
"Aku punya pacar, Kakak saja yang merebutku dari kekasihku." Binna bersedekap.
Devon menghentikan mobilnya. "Aku merebut kamu dari kekasih, kamu? Memangnya siapa kekasih kamu?"
Binna langsung terdiam. Dia bingung mau menjawab apa." Em ... itu ...?"
"Lukas, si cowok kalem dan pendiam itu? Kalian, Kan cuma dekat. Belum berpacaran, lagian di mana dia. Dia bahkan tidak masuk sekolah sudah lama."
"Aku memang dekat sama dia waktu itu, habis dia baik sekali, lembut, tidak bar-bar seperti Kak Devon."
"Aku tidak bar-bar. Itu caraku menunjukkan rasa sayangku, makannya cepat menikah denganku, nanti aku tunjukkan bagaimana aku sayangnya sama kamu." Kak Devon kembali menjalankan mobilnya.
Binna hanya mengerutu pelan. Dia jadi teringat lagi sama Lukas, tapi kali ini dia tidak terlalu seperti dulu. Mungkin karena sudah lama dia tidak melihat Lukas, jadi rasa itu seolah sudah hilang.
Di sebuah rumah sakit. Di mana terlihat seorang wanita sedang terbaring dengan alat medis yang ada ditubuhnya, dan seorang anak muda sedang duduk di samping wanita yang terlihat cantik, tapi penampilannya sederhana.
"Ma, aku ada di sini, mama bangun. Aku sangat merindukan mama," ucapnya sambil memegangi tangan wanita itu.
Namun, dia tidak mendapat jawaban dari wanita itu. Tidak lama masuk seorang pria dengan muka yang hampir mirip dengan anak muda yang duduk dengan muka sedih. Pria itu berdiri tepat di samping pemuda itu, tangannya memegang pundak pemuda itu.
"Kamu tenang saja, mama kamu akan baik-baik saja. Ayah sudah memilihkan dokter terbaik di sini."
"Aku hanya ingin melihat mama tersenyum lagi, Yah."
"Dia akan segera sadar, kali ini ayah akan benar-benar menjaga mama kamu. Lukas, apa kamu tidak ingin kembali ke Indonesia? Bagaimana dengan gadis yang kamu ceritakan itu? Bukannya kamu ingin mendekatinya."
"Untuk saat ini, aku tidak mau memikirkan gadis itu dulu. Kesembuhan mama yang utama, semua ini juga salahku. Aku yang tidak becus menjaga mama."
"Jangan menyalahkan diri kamu. Sudah kamu istirahatlah dulu. Ayah besok masih ada urusan di tempat lain, dan ayah akan pergi ke rumah nenek kamu." Pria itu menepuk pundak putranya beberapa kali dan keluar dari ruangan itu.
"Jika mereka tidak membuat mama seperti ini, mama tidak akan mengalami hal seperti ini." Lukas berdialog sendiri.
Malam ini, keluarga Harajuna Atmaja sudah bersiap-siap. Tommy juga sudah ada di sana dengan Nina. Tommy memperkenalkan Nina pada Diandra.
"Gaun kamu cantik sekali, Diandra," puji Nina.
"Terima kasih, Tante Nina. Tante Nina juga pasti sangat cantik."
"Tante Nina memang dari dulu sangat cantik. Tapi sayang mendiang ibu kamu jauh lebih cantik, makannya ayah kamu lebih memilih menikah dengan ibu, kamu. Dan ternyata putrinya juga sangat cantik." Nina tertawa.
__ADS_1
"Nina." Tommy melihat ke arah Nina.
"Aku hanya bercanda, Tom."
"Tante Mara memang seorang desainer yang handal, dia pintar sekali memilihkan gaun yang pas untuk Kak Diandra, bahkan aku juga diberikan baju yang pas sekali untuk aku nanti tampil," terang Binna.
"Oh! Jadi baju ini tante Mara kamu yang memberikan Diandra?" Nina melihat ke arah Tommy. "Tante Mara kamu memang benar-benar hebat."
"Jadi Tante Nina kenal dengan tante Mara?"/tanya Diandra.
"Tentu saja, ayah kamu pernah menceritakan tentang tante Mara kamu."
