Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Backstreet part 3 lanjutan


__ADS_3

Uno membawa Diandra duduk di sebelah Kak Zia, Uno lalu memberikan minuman pada Diandra.


"Terima kasih, Uno." Diandra memberikan kembali botol minumannya pada Uno.


"Kamu kenapa sampai bisa seperti itu, Diandra?" tanya Zia.


"Aku tadi tidak sengaja menekan tombol di sana, Kak. Aku bermaksud mematikannya, tapi salah tombolnya."


"Makannya kalau tidak tau kamu jangan bertindak sendiri, apalagi kamu tidak bisa melihat, dan tidak pernah menggunakan alat itu."


"Iya, Kak. Aku minta maaf."


"Diandra tidak sengaja, Kak. Diandra kan memang gadis yang selalu ingin belajar, dan mandiri, makannya dia tadi mencoba hal itu."


"Uno, aku mau kembali ke kamarku saja, aku mau bersiap-siap dan membantu ibu Arana di dapur."


"Ya sudah, aku juga mau bersiap-siap untuk ke kampus. Kak, apa kaki kakak sudah baikkan? Kakak bisa nanti ke kampus?"

__ADS_1


"Kakiku sudah mendingan. Nanti kamu ke kampus sama kakak?"


"Iya. Ya sudah kalau begitu, aku akan menuntun Diandra ke kamarnya, dia pasti belum terlalu hapal jalan dari sini ke kamarnya. Ayo, Diandra." Uno memegang tangan Diandra dan dia menuntun Diandra.


"Auw ... Sakit!" Zia mengerang kesakitan saat dia berusaha berdiri. Seketika Uno dan Diandra menoleh ke belakang. "Uno, sepertinya kaki kakak masih sakit, apa kamu bisa membantu kakak?"


Uno melihat ke arah Diandra. Pusing, Kan, kamu Uno? Hihihi.


"Diandra kamu tunggu di sini sebentar," bisik Uno pada Diandra. Uno menghampiri kakaknya dan dia membantu kakaknya untuk berjalan. Zia tampak sangat senang.


Uno memapah tubuh Zia, tangan Zia merangkul leher Uno dan Uno memegang pinggang Zia. Zia berjalan perlahan-lahan. "Lalu Diandra bagaimana, Uno?" tanya Zia melihat Diandra.


Uno mengantar kakaknya yang kamarnya satu lantai di atas tempat gym. Diandra terdiam di tempatnya. Dia menunggu Uno atau mencoba berjalan sendiri? Diandra akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri dan mencoba mengingat-ingat saat dia dan Uno naik ke sana.


"Setelah ini belok ke kanan." Diandra mencoba mengingat jalannya. "Dan setelah ini ada meja di sana." Diandra berjalan dan dia menabrak pelan meja. Apa yang diingat Diandra benar.


Cup ...

__ADS_1


Tiba-tiba ada kecupan dari bibir seseorang menyentuh dengan cepat bibir Diandra. "Uno."


"Maaf, Ya, Sayang. Aku akan membantu kamu untuk ke kamar kamu." Uno tiba-tiba menggendong Diandra ala bridal style.


"Uno, apa kak Zia sudah kamu bawa ke kamarnya?"


"Sudah, dia sudah aku bawa ke kamarnya, dan sepertinya dia sudah tidak apa-apa. Sekarang, aku akan membawa kekasihku ke kamarnya." Uno berjalan dengan membawa Diandra.


"Uno, kalau ada orang yang melihat bagaimana?"


"Mereka tidak akan tau, lagian aku sudah memastikan tadi." Diandra tersenyum dengan tangan yang sudah melingkar pada leher Uno. "Aku nanti yang akan menjemput kamu pulang dari tempat kamu mengajar, tapi maaf, jika aku tidak bisa mengantar kamu. Aku masih di tempat kuliah aku."


"Tidak apa-apa, Uno."


Tidak lama Uno sudah berada di depan kamar Diandra. Uno membawa Diandra masuk dan meletakkan perlahan di atas ranjangnya. "Kamu bersiap-siaplah, aku juga akan bersiap-siap. Bye!"


"Bye, Uno!"

__ADS_1


Uno keluar dari kamar Diandra, dia menutup pelan pintu kamar Diandra. "Kak Uno ngapain dari kamar kak Diandra pagi-pagi begini?" suara Binna mengagetkan Uno di sana.


__ADS_2