
Pagi itu Arana membantu Uno membereskan baju-baju dan segala keperluannya yang akan di bawa ke rumah pribadi Juna. Selain Uno dan Zia tinggal di sana, nanti Uno akan kuliah sambil bekerja di perusahaan ayahnya
untuk belajar menjalankan bisnis ayahnya.
“Bu, apa ayah benar-benar marah denganku? Apa tidak boleh aku tinggal di sini saja dulu?”
“Ayah kamu ingin kamu segera hidup mandiri dengan Zia, jadi ayah kamu ingin kamu tinggal di sana bersama istrimu. Uno, ibu tau kamu sangat mencintai Diandra, tapi tolong mulai sekarang lupakan Diandra karena sekarang
Zia adalah istri kamu, jadi tolong hormati dia sebagai istri kamu walaupun kalian sudah sangat dekat sebagai kakak dan adik. Kamu mengerti maskud ibu, Uno?”
“Iya, Bu.”
Setelah semua selesai. Mereka semua berangkat ke rumah pribadi milik Juna, hanya Juna yang tidak ikut karena dia akan pergi ke kantor. Binna dan Devon menemani Ibu Arana mengantar Uno dan Zia. “Rumah ayah di sini
sangat indah ya, Bu?” tanya Binna yang memang baru pertama datang ke sana.
“Iya, di sini kenangan ayah dan Ibu berada, sebenarnya ayah kamu dulu ingin tinggal di sini, tapi Ibu ingin kita tinggal di mansion karena kasihan dengan kakek Bisma yang hanya tinggal dengan paman Tommy dan ibu Tiara.”
“Aku sangat menyukai rumah ini. Rumah ini sangat nyaman dan indah,” puji Zia.
Semua mengagumi rumah pribadi Juna. Hanya Uno yang masih terfokus pada ponselnya, dia ingin sekali menghubungi Diandra, tapi dia tau Diandra masih di dalam pesawat karena perjalanan antara Indonesia ke Kanada membutuhkan waktu yang lama.
“Kebutuhan kalian di sini sudah ibu sediakan beberapa hari yang lalu, Zia bisa membuatkan kamu makanan dari bahan-bahan yang sudah tersedia.”
Setelah beberapa jam di sana. Arana izin pulang dan Devon mengantar ibu mertuanya untuk kembali ke rumah. Di dalam perjalanan, tidak sengaja Binna melihat pria yang selalu bersama dengan Zia sedang duduk santai
menikmati secangkir teh di cafe yang ada di tepi jalan.
“Kak, berhenti sebentar.”
“Ada apa, Binna?” Kak Devon menghentikan mobilnya. Arana juga tampak bingung.
“Ibu lihat pria yang duduk di sana?” Binna menunjuk pria yang ada di cafe itu. Kebetulan juga pria itu duduk di meja depan luar dari cafe itu.
__ADS_1
“Iya, memangnya kenapa?”
“Dia yang aku lihat sering bertemu dan berbicara dengan Kak Zia. Bahkan dia yang tertangkap kamera CCTV yang ada di hotel itu, tapi Kak Zia selalu bilang di orang EO. Entah kenapa aku tidak percaya jika dia EO.”
“Lalu kamu mau apa, Binna?” tanya Arana.
“Aku mau bertemu dengan orang itu dan bertanya langsung sama dia, aku bilang saja jika aku mau menyewa EO nya, aku juga ingin tau dia benaran EO apa bukan.”
“Sayang, kamu yakin mau melakukan itu?”
“Iya, Kak Devon.” Binna keluar dari dalam mobil dan suaminya tampak ikut kleuar dari dalam mobil. Dari kejauhan pria itu yang mengenali
Binna dan Devon segera beranjak dari tempatnya, dia pura-pura pergi dari cafe
itu setelah meletakkan cangkir yang di bawanya. Dia berjalan agak cepat karena
tau Binna pasti mau mengintrogasinya.
“Hei, tunggu!” teriak Sabinna. Namun, pria itu malah melangkah lebih cepat dan pura-pura tidak mendengar panggilan Sabinna.
