
Ceklek ...
Saat pintu kamar itu di buka, mata Sabinna membelalak melihat isi kamar dari Devon, kamar dengan di dominasi warna hitam dan putih itu tampak sangat elegan dan mewah. Ada walk in closet yang sangat besar di sana. Devon mengajak Sabinn berkeliling. Menunjukkan setiap ruang di sana. Devon mengajak Binna melihat isi kamar mandi mereka.
"Bagus sekali, apa kak Devon yang desain semua ini sendiri." Mata Binna berbinar melihat kamar mandi di sana yang ada sebuah jacuzzi.
"Apa kamu suka?" tanya Devon dengan suara lembutnya.
Sabinna yang mendengar hal itu sekarang tampak bingung melihat ke arah Devon. "Kak Devon kenapa yakin sekali menyiapkan ini semua? aku kan belum bilang menerima perjodohan ini."
"Memangnya siapa yang akan menikahi kamu selain aku? Kekasih kamu yang bernama Lukas itu? Aku akan menculikmu jika ada orang lain yang akan menikahi kamu."
Binna yang mau berkata tidak jadi saat tangannya tiba-tiba di bawa oleh Devon menuju ke ruangan satunya, ini pokoknya kamar Devon sangat besar.
Ceklek ...
Saat pintu di buka, mata Binna mendelik melihat apa yang ada di depanya, sebuah ruangan dengan kaca besar hampir memenuhi seluruh ruangan, dan ada beberapa foto Sabinna di sana, dan yang paling membuat Binna terkesiap selain fotonya, ada sebuah tiang berdiri di sana.
"Ini ruang tari?"
"Iya, kamu kan suka menari, dan aku sudah menyiapkan ruangan impian kamu."
"Ini kan, tiang yang biasa digunakan untuk pole dance." Binna mengusap perlahan tiang yang biasa digunakan oleh penari pole dance. Wkakakak otak author jadi traveling, apa maksud Devon ini.
"Iya, aku tau ayah kamu mengizinkan kamu menari semua jenis tarian, hanya dia tidak mengizinkan kamu menari pole dance, Kan? Kalau di sini kamu boleh melakukannya, tapi hanya aku yang boleh melihatnya."
Blup ...
Tiba-tiba Devon memeluk Binna dari belakang. Binna yang mendapat pelukan hangat nan dirasa tulus itu hanya bisa terdiam. Dalam hati dia sangat bingung dan bertanya-tanya, kenapa cowok ini begitu tau apa yang diinginkan dirinya?
__ADS_1
"Jadi, masih mau menolak menikah denganku?" tanya Devon lembut pada telinga Sabinna.
"A-aku--." Binna terdiam tidak meneruskan kata-katanya. Tidak lama Binna melepaskan tangan Devon. Dia menoleh melihat kearah Devon. "Kak, apa kakak sangat mencintaiku, jujur saja. aku tidak mempunyai perasaan apa-apa sama Kak Devon, aku mencintai orang lain, yaitu, Lukas." Tatap Binna serius.
"Apa Lukas juga mencintai kamu?"
"Dia--?" Binna bingung, selama ini memang Lukas tidak pernah menyatakan cinta padanya, hanya sikapnya saja yang perhatian sama dia, bahkan mereka saja tidak pernah ada kata kamu mau jadi pacar aku? Hanya sebatas saling perhatian.
"Aku sudah menyukai kamu dari sewaktu kita kecil, Binna," ucap Devon cepat.
"Apa?! apa maksud dari menyukaiku dari kecil?"
"Apa kamu lupa dengan anak laki-laki yang dulu kamu tolong dan kamu tempelkan plester di dahinya, dan kamu memberinya sebuah kecupan kecil pada luka di dahinya?" Devon mengambil sesuatu pada laci yang ada di ruangan tari itu. Ada sebuah kotak kecil transparan dan Devon membukanya. Sebuah plester berwarna putih dan ada bercak darah yang sudah mengering di sana.
