
Di ruangannya, Lila yang barusan datang agak kaget melihat Devon sedang menikmati makan siangnya, dan di depannya ada rantang lucu berwarna hitam.
"Apa itu masakan Sabinna, Kak Devon?"
"Iya, ini tadi pagi dia memasak untukku."
"So sweet sekali, apa kalian sudah baikkan?" Lila duduk di kursi satunya.
"Kita sudah baikkan, bahkan sangat baik." Kak Devon melihat ke arah Lila dengan senyum yang Lila tau itu senyum kebahagiaan.
"Aku jadi ingin tau apa yang membuat kalian baikkan?" Lila melihat Kak Devon penasaran.
"Tanyakan pada Binna sendiri saja. Oh ya! Kamu sudah makan? Atau mau aku pesankan makanan di kantin bawah?"
"Tidak perlu, aku nanti mau ke apartemen kalian saja. Aku mau mencoba masakan buatan Sabinna."
"Masakannya enak, dan aku menyukainya."
"Tentu saja Kak Devon bilang enak. Mau Binna marah lagi kalau bilang masakannya tidak enak. Kak, sebenarnya ada apa Kakak memanggil aku ke sini?"
"Aku mau tanya sama kamu, kemarin malam Binna apa janjian sama kamu ke cafe?"
Deg ...
Mampus dah ...
Waktu itu Binna, kan, bilang dia mau merayakan ulang tahunnya pada Lukas. Apa kak Devon tau?
"Em ... Kemarin malam itu memang Binna menghubungiku, dia ingin bertemu denganku di cafe." Lila nyengir.
"Lalu, apa kamu tau siapa pria yang membawa Binna, bahkan dia sudah memberi obat perangsa pada minuman Sabinn"
"Apa? Binna di beri obat perangsa? Lukas tidak mungkin melakukan itu!" celetuk Lila, dan Lila sadar dia keceplosan, sampai Lila menutup mulutnya.
"Apa? Lukas? Jadi Binna bertemu dengan Lukas?" Tatapan Kak Devon berubah tajam.
"Aduh! Kenapa aku keceplosan?" gerutu Lila.
"Lila, katakan sejujurnya sama aku? Apa Lukas cowok yang pernah dekat dengan Binna di sekolah itu hadir lagi? Apa mereka diam-diam bertemu selama ini di belakangku?"
__ADS_1
Muka Lila tampak semakin cemas. Dia tidak mau nanti malah membuat mereka bertengkar lagi, padahal mereka sudah baikkan.
"Kak, aku bisa jelaskan semua, Binna tidak berselingkuh sama sekali dari Kak Devon. Kita waktu itu sedang makan di mall, dan tidak sengaja kita bertemu dengan Lukas di sana. Lukas bercerita banyak tentang dirinya yang waktu itu kenapa tidak datang ke rumah Binna, dia sedang menunggu mamanya yang sedang di rawat di Singapura karena sakit parah."
"Apa kue waktu itu adalah pemberian dari Lukas, dan apa Lukas tidak tau jika Binna sudah menikah?"
"Itu memang pemberian dari Lukas sebagai bentuk permintaan maaf Lukas sama Binna. Kalau soal menikah ... Lukas belum tau. Binna akan memberitahu nanti jika keadaan sudah baik-baik saja."
"Keadaan sudah baik-baik saja? Keadaan siapa maksudnya? Harusnya Binna memberitahu Lukas, dia tidak boleh menyembunyikan masalah pernikahan dia. Apa Binna masih mencintai Lukas? Dan berharap bisa kembali dengan Lukas?" Kak Devon tampak marah dan meletakkan sendok makannya.
Lila jadi bingung kalau seperti ini. "Kak, Binna sudah tidak menyimpan perasaan apa-apa sama Lukas. Kakak jangan berpikiran seperti itu."
Kak Devon hanya diam saja. Dia berpikiran apa benar Binna sudah tidak menyimpan perasaan apa-apa seperti kata Lila? Tapi kenapa mereka bertemu beberapa kali.
"Lila, jadi kemarin malam Lukas bertemu dengan Binna? Dan Dia yang sudah menaruh obat perangsang itu pada Binna?"
"Aku tidak yakin jika Lukas yang melakukan hal itu, Lukas buka. cowok yang jahat. Kak, jangan marah sama Binna, dia cerita jika dia kesal sama Kak Devon karena cemburu, dia mencintai Kak Devon."
