
Binna tersenyum pada pasangan tarinya, pasangan tari Binna adalah penari yang sudah sering memenangkan kejuaraan tari salsa, dia juga teman satu sekolah sama Binna, tapi Binna lebih senang dengan tarian modern, Binna baru ini saja belajar menari salsa karena ingin ikut mengisi acara di prom night itu.
"Aku ingin sekali bisa menjadi penari profesional seperti kamu, Mo," ucap Binna.
"Kamu pasti bisa, Binna. Aku melihat kemapuan kamu dalam menari, dan semangat kamu, aku yakin kamu pasti bisa nanti memenangkan kompetisi tarian modern nantinya." Tangan pria jangkung itu memegang pundak Binna.
"Binna, ini handuk dan air minum kamu." Sebuah tangan mengulur pada Sabinna, Sabinna menoleh dan dia melihat cowok yang tidak dia harapkan.
Pasangan tari Binna melihat ke arah Devon, yang berdiri di sana. "Wah! kamu tampan sekali. Apa dia pacar kamu, Binna? Tapi aku dengar, kamu bukannya dekat dengan Lukas, si cowok lembut itu," cerocosnya.
"Em ... sudah Momo." Binna tampak bingung. "Aku mau pulang dulu, sampai jumpa minggu depan." Binna memeluk cepat Momo dan dia pergi sambil menggandeng tangan Devon.
Binna berhenti di depan sofa panjang di mana dia meletakkan tasnya, tanpa dia sadari dia masih menggandeng tangan Kak Devon. "Kamu kangen sama aku, Ya?" celetuk Devon.
"Siapa yang kangen? Lagian, Kak Devon ngapain masuk ke sini? Kan bisa tunggu aku di luar saja," ucapnya ketus.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak mau mereka tau aku calon suami kamu? Bukannya kamu sendiri yang ingin menunjukkan aku calon suami kamu."
"Maksud Kak Devon?" Tanya Binna bingung, Mata Devon seketika melirik pada tangannya yang masih di pegangi oleh Binna. "Ya Ampun!" Binna dengan cepat melepaskan tangannya dan mukanya di tekuk kesal. "Maaf, Aku tidak sengaja, aku tadi niatnya--?"
"Ya sudah, ayo kita pergi. Aku mau mengajak kamu pergi ke suatu tempat." Tiba-tiba dengan cepat Devon malah gantian menggandeng tangan Sabinna.
"Eee ... kita mau ke mana? Aku mau pulang!" Binna ingin berontak, tapi apalah daya dia tetap di geret tangannya oleh Devon sampai di depan motornya. "Kak Devon, aku mau pulang, nanti kalau ibuku menunggu bagaimana?"
__ADS_1
"Aku sudah meminta izin sama ibu kamu untuk mengajak kamu pergi ke suatu tempat."
"Memangnya ibuku mengizinkan?" tanyanya dengan menantang.
"Menurut kamu? Apa ibu kamu tidak akan mengizinkan kamu pergi dengan calon suami kamu?"
Binna langsung terdiam, dia sudah tau jawabannya, tidak mungkin ibunya melarang Devon membawa Sabinna. "Sudah naik! kamu menghabiskan waktu saja!" ucap Devon ketus.
Binna mau tidak mau menurut saja, dia naik ke atas motornya. Devon kali ini membelikan lagi satu helm untuk Sabinna. "Apa kamu tidak membawa jaketku?"
"Jaketnya aku cuci, apa aku harus membawanya tiap hari?" jawab Binna ketus.
"Ya sudah nanti aku berikan lagi dua jaketku supaya bisa kamu pakai jika naik motor denganku."
"Tidak perlu! Lagian Kak Devon apa tidak punya mobil? Kenapa selalu memakai motor, aku kan takut naik motor."
"Sabinna memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada punggung Devon. Sepanjang perjalanan Sabinna dan Devon tidak saling bicara, Binna malah menikmati udara sejuk siang hari yang tidak terik itu menyentuh tubuhnya. Sedangkan Devon fokus pada jalanan. Author kok jadi pengen di bonceng. Ee ...
