
Hampir satu jam lamanya Binna menunggu kedatangan Lukas, tapi orang yang dia tunggu tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali, baunya juga tidak tercium. Wkaakaka author ... author.
"Binna, apa kamu sudah memberitahu Lukas jika kamu mau memperkenalkan dirinya dengan kedua orang tua kamu?" tanya Arana.
Binna yang yang sedanf berdiri tepat di depan perbatasan antara ruang keluarga dan ruangan lainnya sampai tidak mendengarkan pertanyaan ibunya, Binna tampak cemas, beberapa kali dia menautkan jari jemarinya.
"Binna, ibumu sedang bertanya sama kamu, Nak," panggil Juna.
"Apa, Yah?" Binna baru sadar jika kedua orang tuanya sedang bertanya sama dia.
"Anak ini! apa kamu sudah bilang sama Lukas jika hari ini ibu dan ayah mau bertemu dengannya?" ulang Arana sekali lagi.
Binna mengangguk perlahan. "Aku sudah bilang sama Lukas, Ibu. Dia bilang dia pasti akan datang, tapi aku tidak tau dia kenapa tidak datang, apa terjadi sesuatu sama dia?" Binna mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Lukas, tapi tidak tersambung.
"Bagaimana? apa Lukas menjawab panggilan kamu?" tanya Arana lagi.
Sekali lagi binna menggeleng. "Ponselnya mati, Bu. Aku tidak tau mungkin dia sedang ada urusan penting."
"Apa kamu tidak penting, Sayang? Huft!" Arana menghela napasnya pelan. "Ibu bukannya tidak mau memberi kesempatan sama kamu, tapi ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu."
"Dia mungkin sedang ada masalah, atau ada urusan penting, Bu. Lukas benar-benar orang yang sangat menyayangiku, percayalah padaku, Bu," ucap Binna meyakinkan.
"Buktinya apa, Nak. Sudahlah! kenapa ibu merasa kamu sekarang seolah-olah tidak menjadi Sabinna yang percaya dengan ibunya." Arana terlihat kesal, dia beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi dari sana.
__ADS_1
"Ibu!" panggilnya, tapi Arana tidak mendengarkan.
Juna berdiri dan memeluk putrinya itu. "Ibumu, sangat menyayangi kamu, bahkan kalau ada yang meminta nyawanya untuk menggantikan kebahagiaan buat kamu, dia akan memberikannya. Menurut ayah ini, Sayang. Devon pria yang baik, apalagi mamanya dan Ibu kamu sudah kenal lama, mamanya Devon juga sangat menyukai kamu, apalagi ibu kamu dan mamanya Devon sudah pernah berjanji akan menjodohkan kalian, kalau janji itu tidak terlaksana, takutnya hubungan mereka akan tidak baik."
"Kenapa begitu egois, Sih?! aku kan tidak menyukai pria itu, ya walaupun dia ganteng, dia kayak vampire. Dingin!" serunya kesal.
Lah ... itukan bapaknya wkakakka. Makhlum, Binna kan gak tau emaknya dulu sering memanggil ayahnya Vampire.
Juna menunjukkan senyum kecilnya, ini kenapa putrinya mirip sekali sama ibunya? tapi memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Bukan egois, Binna! Ibumu tidak akan melanjutkan perjodohan kamu dan Devon, jika Ibumu tidak yakin dengan Devon. Sudah, pikirkan lagi. Ayah mau menenangkan ibu kamu dulu." Juna mengecup kening putrinya dan meninggalkan Binna sendirian di sana.
Binna masih memikirkan tentang Lukas yang tidak datang ke rumahnya, ada apa dengan Lukas. Besok aku akan bertanya dengan dia di sekolah." Binna berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia menaiki anak tangga satu persatu.
"Tidak perlu seperti ini, Cerry, tidak enak di lihati orang-orang. Lagian kamu kenapa mengajakku ke restoran semahal ini, kita bisa makan di restoran biasa saja."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku kan bilang mau merayakan hari di mana kita bisa kembali bersama lagi. Hubungan kita yang sempat terjadi masalah bisa kembali baik. Dan aku yang akan membayar semua ini."