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang. Tom, apa Mara juga nanti akan datang ke sini?" tanya Juna.
"Aku tidak tau, dia tidak menghubungiku, Juna."
"Tante Mara nanti langsung ke sana dengan nenek Kelli, Om."
"Ya sudah kita berangkat saja sekarang, nanti kita ketemu di sana."
Juna mengajak mereka berangkat. Juna, Arana serta Uno dan Zia dalam satu mobil. Diandra ikut dengan ayahnya dan Nina. Sedangkan Devon hanya berdua dengan Binna.
"Jangan merayu. Aku sudah terbiasa dengan rayuan Kakak itu. Oh ya! Kenapa Kakak tidak mengajak mama Kak Devon untuk ikut?"
"Mereka akan datang ke sana. Bersama Karla juga."
"Apa? Dengan Kak Karla? Kenapa Kakak mengajak dia juga?" Muka Binna sudah di tekuk kesal.
"Kasihan jika dia ditinggal sendirian di rumah, Binna. Kamu tidak perlu cemburu, aku dan dia hanya berteman, kamu, kan, sudah tau akan hal itu."
"Iya, itukan yang Kakak selalu katakan, tapi aku tidak tau pastinya hubungan kalian di belakangku."
"Aku tidak mau berdebat masalah ini. Jujur saja, aku menyukai jika kamu cemburu denganku, itu berarti kamu mencintaiku."
"Belum, aku belum mencintai Kak Devon. Kak Devon jangan kepedean."
"Aku tidak pede, tapi aku percaya dengan hatiku. Calon istriku."
Binna hanya terdiam, dia sebenarnya ingin tersenyum bahagia saat kak Devon menyebutnya calon istrinya.
__ADS_1
"Binna, aku sebenarnya tidak suka melihat kamu harus menari di lihat banyak orang begitu, jujur saja aku cemburu."
"Kak Devon ini. Aku kan menyukai menari dari kecil. Dan lagian aku nanti menarinya memakai baju sopan. Kakak tenang saja."
"Hem ...!" Devon hanya menjawab dengan deheman.
Tidak lama mereka sampai di kampus Uno. Sudah banyak yang datang ke sana. Mereka semua keluar dari dalam mobil.
"Wah! Indah sekali di sini. Aku tidak menyangka akan seindah ini dekorasinya," Binna sangat takjub.
"Selamat malam semua," Sapa seseorang yang datang ke sana.
"Eh, Kakak yang tadi siang, Ya?"
"Iya, aku Dion. Apa ini keluarga kamu semua, Binna?"
"Iya, Kak. Kakak juga sudah hadir di sini."
"Ibu, Ayah, perkenalkan ini Kak Dion, dia pemilik toko aksesoris di dekat kampus ini. Dia juga ikut menjadi donatur dalam acara bazzar amal ini."
Mereka semua berkenalan. "Dion, sepertinya aku pernah melihat wajah kamu, kamu mirip seseorang," kata Juna.
"Apa benar, Om. Padahal wajahku ini limited edition loh!" Mereka semua tertawa. Dion melihat ke arah Zia. "Zia, kamu cantik sekali malam ini. Gaun itu sangat cocok sama kamu."
"Terima kasih," jawab Zia singkat.
Arana dan Juna saling melihat. Arana sangat senang melihat sikap ramah Dion, dan sepertinya pria bernama Dion ini menyukai putrinya Zia.
"Kak Dion ini, yang di puji hanya Kak Zia. Apa aku dan Kak Diandra tidak cantik?" celetuk Binna sengaja menggoda Dion.
"Oh! Maaf. Kalian berdua juga cantik."
Zia tampak tidak bahagia dipuji oleh Dion, dia bahagia jika Uno yang memujinya. Wkakaka. "Ayo, kita masuk!" seru Zia cepat.
Mereka berjalan bersama, Uno sengaja menunggu orang-orang tidak fokus padanya, dia mendekati Diandra dan mengecup cepat pipi Diandra. "Uno!" tentu saja Diandra kaget.
"Kamu cantik sekali. Andai tidak ada acara ini. Aku akan menculikmu," bisik Uno.
Culik-culik, emangnya anak kucing main culik aja.
__ADS_1