat mencintainya, Bu.”


“Mungkin memang kamu dan Diandra tidak di takdirkan bersama.”

__ADS_1


Dari lantai atas Zia melihat pembicaraan mereka dia malah tersenyum dengan licik. “Memang Uno hanya di takdirkan denganku, Bu, dan ibu harus menerima aku sebagai menantu kalian, bukan lagi sebagai anak yang kalian pungut, bahkan menjadi kakak bagi Uno.” Zia tersenyum bahagia dan pergi dari sana.


Tidak lama Diandra masuk dan merasa ada orang di sana. Uno melihat sosok yang dia cari dari tadi, dia langsung memeluk Diandra. Arana yang melihatnya agak takut, takut jika Zia melihat hal itu dan bertanya sesuatu.


“Uno, jangan begini.” Diandra mencoba melepaskan pelukan Uno.


Uno menolak tangannya dilepaskan dari tubuh Diandra. “Biarkan aku memeluk kamu dulu, aku ingin menenangkan dan menguatkan hati untuk bisa sekuat kamu.” Diandra yang mendengarkan ucapan Uno membiarkan Uno memeluknya. Arana yang melihat hal itu memilih untuk pergi dari sana. Arana memberi waktu untuk mereka bersama.


Setelah beberapa menit kemudian, Uno baru melepaskan pelukannya. Uno memandang wajah sayu dan terlihat mata sembab Diandra.


Kemarin saat di rumah Mara, Diandra menangis semalaman di dalam kamarnya dan keesokan harinya dia ditanyai oleh ayahnya kenapa matanya seperti itu. Dia beralasan jika dia merindukan mamanya, tapi dia sangat senang karena sebentar lagi dia akan memiliki mama baru yang juga sangat dia cintai. Diandra juga mengatakan jika dia bersedih karena akan berpisah dan kembali ke Kanada.


“Apa kamu menangis semalaman?” tanya Uno mengusap lembut kedua mata Diandra.


“Aku menangis untuk membuat diriku sendiri kuat menerima semua ini, Uno, dan aku sekarang sudah bisa merelakan kamu dan semua yang akan terjadi. Kamu akan menikah dengan wanita yang baik dan tepat seperti Kak Zia.”


“Apa maksud kamu?” Diandra tampak heran dengan pertanyaan Uno.


“Aku kemarin sudah bicara dengan Kak Zia. Dia malah yang memberin ide ini sama aku.”


“Ide apa?”


“Setelah kita menikah selama enam bulan, kita akan berpisah. Aku bisa memulai kehidupan baruku dengan kamu dan kak Zia juga akan memulai kehidupan barunya.”


“Apa? Kalian mau mempermainkan suatu pernikahan? Itu tidak benar, Uno!”

__ADS_1


“Aku tau, tapi aku dengan kak Zia sudah memutuskan hal ini, apalagi pernikahan ini seharusnya tidak terjadi. Kak Zia juga tidak berharap menikah denganku, hanya saja dia tidak bisa menentang ayah dan dia juga tidak ingin mendapat malu dengan semua kejadian itu. Kak Zia sadar dia tidak ingin membuat aku menderita.”


“Aku tidak tau, Uno. Aku tidak mau menjadi orang yang jahat ikut dalam permainan yang kalian rencanakan, apalagi sebuah pernikahan adalah hal yang sakral. Aku takut jika nanti aku di tuduh perebut suami orang karena menunggu kamu berpisah dengan kak Zia.


“Tidak ada yang akan menganggap kamu begitu. Kak Zia dan aku juga tidak akan bisa hidup bahagia selamanya dengan pernikahan ini.” Uno mememgang tangan Diandra.


“Uno, aku tidak tau harus berkata apa, aku mencintai kamu dan aku akan mendoakan selalu untuk kebahagiaan kamu. Jika nantinya kita bisa bersama lagi aku juga tidak tau, tapi untuk saat ini aku hanya akan mendoakan yang terbaik untuk kamu dan diriku sendiri.”


***


Hari yang ditunggu semua orang akhirnya tiba. Eh Ralat! Sebenarnya hari yang di tunggu oleh Zia sendiri, yaitu hari pernikahan dirinya dengan pria yang sangat dia cintai. Zia tampak berdiri di depan cermin di dalam kamarnya, terlukis senyum merekah di bibirnya.


“Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, hari pernikahan aku dengan Uno dan mulai sekarang tidak akan ada yang akan mengambil Uno dariku lagi, bahkan si buta itu akan segera pergi dari rumah dan negara ini. Em ... indah sekali hidup yang aku jalani dengan Uno. Kita akan bahagia dengan anak-anak yang nanti akan aku lahirkan dari Uno."


Tidak lama terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Zia langsung memasang wajah sedihnya. Dia tidak mau dikira bahagia dengan pernikahan ini karena dia lah korban dalam kejadian itu.


Author sebel deh sebenarnya, tapi ini memang ******* dari cerita ini sebelum happy ending.


“Zia, apa kamu sudah siap?” suara Arana yang masuk ke dalam kamar Zia.


“Bu, apa benar ini harus terjadi? Aku benar-benar ingin memutar waktu dan berharap kejadian itu tidak akan pernah terjadi.”


“Sudahlah, Zia. Kamu jangan menangis, ini adalah hari bahagia kamu, dan kamu harus terlihat bahagia. Ibu juga sebenarnya sangat bersedih dengan semua ini. Kedua anak ibu harus meninggalkan rumah dan membina rumah tangga sendiri, di mansion ini akan menjadi sepi.”


“Kalau ibu mau aku akan tinggal di sini dengan Uno.”

__ADS_1


“Tidak perlu, ayah kamu ingin kalian tinggal di rumah pribadinya.” Alasan sebenarnya Juna karena dia tidak mungkin bisa melihat kedua anaknya yang awalnya sebagai kakak adik sekarang harus menjadi suami istri, pasti akan terlihat aneh di depan matanya.


__ADS_2