
Binna dan Devon saling menatap, sedangkan Lila malah bingung. Ini kenapa Binna malah bilang ada latihan? apa Binna tidak mau pulang sama pangeran tampan calon suaminya ini?
Lila ingin banget getok kepal Binna, kenapa Binna malah menolak di jodohkan dengan cowok setampan ini, kalau Lila pasti langsung aja, tidak perlu menunggu lulus, langsung aja berangkat ke pelaminan.
Emangnya Lila aja yang mau, author juga. Ee ...!
"Apa kamu bilang tadi? kamu mau latihan menari? memangnya kamu lupa kalau kamu tidak diperbolehkan sama Dimitri untuk menggunakan kaki kamu untuk kegiatan yang berat dulu? dan menari adalah kegiatan yang akan membuat kaki kamu capek." Muka Devon terlihat mengeras.
Binna berdiri dari tempatnya diikuti oleh Lila di samping Binna, Lila ini sebenarnya juga ingin bisa melihat wajah Devon lebih dekat, dan sekarang Binna berdiri tepat di depan Devon.
"Memangnya siapa kamu? kamu tidak berhak melarang aku melakukan apa yang aku lakukan, aku lebih tau tentang diriku. Lihat! kakiku sudah baik-baik saja. Binna menunjukkan jenjang kakinya. Dan Di sana Devon melihat kaki kecil Binna yang terekspose indah karena rok sekolahnya yang diatas lutut. Tapi bukan yang sexy banget, Ya.
"Aku calon suami kamu, dan aku tidak mau kamu kenapa-napa dan membuat banyak orang khawatir, sebaiknya sekarang kita pulang, dan aku akan memintakan izin kepada pelatih kamu."
__ADS_1
Muka Binna di tekuk kesal. "Jangan percaya diri dulu kalau kita akan menikah, aku sudah bilang kalau aku tidak menyukai kamu, aku akan menikah dengan orang lain nantinya."
"Jika kamu menikah dengan orang lain, aku akan menculik kamu di hari pernikahan kamu."/Devon menyeringai.
"Kak Devon ini kenapa, sih? kenapa kakak ingin sekali menikah denganku? apa kakak diam-diam mencintaiku makannya ingin sekali menikah denganku?" Tanya Binna dengan nafa kesal.
"Kalau iya. Kenapa?" Devon memberikan tatapan seriusnya, dan seketika Binna terdiam kaku mendengar jawaban Devon.
Beberapa detik mereka berdua terdiam, Lila yang berdiri di antara mereka hanya bisa melongo mendengar perdebatan mereka sambil melihat gantian pada Devon dan Binna. Ini mata Lila lama-lama jereng ini.
"Aku tidak punya kekasih," jawab Devon cepat. "Kalau kamu tidak mau pulang sekarang, aku akan memaksa kamu, Binna. Devon membuka resleting jaket hitamnya.
Mata Binna membelalak seketika. Ini cowok mau ngapain? Devon sudah melepas jaket kulit hitamnya dan memegangnya di tangan kiri.
__ADS_1
"Kak Devon mau apa?" Binna sekarang tampak takut melihat Devon.
"Menggendong kamu dan membawa kamu naik ke atas motorku."
"Apa?! co-coba saja kalau berani? aku akan berteriak, biar nanti Kak Devon dikira mau menculikku?" Binna menunjukkan muka menantangnya.
Devon malah menarik senyum pada sudut bibirnya, dia sepertinya menyukai sikap Binna yang seperti ini.
"Oh, ya?" Devon berjalan perlahan mendekat ke arah Sabinna, Sabinna yang tidak mau mundur malah menatap dengan mata tajamnya. "Apa kamu tetap bisa berteriak jika aku menyumpal bibir indah kamu ini dengan bibirku? kita berciuman." Sebenarnya ini kata-kata yang manis, tapi kenapa terdengar mengerikan di telinga Binna.
"Oh My God!" Lila yang mendengarnya langsung menutup mulutnya cepat dengan kedua tangannya. Wkakaka! emangnya kamu, Lil, yang mau dicium Devon?
Binna masih tidak bergeming, dia ini antara takut dan tidak tau sebenarnya. Hala! author jadi bingung. "Kakak jangang mengancamku, aku tidak takut sama sekali dengan ancaman Kak Devon!"
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang benaran menginginkan ciumanku, Binna?" Devon tersenyum devil.
Si Binna ini imut-imut, tapi keras kepalanya melebihi emaknya si Arana. Arana aja dulu rada takut kalau tuan vampire sudah menunjukkan sikap bar-barnya.