Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Penolakan


__ADS_3

Binna masih memandangi uang yang disodorkan oleh Devon. Dia sambil mengingat-ingat perihal uang itu.


"Kamu kan yang memberikan waktu itu? aku tidak membutuhkan uang dari kamu." Devon mengangkat salah satu tangan Binna dan memberikan uang itu pada telapak tangannya.


"Ini--?" Binna mulai teringat kejadian tadi pagi. "Jadi kamu pria yang akan memberikan tumpangan untukku? dan kamu cowok yang akan di jodohkan denganku?" tanyanya tidak percaya.


"Iya, aku cowok itu." Pria itu menatap tegas dengan salah satu tangan di masukkan ke dalam salah satu kantong celananya.


Binna masih menatap cowok yang ada di depannya dari atas sampai bawah. "Apa kamu sudah tau kalau aku yang akan di jodohkan dengan kamu waktu itu?"


"Aku tau, tapi aku juga tidak menyangka jika akan bertemu dengan kamu seperti waktu itu."


"Kamu pasti bohong! kamu sengaja kan tadi pagi mengikutiku saat aku kesekolah?" Binna menatap dengan curiga pada Devon.


Devon justru memberikan senyum devilnya. Devon kemudian menunduk menyejajarkan kepalanya dengan Binna. Binna yang melihat wajah Devon mendekat segera memundurkan wajahnya dengan muka cemberut.


"Aku ada pekerjaan yang lebih penting daripada aku harus mengukuti kamu ke sekolah," ucapnya tegas dan mukanya itu, bagi Binna menyebalkan.


"Jadi, kalai begitu kamu tidak suka kan sama aku?" celetuk Binna binggung sebenarnya.


"Apa maksud kamu?" kedua alis Devon berkerut.


"Em ... begini, sebenarnya aku tidak setuju dengan perjodohan kita ini, aku tidak menyukai kamu, Kak Devon."


Deg ...


Seketika ada yang berdenyut aneh dan rasanya tidak enak di dada Devon. Muka Devon tampak masih datar dan agak serius. "Lalu? apa kamu ingin agar aku membatalkan perjodohan ini?" tanya Devon to the point seolah dia tau maksud Binna.


Binna mengangguk perlahan, sambil sedikit menunduk melirik pada Devon. "Maaf, bukannya aku tidak menyukai kamu, kamu tampan, dan kelihatannya baik, ibuku juga tidak akan salah memilihkan jodoh untukku, tapi aku sudah mempunyai pacar, jadi aku tidak bisa nantinya menikah dengan kamu," jelas Binna dengan mengumpulkan segala kekuatannya mengatakan hal itu.


"Kalau begitu, kamu putuskan saja pacar kamu, dan menerima perjodohan ini," ucapnya santai.

__ADS_1


"Apa?!" Seketika Binna sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Devon. Kenapa malah menyuruhku memutuskan hubunganku sama paca aku?" muka Binna sekarang tampak marah.


"Karena kamu akan menikah denganku, jadi jangan buat kekasih kamu berharap banyak, karena kamu menikah denganku," ucapanya tegas.


Binna sampai membuka mulutnya menganga. Dia tidak menyangka dengan jawab Devon. "Kamu ini apa tidak paham dengan ucapanku? aku tidak mau dengan perjodohan ini, aku mempunyai seorang kekasih, dan aku sangat mencintainya."


"Aku tidak peduli, kalau kamu memang ingin menolak perjodohan ini, kamu bilang saja sama Ibu kamu, kalau aku tidak mau, karena aku tidak mau membuat orang yang sangat cintai bersedih, tapi kalau kamu mau, kamu bisa bilang sendiri."


Binna seketika terdiam, cowok ini benar-benar susah untuk di ajak negosiasi. "Kamua kenapa seolah tidak mau menolak perjodohan ini? kamu tidak mungkin, kan? kalau kamu menyukaiku, mana ada orang menyukai hanya dari pertama kali melihat foto." Binna tersenyum meremehkan.


"Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan membuat orang lain sedih, dan aku tidak ingin melihat mamaku bersedih, sudah banyak kessdihan yang pernah dia dapatkan." Devon menatapa Binna.


