
Sabinna mencoba gaun yang diberikan oleh Kak Devon, dan ternyata lagi-lagi gaun itu terlihat pas pada tubuh Sabinna.
"Tuch, Kan! Dia sekali lagi bisa pas sekali membeli gaun untukku, seolah dia sudah tau detail bentuk tubuhku," dialog Sabinna sendiri.
Tidak lama ponsel Sabinna berdering, Binna sudah tau itu pasti dari kak Devon.
"Halo, Kak."
"Ternyata kamu sudah tau kalau aku yang menelepon, apa kamu memang sudah menungguku?"
Binna memutar kepalanya malas. "Aku tidak menunggu, aku sudah tau kalau kakak yang akan menelepon karena gaun kakak ini."
"Kalau begitu nanti malam tunggu aku di rumah, Ya? Aku akan menjemput kamu. Bye calon istirku."
Binna mengerutkan kedua alisnya. Ini tumben si pria kutub utara berkata semanis ini. "Iya, bye." Binna menutup teleponnya.
"Devon." Tiba-tiba Karla memeluk Devon dari belakang, bergelayut pada pundak Devon. "Kamu nanti mau ke mana? Apa akua boleh ikut? Aku bosan di rumah sendirian," ucapnya manja.
"Aku akan pergi ke acara pesta ulang tahun sahabat Sabinna, jadi aku tidak bisa mengajak kamu. Kalau kamu bosan di sini, kamu bisa kembali ke Belanda saja." Devon melepaskan pegangan tangannya.
"Aku tidak mau, kamu kan tau, kalau aku ingin melihat kamu menikah dengan Binna, dan aku tidak akan kembali ke Belanda sampai melihat kamu menikah dengan Binna.
'Dalam hatinya, Karla berharap pernikahan Binna dan Devon tidak akan terjadi, dia akan berusaha melakukan sesuatu agar pernikahan itu batal.'
"Aku tidak bisa mengajak kamu." Kak Devon pergi dari sana,
Sedangkan di tempat Uno, mereka berhenti di sebuah cafe, di mana cafe itu menjual berbagai macam ice cream. Diandra tadi bilang ingin makan ice cream.
"Sayang, kamu suka ice creamnya?"
"Suka Uno. Uno, memangnya kamu mau mengajak aku ke mana?"
"Kamu tidak perlu tau, karena ini adalah kejutan, aku sudah mempersiapkan semuanya, anggap saja ini hadiah buat ulang tahun kamu." Uno mencubit kecil hidung Diandra.
"Hadiah ulang tahun? Tapi ulang tahunku sudah lewat, dan itu sudah bulan kemarin."
"Maka dari itu, aku mau memberi kamu hadiah, karena aku belum memberi kamu hadiah."
Dari kejauhan seseorang melihat Uno dan Diandra, tapi seseorang itu tidak dapat melihat wajah Diandra. Dia hanya melihat wajah Uno sedang duduk berdua menikmati ice cream mereka.
__ADS_1
"Itukan, Uno. Apa dengan Zia?" Ternyata yang melihat itu adalah Dion. "Tapi sepertinya bukan, gadis itu cantik. Mungkin kekasihnya Uno."
Dion bisa melihat wajah Diandra dari kejauhan saat Uno tertawa dan menunduk sekilas.
"Apa Zia sedang di rumah?"
Tidak lama Dion mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zia. "Halo," jawab Zia malas.
"Zia, kamu di mana?"
"Aku di rumah Dion, ada apa?" Zia ini tidak tertarik sama sekali dengan Dion, bahkan sama siapa saja.
"Kenapa kamu tidak keluar sama adik kamu, Uno?"
"Uno sedang ada urusan di kampusnya."
"Urusan di kampusnya? Tapi aku lihat Uno di sini sama seorang gadis yang cantik, apa kamu tidak mau jalan-jalan juga? Aku bisa menjemput kamu, kalau kamu mau?"
"Apa? Uno dengan gadis cantik? Kamu melihat Uno di mana?"
"Di cafe Ice Yummy.Dia sedang menikmati ice cream dengan seorang gadis, sepertinya itu kekasihnya."