“Dia larikan? Itu artinya dia punya salah, dan sedang mentutupi sesuatu, aku yakin itu.” Binna terlihat kesal sekali tidak mendapatkan pria itu.”
Kak Devon mengajak Binna kembali ke dalam mobil dan Arana tampak bingung dengan sikap putrinya itu. “Binna, kamu kenapa malah mau
mengejar pria itu?”
“Aku curiga sama pria itu, kak. Aku mau bertanya sama dia tentang Kak Zia. Dia pasti tau akan semua yang dilakukan Kak Zia.”
“Binna, kamu jangan curiga terus dengan kakak kamu Zia. Kalau ayah kamu tau dia pasti akan marah, lagian mereka sudah menikah.”
“Ibu ini tidak tau perasaan aku bagaimana melihat kedua kakakku menikah. Ya! Walaupun aku tau kalau Kak Zia bukan kakak aku, dia
seperti sengaja menjebak Kak Uno untuk menikahi dia, mungkin sebenarnya dari
__ADS_1
dulu kak Zia sudah menyukai Kak Uno dan dia tau jika dia bukan kakak kandung dari kak Uno, makannnya dia melakukan hal itu.”
Arana teringat tentang dulu saat Zia memperlakukan Uno dan saat Zia memandang Uno, terlihat pandangannya berbeda. Pandangan Zia lebih ke arah pandangan penuh cinta.
“Ibu tidak tau, Binna. Sudah! Antarkan ibu pulang dulu.” Arana memikirkan kata-kata Sabinna.
Hari berlalu dengan cepatnya. Uno menjalani kehidupan dengan Zia di rumah pribadi Juna. Zia melakukan tugasnya dengan baik, dia bangun pagi dan membuatkan Uno sarapan, Uno pergi ke kampusnya dan pulang dari kampus dia pergi ke kantor ayahnya. Seperti itu keseharian mereka. Uno dan Zia selama
menikah tidur terpisah karena Uno merasa tidak nyaman jika tidur dengan Zia.
“Aku harus mencari cara supaya Uno mau tidur seranjang denganku. Dia harus melakukan haknya padaku. Aku ingin Uno benar-benar bisa
mencintiaku tanpa memikirkan Diandra lagi.” Zia berpikir sebentar. Lalu tertarik senyum pada susut bibirnya.
Apa lagi ini yang akan dilakukan oleh si licik Zia?
“Uno, kamu periksa semua berkas-berkas ini.” Juna menyerahkan beberapa berkas pada Uno agar Uno bisa memeriksanya.
“Iya, Yah.” Uno mengambilnya dan hendak pergi dari ruangan Juna.
“Uno,” panggil Juna.
“Ada apa, Yah?”
“Bagaimana dengan rumah tangga kamu dengan Zia? Apa kalian baik-baik saja, Kan?”
“Kami baik karena memang sebelumnya aku dengan Kak Zia tidak ada masalah apa-apa, hanya saja kami masih merasa canggung saja dengan status suami istri.”
“Ayah paham akan hal itu, perlahan jika kalian hidup bersama nanti kalian pasti akan mulai terbiasa.” Uno mengangguk dan pergi dari sana.
Malam itu di rumah. Zia sedang menyiapkan makan malam dan dia juga menggunakan baju tidur yang agak sexy, dia ingin mmebuat Uno tertarik dengan dirinya dan tak lupa dia menyiapkan minuman khusus untuk Uno.
“Uno mana? Kenapa dia belum pulang?” Zia melihat ke arah jarum jam dan seharusnya Uno sudah pulang, tapi kenapa dia belum pulang juga?”
__ADS_1
Kak Zia mencoba menghubungi Uno, tapi tidak di jawab oleh Uno. Uno sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang tadi di berikan oleh ayahnya. Uno ternyata memilih lembur di tempat kerjanya, dia melakukan itu karena dia ingin membuat dirinya dengan kesibukan yang lain agar tidak selalu memikirkan Diandra.