
Devon mengantar Dimitri ke depan sampai Dimitri akan masuk ke dalam mobilnya. "Kamu serius mau menikah dengan gadis kecil itu? bahkan dia lebih pantas menjadi adik kamu."
"Mamaku menyukainya, dan aku tidak mengecewakan mamaku," ucap Devon tanpa melihat ke arah Dimitri.
"Tidak hanya mamamu, dia obsesi kamu kan dari dulu? kamu benar-benar pria aneh, hal yang sangat lama, masih saja membekas buat kamu, padahal hal itu bukan hal yang manis, biasa saja."
"Memangnya kamu tau apa itu cinta sejati? kamu saja mengkhianati istri kamu dengan berkencan dengan wanita lain. Kamu tidak akan pernah mengenal cinta sejati."
"Ck! cinta sejati! yang ada cinta palsu. Aku menikah dengan istriku karena aku sudah tidur dengannya, dan saat aku ingin memutuskannya, dia malah hamil dan terpaksa aku menikahinya, ternyata setelah menikah kehidupan pernikahan itu membosankan, kamu pikirkan lagi matang-matang."
Devon tidak menjawab, dia malah menarik tinggi tepi bibirnya ke atas. "Pulang sana! kasihan istri kamu, jadilah pria yang benar-benar bertanggung jawab." Devon menepuk pundak Dimitri.
Dimitri masuk ke dalam mobil dan mobilnya keluar dari sana. Devon kembali masuk ke dalam, dia permisi mau menemui Sabinna di atas.
"Tia, apa anak kamu benaran suka sama Sabinna?" tanya Arana setelah melihat Devon naik ke kamar atas.
Tia menggedikkan bahunya pelan. "Aku waktu itu hanya bertanya, apa dia mau aku jodohkan dengan putri dari sahabat mama, yaitu, Sabinna-- anaknya tante Arana. Aku menunjukkan foto Sabinna waktu itu. Devon hanya terdiam sambil melihat foto Binna, kemudian dia hanya bilang, aku ikut saja apa kata mama. Begitu."
"Syukur kalau begitu. Aku juga senang sama anak kamu saat pertama kali melihat fotonya, apalagi aku kan pernah bertemu Devon waktu ada acara reuni kampus kita, putramu sangat baik dan sopan.
"Lalu, apa Binna juga menyukai Devon? apa putrimu mau dengan perjodohan ini?" Arana terdiam, dia bingung harus menjawab apa. "Arana, ada apa? apa putrimu Binna tidak mau dengan perjodohan ini?"
"Sebenarnya begini, Tia. Dari dulu, aku tidak pernah mengizinkan Binna punya hubungan dengan seseorang supaya dia fokus dengan sekolahnya, dan kamu tau alasannya juga waktu aku cerita sama kamu."
"Iya, kamu sudah cerita semua."
__ADS_1
"Dia kemarin bilang kalau dia dekat dengan seseorang, tapi merek tidak pacaran, katanya anak itu sangat baik dan lembut sama Binna. Aku tidak mau dikira ibu yang egois, aku bilang kalau dia boleh mengenalkan padaku temannya itu lusa setelah Binna mau bertemu dengan Devon."
"Lalu? kalau dia ternyata anak yang baik dan pantas untuk Binna bagaimana?" tanya Tia khawatir.
"Itu yang membuat aku bingung," Muka Arana bingung. "Jujur saja aku menyukai anak kamu, entah kenapa aku melihat sosok Juna dalam diri putramu, pria yang sangat baik dan penyayang, walaupun putramu terlihat agak dingin.
"Iya, Sih! Devon memang anaknya sangat pendiam, makannya aku mau jodohkan dia sama Binna yang ceria anaknya, biar seimbang," celoteh Tia sambil terkekeh. "Kamu tidak perlu khawatir, kalau memang Binna jodoh dengan Devon, mereka akan menemukan jalannya."
Tia ini sangat bijak, ya. Arana sebenarnya bingung masalah ini, dia juga sempat bercerita sama Juna, dan Juna bilang sebaiknya menyerahkan semua keputusan sama Sabinna.
Tok ... tok ...