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah tempat mereka memasuki basement sebuah apartemen, apartemen di mana Devon membawa Sabinna terletak agak jauh dari keramaian, sepertinya ini baru di bangun, tapi jika di lihat ini termasuk apartemen yang mewah, tempat di luarnya sangat indah dengan ada taman dan danau yang indah.
"Ayo turun, Binna."
Binna menarik tubuhnya melihat sekelilingnya. Binna sengajak tidak menutup kaca helmnya "Ini di mana, Kak Devon? Seperti parkiran?" Binna tampak bingung. "Hoam ...!" Binna malah menguap.
__ADS_1
"Kamu mengantuk? Kalau kamu mengantuk kamu nanti bisa tidur di dalam apartemen kita," ucap Devon sambil melepaskan helm yang di pakai Binna.
"A-apa?! Apartemen kita? Ma-Maksud kak Devon apa?" Tanya Binna sampai terbata-bata."
"Sudah turun dulu lalu ikut aku." Binna turun dan sekali lagi Devon menarik tangan Binna, Binna yang kekeh malah mencoba bertahan tidak mau di bawa masuk. "Binna kamu kenapa? Ayo ikut aku sebenatar," ucap Devon agak kesal melihat tingkah laku Binna.
"Tidak mau! Aku mau pulang, kenapa kak Devon membawaku ke apartemen ini? Kak Devon mau apa?" Muka Binna malah ketakutan.
Devon melepaskan tangan Binna dan berjalan perlahan mendekat ke arah Binna dengan tatapan yanh bina ngeri melihatnya, Binna mundur perlahan, sampai dia menabrak motor Devon dan tidak ada tempat untuk mundur lagi. "Kak Devon jangan macam-macam, aku teriak ini!" acam Binna sambil tangannya memeluk tasnya untuk dijadikan perisa tubuhnya.
"Untuk apa aku macam-macam sama kamu? Nanti kalau kita sudah menikah, aku bisa mendapat semuanya dari kamu. Sekarang ikut aku! Atau mau aku gendong secara paksa!" ucap Devon dengan nada tinggi.
Binna mengerucutkan bibirnya. Lalu Devon menggandeng tangan Binna dan kali ini Binna mau menurut. Devon mengajak Binna masuk ke sebuah lift dan akhirnya mereka berhenti di lantai 25, pintu lifr terbuka dan mereka berjalan menyusuri lorong yang tertata sangat rapi dan terlihat mewah. Mereka sampai di depan sebuah pintu dan Devon menempelkan id cardnya, dan pintu itu terbuka.
"Binna, masuklah." Devon melepaskan tangangnya dan dia masuk dulu, Binna masih berdiri di depan pintu aparatemen Devon.
"Ini punya Kak Devon?" tanya Binna yang masih berdiri diluar pintu apartemen.
Devon yang melihatnya sangat gemas dengan kelakuan Sabinna. Dia berjalan menghampiri Sabinna dan dengan cepat menggendong Sabinna ala karung beras dan membawanya masuk ke dalam, meletakkannya di atas sofa panjang berwarna hitam. "Diam di sini!" Devon menatap Sabinna, yang tepat berada di bawahnya, Sabinna juga menatap mata Devon dengan lekat.
"Aku ingin menunjukkan apartemen yang nanti akan kita tinggali setelah kita menikah." Devon menarik dirinya berdiri dengan tegas di depan Sabinna. Sabinna yang perlahan mulai tidak takut dia juga berdiri di samping Devon. Binna mengedarkan pandangannya melihat sekeliling isi dari apartemen itu.
"Ini apartemen kita? Kapan Kak Devon menyiapkannya?" tanya Binna heran.
__ADS_1
"Sudah lama, sebenarnya ini hadiah dari kakekku, dan aku yang perlahan-lahan menabung untuk melengkapi isinya. Ayo ikut aku." Devon menggandeng tangan Binna dan mengajak Binna naik ke lantai atas. Sepertinya mereka menuju kamar utama di apartemen itu.
Waduh ...!