Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Sok Menguasai


__ADS_3

Uno berjalan dan Zia memeluk lengan tangan Uno. "Kak, kenapa pakai memeluk begini?" tanya Uno yang merasa risih dengan pelukan kakaknya.


"Memangnya kenapa? Anggap saja aku kakak kamu yang menggandeng kamu, lagian kita biasa seperti ini dulu. Sudah! Ayo masuk ke dalam.


Dari kejauhan Binna dan Lila melihat hal itu, Binna tampak tidak suka melihat sikap kakaknya Zia itu.


"Kenapa itu si Kak Zia ikutan ke kampus? Bukannya di sudah lulus?"


"Mungkin ada urusan sama dosen, Binna. Kamu ini kenapa sih? Jangan-jangan kamu cemburu melihat kak Zia dekat sama Kakak ganteng kamu itu? Kamu bukan adik kandungnya juga ya?" cerocos Lila.


"Enak saja! Aku itu adik kandung Kak Uno. Lihat saja wajahku mirip sama Kak Uno. Aku lebih senang kakakku sama Kak Diandra, mereka lebih cocok."


"Ya sudahlah! Biarakan saja mereka, kita pergi saja ke kantin. Aku traktir kamu makan."


Saat mereka mau pergi, Binna melihat Cerry mantan kekasih Uno menyapa Uno, dan dengan tegas Zia menarik tangan Uno untuk pergi dari hadapan Cerry.


"Kamu ini kenapa sih, Kak Zia? Aku hanya menyapa Uno. Kamu jangan sok jadi seolah-olah Uno milik kamu, kamu itu hanya kakaknya, tapi sikap kamu seolah kamu itu istrinya saja. Menjijikan!"


"Apa kamu bilang?" Zia melepaskan tangannya pada lengan tangan Uno. "Aku berhak melarang Uno didekati oleh wanita siapapun, apalagi cewek genit seperti kamu. Asal kamu tau, ya! Uno adalah suamiku, dan kita sudah menikah." Zia dengan bangga dan sombongnya menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya.


Muka Cerry seketika tampak sok. Dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Zia. "Itu tidak mungkin, kalian suami istri? Uno, apa wanita ini sudah gila?" Uno hanya terdiam.


"Aku bukan kakak kandung Uno, dan aku sekarang adalah istri Uno. Jadi kamu jangan coba-coba mendekati Uno lagi! Atau kamu akan berurusan denganku," Zia tampak mengancam Cerry.


Uno yang malas mengurusi masalah itu berjalan meninggalkan Zia dan Cerry yang masih berdebat.


"Aku curiga dari dulu sama kamu, kamu pasti menyukai Uno sejak lama, aku melihat sikap kamu saja berbeda dengan Uno dan aku yakin kamu melakukan cara licik untuk bisa menjerat Uno."


"Kalau kamu pintar, cari saja bukti cara licikku." Zia meninggalkan Cerry di sana.

__ADS_1


Binna mendengar semua perdebatan mereka. Kak Zia memang jahat kalau yang di katakan oleh Cerry benar.


Zia pergi ke ruang dosen dan memberikan buah tangan yang di bawanya, kemudian dia menemui Uno yang duduk di dalam kelasnya sambil melihati foto Diandra.


"Uno, aku sudah menemui dosen dan aku akan pulang saja, nanti kamu tidak lembur lagi, Kan?"


"Aku tidak tau, Kak." Uno bicara dengan fokus pada ponselnya.


"Kamu melihati apa sih di ponsel kamu?"


"Aku merindukan Diandra, Kak. Aku ingin sekali bertemu dengan dia. Kapan kita akan mengakhiri pernikahan ini, Kak? Aku benar-benar sudah tidak tahan."


"Tunggu sebentar, Uno. Bagaimanapun kita tidak bisa melakukan hal secara cepat karena nanti ayah dan Ibu bisa curiga. Kamu tidak mau, kan, jika kita mendapat masalah baru?"


'Tidak akan semudah itu, adikku. Kamu hanya akan menjadi milikku, dan hanya aku. Semoga secepatnya aku mendapat kabar baik.' Dialognya dalam hati.


