
Karla masih dengan sikap manjanya pada Devon, dia mengegelayutkan kedua tangannya pada leher Devon.
"Aku kemarin malam barusan datang, dan tadi aku ke rumah kamu, kebetulan, your mom, mau keluar, dan bilang akan menemui kamu di sini untuk fitting baju pengantin."
"Lalu Mamaku, di mana?"
"Dia masih di toko kue tidak jauh dari sini. Aku di suruh ke sini dulu. Aku kangen sekali sama kamu."
Devon dan Karla tidak tau jika Sabinna sudah berdiri melihat mereka. Muka Sabinna agak ditekuk melihat mereka. Wajah tante Mona juga memandang heran pada mereka berdua.
"Ehem ... Devon, ini Sabinna," panggil lembut tante Mona.
Seketika Devon dan Karla menoleh ke asal suara itu. Devon menatap Sabinna dari ujung kaki sampai kepala. Bagi Devon, penampilan Sabinna memakai gaun pengantin itu sangat cantik.
"Cantik sekali," ucapnya lirih. Karla yang mendengar ucapan Devon melihat heran bahkan tidak suka. Karla melepas gelayutan tangannya pada leher Devon.
"Bagaimana? Apa menurut kamu baju pengantin ini sudah cocok untuk calon istri kamu?" tanya Tante Mona membantu Binna berjalan mendekat ke arah Devon.
"Sempurna, Tante. Sudah tidak ada yang perlu di rubah. Binna, apa kamu sudah nyaman dengan baju pengantin ini?"
"Kalau bagi Kak Devon aku cocok memakainya, aku buat nyaman saja," celetuk Binna terdengar kesal. Kedua mata Binna melirik ke arah Karla.
Devon sudah tau, ini calon istrinya kesal lagi rupanya. Devon mendekati Sabinna dan menelungsupkan tangannya pada pinggang Sabinna. Dia menarik pelan tubuh Sabinna mendekat ke arahnya.
"Kak, di sini banyak orang, sikap bar-bar kamu tolong di kendalikan," bisik Sabinna pelan. Kedua telapak tangannya menempel pada dada bidang Devon, seolah memberi jarak antara keduanya.
"Aku cuma ingin mengatakan, kamu tidak perlu marah dengan apa yang kamu lihat. Percayalah padaku." Kedua mata Sabinna membulat.
Tidak lama Tia masuk dan melihat putranya dan Sabinna. "Sayang, kamu cantik sekali!" serunya sambil berjalan mendekati Devon dan Binna. Sontak Binna langsung mendorong tubuh Kak Devon agar menjauh darinya.
__ADS_1
"Mama Tia." Binna memeluk calon mertuanya itu.
"Kamu cantik sekali, baju itu cocok sekali sama kamu." Tia memutar tubuh Binna agar dia dapat melihat keseluruhan baju yang di pakai oleh Binna. "Mona, kamu benar-benar yang terbaik. Calon menantuku tampak sangat cantik dengan baju ini."
"Terima kasih, Tia. Oha ya! Aku tinggal dulu sebentar, aku mau melihat apa baju kedua untuk acara Sabinna dan Devon juga sudah siap. Sedang di kerjakan oleh asistenku."
"Iya,silakan." Tante Mona berjalan pergi. "Binna, ini mama Tia tadi membelikan kue mochi kesukaan kamu, kata ibumu kamu suka kue mochi, dan tadi waktu datang ke sini, mama Tia melihat toko kue mochi. Jadi mama Tia belikan untuk kamu." Tia memberikan box berisi kue.
"Terima kasih, Mama Tia." Binna tersenyum menerima pemberian kue itu.
"Kalian berdua ini benar-benar tetlihat menakjubkan dengan baju itu. Benarkan, Karla?" Tia menoleh ke arah Karla.
"Iya, Tante." Karla mencoba memberikan senyum palsunya. 'Ck! Gadis ini dia biasa saja, apalagi dia masih kecil, lagian apa sih ya dilihat Tante Tia sama gadis ini. Aku yakin, dia gadis manja dan menyusahkan. Devon akan menyesal menikah dengannya.'
