
Binna yang sudah selesai berganti baju, dia merapikan gaun dan rambutnya. "Gaun ini memang sangat cantik, dan aku kenapa kelihatan cocok sekali memakai ini? Si kutub utara itu ternyata pilihannya sangat pas untukku. Aku heran? Kenapa dia bisa memilihnya?" Binna berdialog sendiri di depan cerimin.
Binna keluar dari dalam ruangan gantinya, dia kemudian berjalan menuju kamar mandi dulu. "Hai, Binna," sapa seseorang di sana.
Binna berhenti, dia melihat kekasih Lila berdiri di sana. "Kak Nico, Lila ada di mana?" Binna mengedarkan pandangannya mencari Lila.
"Dia masih di ruang utama."
"Oh, ya sudah! Permisi, aku mau masuk ke toilet."
"Binna, tunggu! Aku mau bicara sebentar sama kamu." Tiba-tiba Nico memegang tangan Sabinna. Binna agak terkejut dan dengan cepat dia melepaskan tangan Nico.
"Ada apa, Kak? Kalau mau bicara, bicara saja, tidak perlu memegang tanganku begini." Wajah Binna sudah tampak tidak suka saja.
"Binna, jujur saja, sejak pertama aku berkenalan sama kamu, aku selalu membayangkan wajah kamu. Kamu sangat cantik, apalagi saat kamu tadi menari benar-benar mempesona." Tangan Kak Nico mengusap lengan Binna.
__ADS_1
"Kak Nico ini bicara apa, Sih? Kak Nico sadar tidak dengan ucapan Kakak barusan. Aku ini sahabatnya Lila, dan Lila adalah kekasih kak Nico."
"Aku tau, tapi aku tidak mencintai Lila, aku sudah bosan dengannya. Waktu itu aku mengatakan cinta karena berpikir Lila gadis yang menyenangkan, tapi ternyata dia gadis yang membosankan. Tapi kamu, kamu beda Sabinna. Kamu sangat mempesona, aku bahkan tidak bisa melupakan kamu, Binna."
"Kak Nico jangan bicara sembarangan, Lila itu gadis yang baik dan menyenangkan, kakak itu yang tidak bisa melihat hal baik dalam diri Lila. Dia mencintai Kak Nico. Lila sering bercerita tentang Kak Nico."
"Tapi aku sudah bosan sama Lila. Binna, aku menyukai kamu, aku ingin kita bisa lebih dekat." Kak Nico malah mendekat ke arah Binna. Kebetulan di sana juga lagi sepi. Binna memundurkan langkahnya kebelakang.
"Kak! Aku sudah punya kekasih, dan aku akan menikah dengannya. Jadi kakak jangan berpikiran aneh-aneh."
"Siapa? Si muka es itu? Ayolah Binna. Aku itu masih jauh lebih baik dari kekasih kamu itu. Aku bisa lebih menjadi kekasih yang menyenangkan daripada si muka es itu."
"Binna, dengarkan aku dulu!" lengan tangan Sabinna ditarik oleh Kak Nico saat Binna mau pergi dari sana."
"Lepaskan!" Binna berusaha melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Binna, dengarkan aku dulu, aku ingin bicara sama kamu, aku bersungguh-sungguh ingin dekat dengan kamu, Lila tidak akan tau akan hal ini."
Binna dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya dan berlari pergi dari sana.
Bruk ...
"Aduh!" Binna menabrak seseorang saat berlari dari sana.
"Binna, kamu tidak apa-apa? Kenapa berlarian seperti anak kecil?" suara seseorang membuat Binna melongo melihat siapa yang dia tabrak.
"Kak Devon? Kakak kenapa ada di sini?" Binna tampak kaget dan bingung.
"Aku mencari kamu, Binna. Kamu tidak apa-apa? Kenapa muka kamu seperti orang ketakutan?"
"A-aku tidak apa-apa. Ayo, Kak, kita kembali ke ruang utama."
__ADS_1
Devon mengusap pipi Sabinna. "Katakan padaku, Binna. Ada apa? Apa ada hal yang mengganggu kamu?" Devon menatap lekat pada Sabinna.
Sabinna hanya diam, dia tidak mungkin menceritakan tentang perlakuan Kak Nico pada Kak Devon. Bisa-bisa Kak Devon nanti marah, dan kalau sampai hal ini di ketahui Lila, Lila pasti akan sedih.