"Bukan masalah membayarnya, aku juga bisa membayar semua ini, hanya saja aku tidak suka dengan hal yang berbau kemewah seperti ini." Muka Uno sudah tidak enak di lihat.
Dengan cepat tangan Cerry memegang tangan kekasihnya itu. "Uno, maaf, aku tau kamu tidak suka hal-hal begini, tapi aku hanya ingin merayakan hal yang bagiku istimewah di tempat yang istimewah juga.
Uno menarik tangannya. "Ya sudah kita makan lagi, habiskan makana kamu dan kemudian kite pergi dari sini." Uno kembali menikmati makanannya.
__ADS_1
Tidak lama meja mereka di datangi oleh seseorang, seorang pria dewasa dengan baju kemeja putih dan celana hitam itu berdiri di samping meja Uno dan Cerry.
"Hai, Sayang! kamu kenapa bisa ada di sini?" sapanya pada Cerry. Cerry yang tidak merasa kenal dengan pria itu berdiri dari tempatnya, dia menatap bingung pada pria itu.
"Maaf, kamu siapa? aku tidak kenal kamu?" Cerry merasa bingung melihat pria di depannya, kemudian dia melihat ke arah Uno. "Uno, aku benaran tidak kenal dengan dia."
Uno akhirnya juga berdiri di sana, dia menatap pria itu tajam. "Maaf, siapa kamu? dan apa kamu memang kenal dengan pacarku, Cerry?" tanya Uno.
"Tentu saja aku kenal, tapi tunggu." Mata pria itu melihat aneh pada Uno. "Kamu bilang pacar? bukannya Cerry bilang dia tidak memiliki pacar, maka dari itu aku mendekatinya, dan aku adalah kekasih Cerry." Pria itu memandang tidak percaya pada Cerry. Pun dengan Cerry malah kaget mendengar apa yang barusan di katakan pria itu."
"Kamu jangan bicara sembarangan! aku tidak kenal sama kamu! Uno, aku tidak kenal dia, kamu tau kan aku tidak pernah selingkuh dari kamu, aku sangat mencintai kamu, Uno! dan aki tidak akan berbuat hal bodoh di mana aki bisa kehilangan kamu. Dengar, Ya? aku tidak kenal kamu dan jangan merusak hubunganku dengan kekaaihku!" bentak Cerry marah dan semua yang ada di sana seketika melihat ke arah meja Uno.
"Ck! hebat sekali kamu berakting tidak mengenalku, baiklah! aku tidak akan mengganggu kalian, tapi urusan kita belum selesai, Sayang. Kamu yang mengingikanku, dan bukan kamu yang harus mengakhiri," ucap pria itu tegas dan pergi dari sana dengan muka kesalnya.
Sekarang tinggal Uno dan Cerry yang ada di sana, Uno masih memandang ke arah Cerry dengan rahang yang mengeras. "Uno aku benaran tidak kenal dengan dia!" Cerry berusaha mendekati Uno.
Uno hanya memberikan senyuman tidak percayanya, dia dua kali ini mendapatkan teguran dari pria lain yang mengira Uno jalan dengan pacarnya, dulu dia pernah, dan sampai terlibat perkelahian, yang akhirnya di menangkan oleh Uno tentunya. Uno tidak tau jika cewek yang menyatakan cinta pada Uno sudah punya pacar.
Dan akhirnya cewek itu diputus Uno dengan tidak hormat. Wakakka. Emang kerjaan?
Uno duduk kembali di kursinya, dia menghabiskan sisa orange jusnya yang tinggal separuh dan tangannya seolah memanggil pelayan restoran itu. "Uno, kita bisa bicara dulu," ucap Cerry yang mendekati Uno, tapi Uno langsung mengangkat telunjuknya seolah menyuruh Cerry diam.
Pelayan itu memberikan billnya dan Uno mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pada pelayan itu lalu pergi dari sana diikuti oleh Cerry.
__ADS_1