Seketika muka Binna terlihat menunduk, dia juga tidak mau menyakiti ibunya, tapi kalau dia menerima perjodohan ini, sama saja dia menyakiti Lukas.


Binna berpikir lebih baik dia menunggu sampai Lukas bertemu dengan ibunya, siapa tau ibunya akan lebih menyukai Lukas daripada ibunya akan berpaling dan malah menyetujui hubungan aku dengan Lukas.


"Apa ada lagi yang perlu di bicarakan? kalau tidak, aku mau pergi." Devon menunjukka muka dinginnya.


"Aku tidak punya kekasih, apa itu penting? kenapa kamu seolah mencari agar aku memutuskan perjodohan ini?"


"A-aku--?" Binna bingung ini kenapa Devon seolah tau apa yang Binna pikirkan.


"Aku mau masuk dulu kalau begitu."


"Hei! tunggu!" Binna belum selesai bicara, kenapa dia malah tiba-tiba pergi. "Kak Devon ...! tunggu." Binna berusaha berlari mengejar Devon.


Bruk ...


Binna tiba-tiba menabrak punggung Devon sampai terpental jatuh di bawah kaki Devon. "Aduh!" hidungku sakit," erangnya kesakitan.


Devon menoleh dan melihat Binna yang sudah bersimpuh di bawah kaki Devon, Devon duduk berjongkok. "Kami tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, dasar kutub utara! aku masih mau bicara, kamu ingin pergi saja," ucap Binna sebal.


Devon mengulurkan tangannya, tapi Binna tidak mau ditolongnya. Binna berusaha berdiri, tapi ternyata kakinya terasa sakit. "Aduh! sakit." Muka Binna meringis kesakitan.


"Bisa jalan tidak?" tanya Devon tegas.


Binna menatap kesal pada Devon. "Aku bisa." Sekali lagi Binna berusaha melangkah, tapi dia menahan sakit. "Kenapa sakit begini?" gerutunya pelan.


Blup ...


Tiba-tiba Binna sudah ada di gendongan Devon, Binna sangat terkejut ketika tubuhnya sekarang ada di dalam pelukan Devon. "Kaki kamu terkilir dan harus di pijat, jangan memaksakan untuk tetap berjalan, atau kamu tidak akan bisa mengikuti kompetisi menari."


Seketika Binna yang mau berontak terdiam saat mendengar kata-kata Devon. Devon membawa Binna masuk ke dalam. Keluarga Devon yang melihatnya terkejut. "Binna kenapa?" tanya Uno langsung yang melihat adiknya di gendong oleh Devon.


"Kakinya terkilir saat dia berlari mau mengejarku, apa aku boleh membawanya ke kamarnya? aku akan menghubungi temanku yang bisa mengobati kaki Binna."


"Kamu baik-baik saja kan, Binna?" tanya Arana menghampiri Sabinna.


"Aku tidak apa-apa, tadi aku tidak sengaja berlari di dekat kolam, mungkin licin dan akhirnya terpeleset."


"Kamu itu!" Arana sedikit kesal dengan tingkah putrinya yang memang super aktif. "Ya sudah kamu bawa saja, dia ke kamarnya, Zia akan mengantarkan kamu.


Devon membawa Binna ke kamarnya, Zia yang membuka pintua dan Devon masuk, dia meletakkan Binna di atas tempat tidurnya. "Aku akan menyuruh teman aku ke sini, dia tau masalah seperti ini." Devon berdiri dan menghubungi seseorang, Binna hanya menatapnya kesal.


"Binna kamu butuh sesuatu?" Tanya Zia, Binna menggeleng. "Kakak akan ambilkan kamu air minum saja, Devon tolong jaga Sabinna sebentar." Devon mengangguk perlahan.


"Ini semua gara-gara kamu, bagaimana kalau aku tidak bisa ikut dalam kompetisi menari itu?" gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya tidak usa ikut, lagian aku tetap akan menikah denganmu walaupun kamu tidak jadi juara dalam kompetisi itu," celetuknya empuk sekali, wkakakak.


Ini cowok benaran seenaknya pokoknya, dan kenapa dia ngebet banget sama Sabinna ya? apa benar dia jatuh cinta dengan Binna hanya dari foto?

__ADS_1


__ADS_2