Zia membuka pintu kamar Sabinna, Zia melihat Devon yang ada di depan pintu dan menyuruhnya masuk, Devon berjalan perlahan kedua pasang mata itu saling menatap. "Aku akan tinggalkan kalian berdua di sini, siapa tau kalian ingin berbicara berdua agar saling mengenal."
"Kak Zia!" seru Binna, tapi Zia malah keluar kamar itu sambil melambaikan tangannya, Zia sengaja tidak menutup pintunya. Kan tidak baik berdua di dalam kamar.
"Aku hanya mau berpamitan saja, aku mau pulang, kalau aku langsung pulang, nanti aku dikira tidak sopan. Apa kamu sudah baikkan? atau kedua orang tuaku aku suruh naik saja, untuk berpamitan sama kamu."
"Oh! aku sudah baikkan, aku akan mencoba berjalan, aku juga tidak mau terus berbaring, aku tidak boleh manja, sangat menyiksa jika harus tiduran begini."
"Tapi kata Dimitri kamu tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat pada kaki kamu."
Binna mencoba menurunkan kakinya perlahan-lahan dia mencoba menapakkan kakinya. "Tidak sakit," ucapnya cepat dan terlihat sangat senang.
Di bawah itu sebenarnya kedua orang tua Binna dan Devon mau naik ke atas, tapi Zia mengatakan jika Devon sedang berbicara berdua dengan Binna, dan kaki Binna sudah tidak apa-apa. Jadi mereka mengurungkan niatnya, dan ingin membiarkan Binna lebih dekat dengan Devon.
__ADS_1
"Kamu benaran tidak apa-apa?" Devon berdiri agak jauh dari Binna.
Binna sekarang sudah berdiri dengan kedua kakinya, dan mulai berjalan, ternyata kakinya baik-baik saja. "Teman dokter kamu itu hebat juga. Kakiku benaran sudah sembuh." Ini dasar Sabinna ya gak bisa di suruh diem sedikit.
"Binna, jangan menggunakan kaki kamu terlalu aktif," ucap Devon mencoba mengingatkan Sabinna.
"Aku baik-baik saja pria kutub utara! lagian jangan terlalu mengkhawatirkan aku, jangan sok baik," ucap Binna ketus. "Aku bisa latihan menari lagi, Binna malah mencoba berputar.
Devon yang kesal melihat itu dengan cepat menarik pinggang Binna sampai tubuh gadis itu menabrak pada tubuh Devon, Devon memegang erat pinggang Sabinna.
Kedua mata mereka saling menatap lekat, jarak mereka pun sangat dekat. Binna sampai bisa mencium aroma segar dari tubuh Devon.
'Pria ini, kenapa tatapannya seolah aku mengenalnya sejak lama? dan aku menyukai aromanya. Haduh! Binna, kamu ini mikir apa, Sih?!'
"Hei! lepaskan." Binna yang tersadar mulai berontak.
"Tidak akan! sebelum kamu mau mendengarkan kata-kataku. Kamu kembali ke tempat tidur kamu atau kamu tidak menggunakan kaki kamu secara berlebihan, aku sudah berusaha bertanggung jawab pada kaki kamu, jadi jangan buat aku merasa bersalah lagi karena kaki kamu sakit lagi," ucap Devon tegas dengan tatapan tajamnya.
Binna lama-lama ngeri dengan pria di depannya itu, dia kemudian mengangguk perlahan. "Bagus, jangan jadi gadis yang keras kepala kamu." Devon perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Binna.
"Aku mau turun, dan supaya kamu bisa berpamitan dan secepatnya bisa pergi dari sini." Binna berjalan perlahan keluar dari kamarnya.
Devon yang melihatnya hanya tersenyum kecil. "Kenapa dia bisa berubah, tidak semanis waktu dia masih kecil," dialognya sendiri.
Binna masih berjalan perlahan menuruni anak tangga, dan Devon berjalan mengikuti di belakang. "Apa mau aku gendong?" tanyanya dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Tidak mau, aku bisa sendiri," ujar Binna ketus. Tidak lama Binna melihat kakaknya lewat, entah Uno ini mau ke mana?
Sebentar lagi Tommy dan Diandra akan datang dan nanti author akan kasih visualnya si cantik Diandra. Tungguin, yak.