
Dokter mengatakan lebih baik Diandra di bawa ke rumah sakit saja, ada tulang yang melenceng dari tempatnya. Jika tidak segera di tangani nanti malah akan lebih buruk."
"Kak, apa saudara sepupu Kak Devon yang waktu itu mengobati kakiku tidak bisa mengobati kak Diandra?" bisik Binna pelan.
"Dimitri? Iya, aku akan menghubunginya. Uno, tunggu sebentar, aku akan menghubungi saudara sepupuku yang bisa mengobati kaki Diandra."
"Tolong cepat." Uno tampak cemas.
Devon menghubungi Dimitri. Di sana Binna melihat aneh pada Kakaknya, Uno dari tadi tidak mau melepaskan tangan Diandra, dan Binna melihat kakaknya itu terlihat sangat cemas.
"Kak Uno perhatian sekali dengan Kak Diandra, apa dia menyukai Kak Diandra? Waduh! Musibah ini buat Kak Diandra," dialognya sendiri.
Tidak lama Devon datang dan bilang jika Dimitri akan segera ke sini, kebetulan dia mau berangkat ke rumah sakit juga. Dan tidak jauh dari sini.
"Diandra kamu sabar dulu."
"Uno, aku masih bisa ikut di acara bazzar ini, Kan?"
"Oh Tuhan! Kamu kenapa malah memikirkan masalah ini? Kalau kamu tidak bisa ikut, aku juga tidak akan mempermasalahkan tentang hal itu."
"Tapi aku ingin ikut, aku sudah menyiapkan tentang lagu yang nanti aku mainkan di sana."
"Kita lihat saja keadaan kamu nanti."
"Tapi, Uno--."
"Cukup, Diandra!" seru Uno tegas, dan Diandra langsung terdiam.
Binna dan Kak Devon yang melihat saling melihat satu sama lain. Binna benaran curiga mereka ini ada sesuatu.
Tidak lama Dimitri datang dan langsung memeriksa kaki Diandra. "Aku akan membetulkan sebentar. Kamu bisa menahannya, Kan?"
"Tunggu-tunggu. Kamu benaran bisa? Kamu itu dokter apa tukang pijat?" tanya Uno ngasal.
Binna yang mendengarnya tertawa pelan. Dimitri yang melihatnya kesal.
"Maaf, Kak Dimitri, dia kakakku. Dia kan belum tau siapa Kakak."
"Pantas saja. Kalian adik kakak sama saja." Dimitri memutar bola matanya jengah. Aku ini seorang dokter spesialis tulang, tapi aku juga bisa membetulkan tulang yang salah begini, kamu tenang saja. Kekasih kamu ini tidak akan apa-apa, hanya merasa sakit sebentar saja."
"Mereka bukan sepasang kekasih, Kak," jelas Binna.
"Oh syukur kalau begitu, kasihan gadis ini kalau menjadi kekasih kakak kamu."
__ADS_1
"Apa maksud kamu?" Tanya Uno tegas.
"Dari wajah kamu, kamu pasti cowok yang banyak kekasihnya, dan gadis ini begitu lembut, aku sudah bisa menebak hanya dari melihat wajah saja."
"Kamu merangkap peramal juga," celetuk Uno.
Binna malah tertawa di sana. Devon segera menyuruh Dimitri untuk memeriksa kaki Diandra. "Tolong kamu tahan sebentar. Atau kalau mau kamu pegangan punggung aku tidak apa-apa."
"Aku saja yang memegangnya." Uno bersiap-siap di sebelah Diandra. Diandra memegang lengan tangan Uno. Zia yang baru masuk ke ruang kesehatan itu melihat dengan kesal.
"Argh ... sakit!" teriak Diandra setelah terdengar suara krak dari kaki Diandra.
Uno juga meringis menahan sakit saat lengannya di cengkeram erat oleh Diandra.
Dimitri langsung memberikan salep dan memberi alat penyangga kecil untuk kaki Diandra, kaki Diandra di balut perban.
"Minum obat ini kalau kamu merasakan nyeri, tapi kalau tidak ya tidak perlu. Jangan gunakan kaki kamu untuk banyak jalan dulu selama 1 bulanan."
"Terima kasih, Dokter Dimitri," ucap Uno, Dimitri mengangguk.
