
Binna berjalan perlahan masuk ke dalam mansion, dia bertemu dengan ayah dan ibunya.
"Binna, kamu tadi di antar oleh Devon, Ya?"
"Iya, Bu." Binna duduk di depan Ibu dan Ayahnya.
"Tadi dia menghubungi Ibu dan bilang dia mengantar kamu ke prom night. Dia minta maaf belum bisa bertemu dengan ibu dan ayah karena takut kamu terlambat datang ke acara itu. Sebenarnya tadi tante Tia juga menghubungi ibu, dan bilang kalau Devon yang barusan datang dari Belanda, langsung dia berkeliling mencari gaun untuk kamu, dan langsung malamnya ke rumah buat jemput kamu. Devon itu sangat perhatian sama kamu."
Binna semakin merasa bersalah saat dia tau tentang apa yang di lakukan Kak Devon untuknya.
"Lalu di mana dia? Apa dia tidak masuk?" tanya ayah ganteng Harajuna.
"Dia tidak masuk, Yah. Katanya sudah malam, dia bilang besok dia akan datang untuk bertemu dengan ayah dan ibu."
"Kalian ada masalah?" tanya Arana curiga.
__ADS_1
"Tidak ada, Bu." Binna berusaha berbohong, dia tidak ingin kedua orang tuanya tau jika tadi di acara prom night mereka terlibat suatu masalah. "Ayah, Ibu, aku pergi ke kamarku, ya? Aku capek dan mengantuk sekali." Binna beranjak dari tempatnya dan mengecup pipi ayah dan ibunya. Kemudian dia naik ke lantai atas kamarnya.
"Juna, aku rasa putri kamu itu sedang ada masalah sama Devon. Aku tau, Binna tidak suka kita jodohkan dengan Devon, tapi aku sangat yakin nanti mereka akan saling mencintai, dan Devon adalah pria yang cocok buat Sabinna."
"Aku juga yakin sama seperti kamu, Devon anak yang baik. Semoga saja Devon bisa membuat putriku itu menyukainya. Seperti aku dulu bisa menahklukkan kamu dulu." Juna tersenyum devil.
Tidak lama mereka melihat Tommy masuk ke dalam rumah dengan wajah datarnya, Arana dan Juna saling memandang bingung pada Tommy.
"Malam semua," sapanya. Kemudian dia duduk di depan mereka berdua.
"Jadi, kamu makan malam dengan Nina? Aku kira kamu pergi dengan Mara? Apa kamu mencoba mendua, Tom?" Celetuk Arana ngasal.
"Bukan mendua, Sayang. Tommy sudah mencoba mengajak Mara pergi makan malam, sekalian Tommy ingin mencari tau ada apa dengan sikap Mara terhadap Tommy yang tiba-tiba seolah menghindar."
"Menghindar? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan pada Mara? Apa kamu sudah menyakitinya?"
__ADS_1
"Aku merasa waktu dia di Kanada, aku tidak melakukan apa-apa, Arana. Aku hanya mengatakan ingin melamarnya untuk menjadi istirku, karena aku mencintainya dan Diandra juga sangat menginginkan dia menjadi ibunya."
"Lalu?"
"Dia tidak menjawab, malah dia pergi dari sana, dan setelah itu dia seolah menghindar dariku, Arana."
"Kamu kurang mempersona, Tom."
"Juna, kita sedang tidak bercanda. Lalu sekarang kamu dekat dengan Nina karena Mara menghindari kamu?"
"Bukan begitu, Arana. Aku dan Nina hanya berteman, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa sama dia. Kebetulan beberapa hari yang lalu kita bertemu dan dia ingin bertemu dan mengobrol denganku. Dan malam ini dia mengajakku untuk makan malam."
"Apa sebaiknya kamu bersama Nina saja, Tom?"
"Tidak mungkin Juna. Aku benar-benar mencintai Mara. Dan tadi aku malah bertemu Mara dengan pria lain, dan kita berada di restoran yang sama."
__ADS_1
"Apa?!" Sepasang suami istri itu terkejut berjamaah.