Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perkelahian


__ADS_3

Senyum panjang dari sudut bibir Devon terlukis indah, ada perasaan yang tidak dapat diungkapkan secara nyata oleh Devon, di dalam hatinya di sekarang seolah sebagai pemenang.


"Jadi, kamu belum pernah berciuman sebelumnya?" Tanya Devon dengan muka tegasnya, meskipun dalam hati, hatinya tersenyum senang.


Binna hanya diam dan memandang Devon dengan tatapan antara kesal, malu, dan tidak percaya, Binna tidak percaya bahwa ciuman pertamanya telah diambil paksa oleh cowok di depannya ini. Cowok yang dia tolak mentah-mentah karena dia tidak mau di jodohkan dengannya.


"Lalu bagaimana dengan kekakasih kamu itu? mana dia?" Tanya Devon sambil memicingkan kedua matanya.


"Dia tidak masuk sekolah, Kak Pangeran Bermotor," sekali lagi Lila yang menyeletuk, lama-lama ini anak jadi jubirnya Binna.


"Untuk apa kamu mencarinya? lagian semua tentang aku itu akan menjadi urusan aku!" Seru Binna kesal.


Devon tidak mendengar ucapan Sabinna, dia malah memasangkan jaket pada Sabinna. Sabinna sempat menolaknya. Namun, sekali lagi Devon menatapnya dengan tatapan tajam itu, Binna dengan terpaksa mau memakai jaket Devon itu.


"Maaf, siapa nama kamu?" Devon bertanya pada Lila yang masih berdiri di sana dengan tas sekolah Sabinna.


"Namaku Lila. Kamu siapa pangeran bermotor?" Tanya Lia dengan muka terpesonanya. Lila ini memang lebih suka dengan cowok yang usianya diatas dia, Uno--kakaknya Binna saja dia menyukainya.


"Namaku Devon, terima kasih ya sudah membawakan tas sekolahnya Sabinna."


"Iya, sama-sama." Lila memberikan tas sekolah milik Sabinna pada Devon. Hati-hati ya membawa Sabinna pulang, dan kamu harus sabar menghadapi Sabinna, dia memang agak keras anaknya," Lila berbisik pada Devon, dan Devon hanya memberinya senyuman manisnya.


"Terima kasih, Lila." Devon berjalan kembali mendekat ke arah Sabinna. Sabinna masih dengan tatap kesal melihatnya. Devon naik ke atas motornya, dan diikuti oleh Sabinna yang naik dan duduk dengan membuka kakinya. Binna duduk dengan memberi jarak antara dirinya dan Devon.


"Apa kamu tidak mau berpegangan? kalau kamu nanti jatuh jangan menyalahkan aku," ucap Devon santai.


Binna tidak menjawab, dia masih saja dengan muka kesalnya, dan tangannya malah bersidekap.


Devon menyalahkan motor itu, Binna sebenarnya takut, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan ketakutannya saat naik motor.


Devon yang tau Sabinna sepertinya takut, malah mengegas motornya. "Auw ...!" Binna kaget dan memegang kedua tepi baju Devon.


"Kami pergi dulu, Lila," ucap Devon, lalu motor Devon berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, jantung Binna tidak berhenti berdetak cepat, dia takut naik motor. "Perpegangan yang erat, kalau kamu jatuh kamu benar-benar tidak akan bisa ikut lomba menari!" teriak Devon di atas motor.


Mendengar kata menari Sabinna perlahan mulai memeluk Devon sedikit, Devon yang tidak sabaran malah menarik tangan Sabinna sampai Sabinna benar-benar memeluknya dari belakang, bahkan kepala Sabinna pun sampai bersandar di punggung Devon.


Devon sekarang menambah kecepatannya supaya Sabinna takut dan tidak melepaskan pelukannya. Wkakaka akal bulus.


"Jangan ngebut, Kak Devon!" Teriak Binna kesal, tapi dia masih menyandarkan kepalanya pada punggung Devon.


Devon tidak menghiraukannya, malah dia tetap memecah jalanan yang waktu itu sepi, dengan agak cepat.


'Kenapa memeluk cowok ini terasa hatiku sangat nyaman,' Binna berdialog dengan hatinya.


Tidak lama Devon merasakan jika ponselnya berdering, dia kemudian menepi dan menghentikan motornya. Sabinna yang merasakan motor Devon terhenti mengangkat kepalanya, dia ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Dimitri?" Devon mukanya kaget melihat siapa yang melihatnya. "Halo."


