
Devon melihat ke arah istrinya yang duduk diam di sebelahnya. "Binna, ayo kita turun."
"Kak Devon saja yang turun, aku mau tidur di mobil saja."
Devon tidak banyak tanya lagi. Dia turun dan mengitari mobil, kemudian membuka pintu mobil Sabinna.
"Kakak mau apa?"
"Menggendong istriku. Apa kamu mau tidur di sini? Di luar sedang mendung petang, dan sebentar lagi pasti akan hujan deras. Kamu mau tidur dengan keadaan gelap di sini?"
Sabinna berpikir sebentar. Dia sebenarnya takut gelap, apalagi di sertai hujan dan petir, tapi dia juga masih sakit hati dengan kejadian tadi.
"Aku akan turun dan jalan sendiri, Kak Devon tidak perlu menggendongku." Binna turun dan berjalan dengan kesal. Devon mengambil beberapa barang milik Sabinna. Kemudian mereka masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai kamar mereka.
"Kita ke kamar saja, aku sudah sangat capek dan lelah. Biarkan saja dulu barang-barang kamu di sini."
Kak Devon menggandeng tangan Binna hendak mengajak naik ke lantai atas, tapi Binna melepaskan genggaman.
"Aky tidur di sini saja, Kakak tidur sendiri saja di kamar. Aku tidak mau tidur satu kamar dengan Kak Devon."
Devon melihat dengan tatapan tidak percaya. Ini pasti gara-gara kejadian dengan Karla tadi, dan malam ini dia tidak mau berdebat dengan istrinya itu. Binna sedang tidak baik jika diajak bicara sekarang.
"Ya sudah kalau kamu mau tidur di sini. Aku akan tidur di kamar. Aku tidak akan memaksa kamu. Pintu kamar juga tidak aku kunci."
Kak Devon naik ke kamarnya, dia meninggalkan Sabinna sendirian di bawah. Binna langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di sana.
"Aku membencimu Kak Devon." Binna kembali terisak. "Bisa-bisanya kalian berciuman di dalam kamarku, kamu jahat!" Binna tidur dengan memeluk ke dua lututnya, hatinya benar-benar sakita mengingat ciuman itu.
Di kamar atas, Devon yang sudah berganti baju dengan piyama tidurnya tidak bisa tidur, dia mondar mandir di dalam kamarnya, dia sebenarnya ingin memaksa Sabinna agar tidur di atas.
__ADS_1
"Karla memang benar-benar gila, kenapa dia sampai tega melakukan hal itu. Dia benar-benar membuat malam pertamaku berantakan."
Devon sangat gelisah, dia mondar mandir sekali lagi di tempatnya. Tidak lama Devon berbaring di ranjangnya, dia sebenarnya lelah, tapi dia masih memikirkan bagaimana Sabinna di bawah.
"Sebaiknya aku tunggu saja sampai dia tertidur, lalu aku bawa saja dia ke atas." Devon terjaga sampai beberapa jam berikutnya.
Devon turun perlahan, dan dia mencoba mendekat ke arah Sabinna. Dia melihat istri kecilnya itu sudah tertidur. Devon perlahan mengangkat tubuh Sabinna.
"Kamu habis menangis sepertinya." Devon mencoba mengecup bibir Sabinna perlahan dan membawanya naik ke kamar atas.
Devon meletakkan Sabinna di atas ranjang dan menyelimutinya. Devon tidur di samping Sabinna. Devon sekarang merasa tenang ada istrinya di sampingnya.
Beberapa jam kemudian. Binna mengerjapkan kedua matanya karena mendengar suara hujan dan petir ya sangat keras. Di luar memang sedang hujan deras. Apalagi di sana juga gelap.
Binna terbangun dan agak kaget melihat dia berada di dalam kamar. "Ini kenapa aku bisa ada di dalam kamar? Auw!" Binna kemudian berteriak dan menutup kedua telinganya karena kaget dengan suara geledek yang besar.