"Dia cantik, rambutnya di kuncir sembarangan dan--. Aku tidak bisa melihat lagi, karena tertutup Uno."
"Apa Dia buta?" tanya Zia kemudian.
"Buta?" Dion agak bingung. "Dia sepertinya bukan gadis buta, dia biasa saja. Memangnya Uno punya kekasih buta?"
Zia terdiam sejenak. "Kenapa aku ini? Kenapa aku curiga dia bersama Diandra? Uno tidak mungkin sama Diandra, Uno tidak akan mungkin memilih Diandra si gadis buta itu."
"Zia, bagaimana tawaran aku untuk mengajak kamu jalan-jalan?"
"Baiklah aku mau. Kamu tunggu saja aku di cafe itu, aku akan ke sana." Zia dengan cepat menutup panggilannya, dan dia ingin segera ke cafe itu untuk melihat siapa kekasih adiknya itu.
Dion duduk agak jauh dari Uno. Dia sebenarnya mau menghampiri, tapi dia urungkan karena tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. "Sebaiknya aku tunggu Zia saja."
Beberapa menit kemudian. Zia datang ke cafe itu, kedua mata Zia mengedar mencari ke seluruh cafe. Dia mencari Uno.
"Zia!" teriak Dion sambil melambaikan tangannya. Zia berjalan ke arah Dion yang sedang duduk santai dengan segelas minuman milkshakenya.
__ADS_1
"Dion, mana adikku Uno?"
"Di sana." Dion menunjuk bangku diisi dua orang, tapi ternyata sudah kosong. "Loh! Kok tidak ada? Apa mereka sudah pergi?"
"Pergi? Kenapa kamu membiarkan mereka pergi?" tanya Zia kesal.
"Aku tidak tau, tadi aku mau menghampiri mereka, tapi aku tidak mau mengganggu mereka. Jadi aku duduk di sini saja menunggu kamu."
Zia terlihat sangat marah sekarang. Dia tidak bisa mengetahui siapa kekasih Uno. Di kampus juga dia mencari tau, tapi sepertinya gadis itu bukan dari kampus.
"Kalau begitu untuk apa aku ke sini? Aku mau pulang saja."
"Zia tunggu!" Dion memegangi tangan Zia, dan menatap Zia aneh.
"Kamu ini kenapa, Zia? Kenapa marah-marah begitu? Bukannya kamu ke sini karena menerima tawaranku untuk jalan-jalan. Lagian kenapa kalau kamu tidak bertemu dengan adik kamu? Dia, kan, bersama kekasihnya."
Zia sekarang tampak bingung. Dia hampir saja menunjukkan jika dia ada perasaan pada adiknya.
"Aku juga ingin bertemu Uno, Dion. Aku ingin tau sekarang dia berpacaran sama siapa? Aku tidak mau adikku itu punya hubungan dengan seorang gadis yang salah seperti dengan Cerry."
"Kamu sangat perhatian sekali sama adik kamu, tapi dia itu, kan, seorang cowok. Aku yakin Uno bisa menjaga dirinya. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu."
"Iya, tapi aku benar-benar tidak mau Uno nanti sampai di jebak oleh seorang gadis, mereka itu licik."
"Tenanglah, sekarang aku akan memesankan kamu minuman dingin yang bisa menenangkan kamu."
Dion akhirnya jadi kencan sama Zia. Semoga Dion bisa membuat Zia menyukainya. Semoga. Ya.
Uno ternyata sudah pergi dari tadi sama Diandra. Uno membawa Diandra ke suatu tempat.
Terlihat Uno memberikan beberapa lembar uang kepada seseorang. "Semua sudah aku siapkan. Kalian bisa bersenang-senang, aku akan pergi dulu." Cowok itu pergi dari sana.
"Uno, memangnya ini di mana?" Diandra ini agak bingung.
"Kamu duduk dulu di sini." Uno mendudukan Diandra di depan meja bundar dengan ada lilin dan hidangan di atasnya.
"Uno, ini di mana? Kenapa kamu membuat aku bertanya-tanya seperti ini?"
Hanya 1 bab, ya.
__ADS_1