"Kak, kenapa tadi Kak Zia bersikap seperti itu pada Cerry? Seharusnya Kak Zia tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang pernikahan kita. Kita menyembunyikan semua ini dari anak-anak kampus, tapi kenapa malah Kakak membongkarnya?"


"Aku juga tidak akan tertarik lagi dengannya, Kak. Di pikiran dan hatiku hanya ada Diandra, jadi Kakak tidak perlu bersikap seperti tadi."


"Kakak minta maaf kalau kakak sudah keterlaluan. Kalau begitu kakak pulang dulu, kamu belajarlah dan nanti hati-hati kalau ke kantor. Nanti malam akan kakak siapkan makanan kesukaan kamu." Zia mengusap lembut pipi Uno dan pergi dari sana.


"Huft! Apa aku akan menjadi orang yang jahat jika aku meninggalkan Kak Zia. Kak Zia begitu baik dan sayang selama ini denganku."


Jam pelajaran di mulai semua di kelas Binna duduk dengan tenang. Lila duduk di bangku paling depan dan Binna duduk 3 bangku dari belakang Lila.


"Selamat pagi semua," sapa seorang dosen cantik dengan rambut di sanggul ke atas. "Hari ini ada mahasiswa baru yang akan masuk ke kelas kita."


"Ganteng tidak Bu orangnya?" celetuk salah satu mahasiswi di sana.

__ADS_1


"Kamu lihat saja sendiri. Kamu masuklah," panggil dosen wanita itu.


Masuklah seorang pria tinggi, berkulit putih dan dia memakai sweeter serta tas hitam di pundaknya. Seketika kedua mata Lila mendelik melihat siapa yang ada di depannya.


"Binna," terikanya pelan melihat ke arah belakang. Binna yang fokus entah nulis apa di bukunya mendengar suara samar teriakan kecil Lila. Dia mendongak melihat ke arah depan dan kedua mata Binna sekarang yang mendelik melihat siapa yang ada di depan kelasnya. "Lukas," lanjut Lila.


"Lu-lukas," Binna sampai terbata.


"Perkenalkan namaku Lukas, senang bisa berkenalan dengan kalian," Lukas tersenyum dan pandangannya melihat ke arah Sabinna.


"Kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" gerutu Binna pelan.


Lukas di persilakan duduk di bangku belakang tepat di sebelah Sabinna. Lukas sangat senang bisa duduk berdekatan dengan Sabinna. Sabinna yang bingung tidak karuan.


Pelajaran kembali di mulai dengan baik. Binna hanya bisa terdiam seolah-olah tidak mengenal dengan Lukas. Dia nanti pada saat jam istirahat akan mengatakan semua pada Lukas soal dia dan Kak Devon yang sudah menikah.


"Yah, apa aku boleh bicara sebentar dengan ayah?"


"Ada apa Zia, tumben kamu menghubungi ayah?"


"Yah, apa nanti kalau bisa jangan memberi pekerjaan yang banyak untuk Uno? Kemarin malam aku menunggunya untuk makan malam, tapi karena pekerjaan kantornya yang banyak dia jadi pulang larut, dan aku serta Uno tidak bisa makan malam bersama. Kasihan juga Uno harus seharian di luar."


"Oh soal itu, memang Uno ayah suruh memeriksa beberapa berkas di sana, tapi ayah tidak menyuruhnya lembur. Nanti ayah akan bilang Uno kalau begitu."


"Terima kasih, ya Yah. Zia sayang ayah."


"Ayah juga sayang kamu." Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.


Jam istirahat sudah tiba, Lila langsung menuju bangku Sabinna. Lukas pun beranjak dari tempatnya dan dia berdiri di depan Sabinna.

__ADS_1


Binna berdiri perlahan dan mereka saling berhadapan. "Binna, aku merindukan kamu." Lukas tiba-tiba memeluk Sabinna.


"Waduh!" Lila celingukan takut, dia takut ada yang melihat mereka berdua. "Syurkurlah, kela sepi."


__ADS_2