"Ka-kamu Devon, Kan? Tolong Dimitri, dia sedang berkelahi dengan orang-orang suruhan pacar aku," Suara seorang wanita terdengar di seberang telepon.


"Aku di Pantai Air Jernih.Aku --." Devon seketika mematikan panggilannya.


"Ada apa?" Tanya Binna yang tidak sengaja mendengar suara seorang wanita tadi.


"Pegangan erat, Binna!" Benatk Devon, seketika Binna yang kaget mendengar suara meninggai Devon, reflek memeluk tubuh Devon.


Devon melajukan motornya melesat dari sana, Rahang Devon mengeras menahan marah, dan tidak lama dia sampai di sebuah pantai yang memang keadaannya sepi, karena hari ini kan bukan hari libur, Binna kembali menarik kepalanya dan Devon turun dari motornya dengan cepat, Devon berlari mendekat ke arah Dimitri yang sudah terduduk dan ada beberapa orang pria berdiri di depannya, dan seorang wanita menangis di depan di samping Dimitri.


"Dimitri!" panggil Devon.


"Devon?"


"Kamu siapa, kamu jangan ikut campur!"


Brak ...

__ADS_1


"Hah!" Sabinna yang melihat dari atas motor kaget sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia melihat Devon tiba-tiba menonjok pria yang berteriak padanya sampai pria itu langsung jatuh.


Binna malah berlari mendekat ke arah di mana Devon sedang menghajar sekitar 5 orang pria dia sana, dan mereka semua tumbang.


"Kalian semua pria brengsek yang hanya beraninya keroyokan!" Hina Devon pada 5 pria yang sudah terkapar di bawah.


"Ahahah! rasakan itu, Devon terima kasih, Ya." Dimitri memeluk Devon, tapi sama Devon tubuh Dimitri malah di dorong dengan keras.


"Kamu juga brengsek, Dimitri! apa kamu tidak bisa, tidak mencari masalah?!" Sekarang Devon membentak Dimitri.


"Ayolah! aku tidak salah, pacarnya saja yang sudah diputuskan oleh kekasihku tapi dia tidak terima," Jelas Dimitri.


"Kenapa kamu selalu bermain-main dengan para wanita ini? kamu kan sudah mempunyai istri. Dasar brengsek!"


Devon berjalan pergi dari sana, Devon melihat ke arah Sabinna yang ternyata melihatnya dari tadi, Devon menggandeng tangan Sabinna dan mengajaknya pergi dari sana.


Sabinna yang tangannya di gandeng oleh Devon hanya bisa diam mengikuti Devon. Saat sampai di depan motornya, Devon menarik napasnya panjang dia mencoba membuang muka pada Sabinna.


Sabinna yang melihatnya menjadi bingung. "Kak Devon--."


"Binna." Sekarang Devon melihat ke arah Sabinna. "tolong kamu jangan ceritakan hal ini pada ibu kamu, aku tidak mau jika ibu kamu tau dan akhirnya bercerita pada mamaku, aku tidak mau membuat mamaku cemas nantinya."


Sabinna mengangguk. "Sebenarnya tadi kenapa? dan kenapa orang-orang itu memukul si dokter itu?"


"Dimitri itu brengsek, dia sudah menikah dan mempunyai anak, tapi dia suka sekali bermain-main dengan banyak wanita, orang-orang yang memukulinya itu, salah satunya adalah kekasih dari wanita yang dipacari oleh Dimitri. Dimitri memang brengsek, aku sudah mencoba memperingatinya berkali-kali!" Rahang Devon mengeras.


"Kenapa dia mesti berselingkuh, dia kan sudah punya istri?" gerutu Binna lirih, sambil melihat Devon.


"Kenapa melihatiku begitu? aku tidak tau. Dan kamu jangan mengira aku juga akan seperti itu jika sudah menikah."


Binna terdiam. "Aku bukan pria brengsek seperti Dimitri itu, apalagi jika aku sudah berjanji pada seseorang untuk mencintainya selamanya, aku akan menepatinya." Devon naik ke atas motornya.


Sabinna sekarang bingung, apa maksud ucapan Devon barusan? Author juga bingung. Wakakak. Tampol ini author.

__ADS_1


__ADS_2