"Aku takut! Suara geledeknya besar sekali, dan kenapa di sini gelap sekali?"
"Mungkin sedang lampu mati, kamu tidur saja, aku akan menjaga kamu, kamu tidak perlu takut." Mereka berdua saling duduk dan berhadapan.
"Kak, kenapa aku bisa di dalam kamar?"
"Aku yang membawa kamu ke sini? Aku tidak bisa tidur membayangkan kamu sendirian di bawah. Apalagi sedang hujan deras seperti ini, Binna."
"Tapi aku tidak mau tidur dengan Kak Devon." Binna akan beranjak, tapi tangan Kak Devon menahan Sabinna. "Aku akan tidur di sofa."
"Aku saja yang tidur di sofa, kamu tidur saja di sini." Kak Devon beranjak dari tempatnya dan mengambil bantal dan pindah ke sofa yang tepat di depan ranjang mereka."
Binna hanya menatapnya, kemudian Binna berbaring perlahan di atas ranjang, dan menyelimutkan dirinya dengan selimut putih tebalnya. Dia mengeratkan selimutnya untuk menghilangkan rasa takutnya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh menunjukkan rasa takutku pada Kak Devon. Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah."
Hujan malam ini benar-benar sangat deras, Kal Devon sudah tidur dengan lelapnya, hanya tinggal Sabinna yang masih terjaga. Jika di rumahnya keadaan seperti ini dia tidak takut, karena jendela rumahnya tidak terlalu besar, dan tidak pernah mengalami lampu mati.
Wajar ya. Mansionya kakek Bisma kek istana. Jadi selalu siap semuanya. Di apartemen ini, semua, kan, masih baru. Devon sengaja memilih apartemen ini karena dekat dengan pantai yang sangat indah. Tapi untuk fasilitas jika listrik padam belum sepenuhnya sempurna. Soal keamana sudah terjaga dengan baik.
"Kak Devon sudah tidur, Ya?" Binna mengintip dari selimutnya yang di tutupi setengah wajahnya, dia melihat kak Devon yang sudah tidur nyenyak. "Kenapa dia bisa tidur dalam keadaan seperti ini?" Binna ngedumel kesal.
Binna sangat takut. Apalagi jendela kamar di depannya yang sangat besar, dan terbuat dari kaca menunjukkan kilatan-kilatan petir dari balik tirai.
Binna benar-benar tidak bisa tidur. Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar, Binna segera berjingkat dan tidur di sebelah suaminya. "Kak, bangun! Aku takut." Binna malah memeluk Kak Devon. Devon yang merasakan sesuatu terbangun dan melihat wajah Binna tepat di depannya.
"Ada apa, Binna? Kenapa kamu malah ke sini? Katanya tidak mau tidur denganku?"
Binna tidak menjawab, dia malah ngedusel ke tubuh Devon. Binna juga sangat kesal, kenapa suasana malam ini malah tidak mendukung dia?"
"Kamu takut? Ya sudah kita tidur di ranjang saja, di sini tidak muat untuk kita berdua."
Binna bangkit dan akhirnya mereka tidur satu ranjang lagi. "Kakak jangan dekat-dekat, dan jangan melakukan apa-apa sama aku."
"Aku tidak akan menyentuh kamu, Binna. Kamu tidurlah, aku akan menjaga kamu."
Binna akhirnya bisa memejamkan matanya dan tertidur, Kak Devon yang melihatnya tampak tersenyum. Dia memandangi wajah istrinya itu.
Keesokan harinya, saat Binna terbangun, dia sangat kaget mendapati tangannya memeluk tubuh kak Devon, dan kepalanya bersandar dengan nyaman pada dada kak Devon.
"Apa dia sudah melakukan apa-apa denganku?" Binna memeriksa di balik selimutnya, apa bajunya masih dia pakai atau tidak.
Binna bernapas lega saat tau dia masih memakai pakaian lengkap.
__ADS_1