"Binna, mama lupa mengenalkan kamu dengan Karla. Karla ini teman Devon di Belanda, dan hubungan mereka ya sudah seperti saudara. Jadi mama Tia ingatkan, jangan cemburu padanya. Devon itu hanya mencintai kamu," jelas Tia langsung blak-blakan.
"Iya. Halo, Kak Karla, aku Sabinna." Binna menjulurkan tangannya. Karla pun dengan wajah pura-pura sok manisnya menerima uluran tangan Binna.
"Walaupun dia buka tipeku, tapi dia gadis yang aku cintai, Karla."
"Iya, aku hanya terkejut, Honey. Aku ikut senang melihat kamu akan menikah." Karla kembali menunjukkan senyum palsunya.
Beberapa jam berlalu setelah Binna mencoba beberapa baju dan gaun yang mama Devon siapkan. Devon akhirnya mengantarkan Sabinna pulang. Karla pun ikut ke dalam mobil Devon. Karla seolah tidak ingin membiarakan Devon dan Binna berduaan.
"Binna, apa kamu punya kekasih sebelum di jodohkan dengan Devon?" tanya Karla yang duduk di kursi belakang.
"Kekasih?"
"Iya, boyfriend. Kamu cantik, pasti banyak cowok yang suka sama kamu."
__ADS_1
"A-aku tidak punya kekasih, Kak Karla."
"Walaupun dia punya kekasih, aku tidak peduli, Binna akan menjadi milikku, Karla," ucap Devon tegas.
***
Diandra yang dari tadi berada di rumah Mara, tampak sangat bahagia. Dia menghabiskan waktunya dengan nenek dan tante kesayangannya itu. "Tante, bagaimana acara makan malam Tante Mara dengan ayahku waktu itu?"
Mara agak kaget, dia meletakkan sendok makannya dan melihat ke arah mamanya. "Em ... baik-baim saja, Diandra."
"Apa ayahku sudah mengatakan hal yang sangat penting sama Tante Mara? Ayah tidak mau cerita denganku, apa kalian mau memberiku kejutan?" Wajah Diandra tampak sangat berbinar. Mara yang melihatnya tampak merasa bersalah.
"Diandra, kami belum membicarakan hal yang serius. Ada banyak yang kita bicarakan, tapi belum mengenaik hal yang serius yang kamu maksud." Tangan Mara memegang tangan Diandra yang ada di atas meja.
"Apa Tante tidak ingin menikah dengan ayahku? Apa Tante tidak mencintai ayahku?"
"Diandra, ada banyak hal yang masih harus kita bicarakan, bukan hanya cinta. Ayah kamu sangat baik, dan aku sangat menyukai ayah kamu, tapi ada hal lainnya. Aku harap kamu mengerti. Diandra, walaupun tante tidak menikah dengan ayah kamu, tante tetap menyayangi kamu, bahkan tante bisa kamu anggap seperti mama kamu, tanpa harus menikah.
Diandra terdiam mendengar penjelasan Mara. Diandra mencoba memahami dan menghormati apapun keputusan tantenya. Dia juga tidak mau egois dan memaksakan apa yang tidak ingin dilakukan oleh tantenya, walaupun ada perasaan kecewa di hatinya.
"Selamat siang semua," sapa seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.
"Kella!" Mamanya Mara tampak terkejut melihat kedatangan saudara kembarnya itu.
"Tante, Kella." Mara berdiri dari tempatnya. "Tante Kapan pulang?" Mara berjalan dan menghampiri Kella, dia memeluk tantenya itu.
"Kemarin malam, Mara. Maaf, aku tidak memberitahu kalian.
"Kella, kedatangan kamu benar-benar mengejutkan, kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa menjemput kamu." Mamanya Mara juga menghampiri dan memeluk kakaknya itu.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ingin memberi kejutan sama kalian. Itu siapa?" Pandangan mata Kella sekarang beralih melihat seorang gadis cantik yang duduk di meja makan. Dan sekarang kedua bola matanya melebar melihat Diandra.
Apa kamu kenal dia nenek sihir? Wkakaka! Author masih dendam kayaknya.