"Mungkin kamu benar, dia melakukan hal itu karena dia merasa kesal denganku. Lila, aku akan mencari tau siapa pria yang mau membawa Binna waktu itu dan sampai memberinya obat perangsa."
Lila mengambil ponselnya dan mencari foto Lukas saat mereka sekolah dulu. "Apa pria itu ini?" Lila menunjukkan foto Lukas.
"Siapa, Ya?"
Tidak lama ponsel Lila berdering. Lila melihat ada nama Binna di sana. "Halo, Lila."
"Binna, ada apa?"
"Ada apa? Kamu tadi tidak di telepon sama suamiku?"
"Oh iya! Maaf, aku sebentar lagi sampai apartemen kamu, di jalan sedang macet, ada pohon tumbang."
"Pohon tumbang? Memangnya semalam hujan deras apa? Semalam terang-terang saja."
"Sudah dulu, ya, aku nyetir ini." Lila langsung menutup panggilannya. "Kak, aku pergi ke apartemen kalian dulu, ya?" Lila beranjak dari tempatnya dan dia pergi menemui Binna.
Kak Devon menyuruh seseorang untuk ke cafe di mana Binna waktu itu makan malam dengan Lukas, dia akan mencari tau siapa yang pria itu.
Beberapa jam kemudian, Lila sampai di apartemen Binna. Binna mukanya cemberut melihat Lila. "Kamu ke mana saja sih? Lama sekali aku menunggu kamu?"
__ADS_1
"Nanti saja ngomelnya, aku lapar? Kamu masak, Kan?"
"Kamu kok tau aku memasak?"
Lila bingung, jangan sampai dia keceplosan lagi. "Kamu, kan, sudah menikah dan pasti kamu melakukan tugas istri. Memasak, membuatkan kopi, menemani bobok." Lila melirik pada Binna.
Seketika muka Binna tampak malu. "Apa maksud kata-kata terakhir kamu?"
"Yang menemani bobok? Memangnya kamu dan kak Devon belum tidur bersama? Belum itu?"
"Sudah! Aku sudah melakukannya." Binna berjalan menuju dapurnya.
"Serius? Kok bisa?" Lila semangat mengerjar Binna.
"Ya bisa, kan kita memang sudah menikah." Binna berbicara sambil memotong sayuran.
"Maksudku kalian kan sedang bertengkar, apa sudah baikkan? Tidak salah paham lagi? Atau kamu sudah cerita soal Lukas sama suami kamu?"
Binna menghentikan memotong sayurnya. Dia melihat ke arah Lila. "Aku belum cerita tentang Lukas, aku mau bertemu dengan Lukas dan mengatakan semuanya, kemudian aku akan bicara sama kak Devon, Lil."
"Sebaiknya secepatnya kamu lakukan itu. Jangan sampai kalian bertengkar lagi, aku senang melihat kalian akur."
"Semuanya akan baik-baik saja, Lila. Ya sudah kamu makan dulu, aku akan memasak untuk makan malam buat kak Devon, tadi dia mengatakan masakan aku enak. Bahkan dia membawa bekal ke kantornya." Binna tersenyum senang.
"Iya, aku tadi melihatnya," celetuk Lila.
"Apa?" Wajah Binna tampak kaget.
"Em ... maksud aku, aku melihat masakan kamu di meja makan, aku makan dulu, ya?" Lila berjalan menuju meja makan sambil merutuki mulutnya yang salah berbicara.
Binna menggeleng- geleng melihat sahabatnya itu. Binna kembali bergulat dengan alat dapurnya, sedangkan Lila makan di meja makan, dia sepertinya menikmati masakan Sabinna.
"Yah, terima kasih, maaf merepotkan ayah."
"Kamu bicara apa, Sayang. Ayah mulai sekarang akan mengantar kamu ke tempat kamu mengajar, dan nanti ayah akan menjemput kamu pulang, ayah tidak mau kamu sampai kenapa-napa lagi."
"Semoga kejadian itu tidak terulang, Yah."
"Diandra, sebenarnya ayah mau bertanya hal ini sama kamu. Kenapa Uno bisa ke tempat kamu mengajar? Apa dia ada perlu dengan kamu?"
__ADS_1