"Ini apa?" Binna benaran bingung.
Flashback
"Jangan menangis, kamu kan laki-laki, anak laki-laki harus kuat," suara gadis kecil dengan dress putihnya duduk di depan bocah laki-laki itu, dia membuka tas ransel kecil yang selalu di bawanya, dia mengeluarkan sebuah plester dan dengan lembut menempelkan pada dahi bocah laki-laki itu, bocah laki-laki itu hanya terdiam membiarkan gadis kecil itu melakukan apa yang dia mau lakukan.
Cup ...
Sebuah kecupan kecil mendarat pada dahi bocah laki-laki itu yang usianya seusia kakaknya Uno.
"Sudah sembuh, kata ibuku kecupan kasih sayang bisa mengobati rasa sakit, ibuku jika aku terluka selalu memberiku kecupan seperti itu." Gadis itu berdiri dan berjalan pergi dari sana.
Tidak lama Arana yang membawa Sabinna berkunjung ke rumah orang tua Tia izin pulang, Devon yang waktu itu masih kecil dan memang dia agak tertutup melihat Sabinna dari balik tembok, dia tidak mau keluar, hanya dia tersenyum melihat gadis kecil itu tersenyum dari jauh pada Devon.
"Devon, sini, Nak! kamu kenapa malah tidak mau keluar?" seru Tia agak kesal dengan putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Biarkan saja, mungkin dia agak malu, kamu tau kan, kita juga jaranf bertemu, kamu pas kesini dan aku pas juga bisa menemui kamu ke sini, besok kamu mau kembali ke luar negeri, Kan? salam saja buat suami dan keluarga kamu di sana." Setelah mengatakan itu Arana dan Tia saling berpelukan.
"Salam juga buat suami dan anak-anak kamu lainnya lain kali kita akan bertemu lebih lama. Aku kesini hanya dua hari untuk menyelesaikan masalahku dengan Aldo, kamu tau kan, Arana," suara Tia terdengar lirih.
"Iya, aku tau, semoga segera selesai." Arana mengusap lembut tangan Tia dan kemudian Arana keluar dari rumah Tia. Setelah kepergian Aranan, Devon kecil keluar dari dalam dan memeluk mamanya.
"Ma, dia siapa?" Tanya Devon kecil.
"Itu tante Arana dan putrinya, namanya Sabinna. Kamu tadi kenapa tidak mau keluar? apa kamu tadi bertemu dengan Sabinna, dia tadi bilang mau main di taman."
Devon mengangguk. "Ma, aku mau jika besar nanti menikah dengan Sabinna," celetuk bocah laki-laki itu secara lugas.
Mata Tia terbelalak sambil tersenyum mendengar apa yang barusan di katakan oleh bocah laki-lakinya yang masih berusia 7 tahun itu. "Kamu menyukainya? Lalu bagaimana dengan si Karla yang suka main ke rumah kita itu?"
Bocah laki-laki itu hanya terdiam dan pergi dari sana, Tia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan bocah kecilnya itu.
Flashback Off
"Jujur saja, aku lupa dengan semua kejadian itu, lagian itukan masih kecil, kenapa dibawa sampai sekarang?" Binna mengerucutkan bibirnya.
"Terserah kamu bilang apa, bagiku itu janji yang harus aku tepati." Devon berjalan tegas keluar dari sana.
"Kak ...! dengarkan aku dulu." Binna berlari mengejar Devon. Sampai akhirnya di malah jatuh.
"Binna!" Devon terkejut dan berbalik menghampiri Sabinna, dia dengan cepat menggendong Sabinna dan meletakkannya di atas ranjang, jarak pandang mereka sangat dekat, bahkan Binna dapat mencium aroma napas Devon.
"Kak--."
Cup ...
__ADS_1
Maaf ya, telat, author rada K.O.
Besok tidak tau bisa up apa gak. Kakak semua jaga kesehatan ya.