"Aku akan mengantar Dimitri keluar sebentar." Devon dan Dimitri izin keluar. Devon memegang pundak saudara sepupunya itu. "Kamu ke mana saja beberapa hari ini?"
"Aku menginap di rumah kekasihku," jawabnya santai.
"Jawab saja tidak tau."
"Kamu kenapa, Dimitri?"
"Aku tidak apa-apa, Devon. Sudah! Kamu jangan mencemaskan aku, aku tidak akan apa-apa."
"Kamu jangan berbuat hal gila, Dimitri. Apa lagi yang kamu cari? Kamu memiliki istri dan anak, keluarga kamu sudah sempurna, apalagi yang kamu inginkan?"
Dimitri tidak menjawab, hanya melihat ke arah Devon dengan tatapan seolah Devon belum tau semuanya. "Kamu tidak tau apa-apa, Devon."
"Kalau begitu, katakan ada apa? Aku akan mencoba membantu kamu, jangan pergi begitu saja, apa kamu tidak kasihan dengan istri dan anak kamu, kamu kan yang memilih sendiri istri kamu itu, dan anak kalian tidak salah apa-apa. Jadilah ayah dan suami yang bertanggung jawab."
"Aku akan lakukan itu, jika dia tidak menyakitiku."
"Maksud kamu?"
"Sudahlah! Aku mau ke rumah sakit. Aku sudah terlambat."
"Dimitri, apa kamu tidak takut jika pacar kekasih kamu yang waktu itu mencari masalah lagi sama kamu?"
__ADS_1
"Mereka sudah putus, lagian ada kamu nanti yang akan menolongku."
"Enak saja, memangnya aku bodyguard kamu, gila kamu. Sebiknya kamu jauhi dia, kalau dia hamil itu bagaimana? Kamu akan mendapat masalah."
Dimitri tersenyum. "Aku malah mengharapkan seperti itu." Dimitri menepuk pundak Devon dan pergi dari sana.
Devon melihat bingung pada sauadara sepupunya itu, dan dia kembali ke dalam ruang kesehatan.
Diandra memaksa ingin latihan, dia merasakan kakinya sudah baikkan. Uno akhirnya menggendong Diandra dan meletakkan Diandra duduk di kursinya, kemudian Binna izin berganti baju dulu.
"Kak Devon, Kakak kenapa mengikuti aku?" Binna melihat Kak Devon berjalan di belakangnya.
"Aku kan sudah janji aku akan mengikuti kamu, menjaga kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian."
"Inikan di kampus kakakku, lagian kak Nico tidak ada di sini. Kakak tenang saja, lagian aku malu kalau Kakak mengikutiku."
"Malu kenapa? Aku hanya akan menunggui kamu di depan pintu, tapi kalau kamu mau aku masuk ke dalam ya tidak apa-apa," celetuknya ngasal.
"Dasar pikiran Kakak mesum. Ya sudah, aku akan berganti baju." Binna berjalan dan Kak Devon mengikuti Binna. Binna mencari ruang untuk ganti setelah tadi di beritahu oleh Uno.
Tidak lama Binna keluar dengan celana legging hitam dan atasan panjang berwarna abu-abu panjang, dan dia bentuk pita bagian bawahnya.
"Cantik."
"Apa sih, Kak. Sudah! Jangan melihatku terus, nanti pikiran Kakak jalan ke mana-mana."
"Tidak masalah, aku kan calon suami kamu."
"Masih calon, belum jadi suami sungguhan, bisa saja semua berubah."
"Jangan memancing masalah denganku Binna. Aku pastikan kamu akan menjadi calon istriku. Tidak akan aku lepaskan." Devon menahan Binna dengan memeluknya dari belakang.
"Jangan begini, Kak. Tidak enak dilihat sama teman-teman kak Uno di sini nanti."
"Biarkan saja, biar mereka tau kalau adiknya Uno yang cantik ini sudah memiliki calon suami."
"Lepaskan!" Binna menggeliat.
"Katakan dulu, kalau kamu akan menikah denganku?"
Binna ini sebenarnya senang dengan perlakuan kak Devon, dia mulai jatuh cinta kayaknya sama Devon. Makhlum dia kan tidak pernah merasakan hal seperti ini. "Aku tidak mau."
"Binna!"
__ADS_1