Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kemarahan Sang Ayah


__ADS_3

Kak Devon sudah sampai di depan mansion kakek Bisma. Tadi dia di telepon oleh Arana, Arana merasa khawatir dengan anak-anaknya, dia mencoba menggubungi Binna dan Uno. Uno mengatakan jika dia akan segera pulang.


Dan saat menghubungi Binna. Devon yang menjawab, Arana mendesak Devon apa ada hal yang terjadi. Karena tidak mau membuat ibu Sabinna khawatir, Devon mengatakan akan segera membawa Sabinna pulang.


Tepat di depan pintu utama. Mobil Devon dan Uno berpapasan. Devon keluar sambil membawa Sabinna yang masih pingsan. Seketika Uno sangat kaget melihat adiknya.


"Kenapa dengan Binna, Devon?"


"Nanti aku jelaskan di dalam. Aku akan membawa Binna ke dalam dulu."


"Uno, ada apa?" tanya Diandra yang juga khawatir. Uno tidak menjawab, dia menggandeng tangan Diandra dan mengikuti Devon masuk ke dalam rumah.


"Devon! Sabinna kenapa?" sekarang gantian Arana yang bertanya cemas.


"Tante, Binna tidak apa-apa. Tadi aku sempat membawanya ke rumah sakit dan besok pagi dia akan siuman. Dia terkena obat bius." Devon meletakkan Binna di atas sofa panjang, dan Arana menungguinya.


"Apa?!" Uno dan Juna sama-sama kaget. "Maksud kamu apa dengan terkena obat bius?" tanya Juna.


"Kamu kan yang bersama dia, tapi kenapa kamu sampai membiarkan dia seperti ini?" Uno terlihat marah.


"Aku bisa jelaskan, aku sendiri tidak menyangka jika pria brengsek itu membuat rencana untuk menjebak Sabinna."


"Pria brengsek? Siapa maksud kamu, Devon?"


"Dia kekasih Lila, Om Juna." Devon menceritakan kejadian sebenarnya dari awal Binna pernah di goda dengan Nico, dan kejadian sekarang ini. "Tapi aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Om Juna jangan khawatir. Aku akan membuat dia menyesal berani menyakiti Sabinna.


Juna terdiam sejenak. "Aku yang akan mengurus pria itu. Dia sudah berani membuat putriku seperti ini. Pria itu harus menjauh dari sini." Kedua mata Juna menatap tajam.


"Aku akan memberi pelajar kepada cowok brengsek itu, Yah." Juna mencoba mencari tau dari Lila, tapi Diandra mencoba menenangkan Uno.


"Uno, jangan seperti itu. Ayah kamu nanti yang akan mengurusnya." Diandra memegang tangan Uno. Zia yang baru turun dari kamarnya melihat hal itu.


"Ada apa ini?" Zia tampak bingung.


"Tidak apa-apa, Zia. Sebaiknya kamu kembali ke kamar saja," kata Juna.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kenapa Binna seperti ini? Uno, Binna kenapa?"

__ADS_1


Uno diam saja dia tidak menjawab. Devon meminta izin untuk membawa Binna ke kamarnya dan Arana mengizinkannya.


"Kalian bertiga kembali ke kamar," titah Juna.


"Ayo, Diandra. Aku akan bantu kamu." Uno membantu Diandra naik ke lantai atas.


Zia masih terdiam di tempatnya. Dia hanya melihat dari bawah Uno dan Diandra. "Yah, aku ingin tau apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian tidak ada yang memberitahuku? Aku ini juga putri kalian."


"Zia! Apa kamu tidak mendengar apa kata ayah tadi? Kembali ke kamar kamu sekarang." Juna tampak tegas, dia pun berkacak pinggang. Zia yang melihat ayahnya mode seperti itu tidak mau banyak bicara, dia langsung naik ke lantai atas.


Zia ternyata tidak ke kamarnya, malah dia naik ke lantai kamar Uno. "Kalian sedang apa?"


Seketika Diandra dan Uno terkejut, mereka melepaskan pelukaannya. "Kak Zia, ada apa Kakak ke sini?"


"Aku mau melihat Binna. Kamu sendiri, kenapa berpelukan dengan Diandra?" tatapnya curiga.


"Maaf, Kak. Tadi aku hanya mencoba menenangkan Uno. Kalau begitu, sebaiknya aku ke kamar dulu." Diandra meraba pintu kamarnya dan masuk ke kamar.


Tinggal Uno dan Zia. Devon masih di kamar Binna. Dia masih menunggui Sabinna. Devon merasa sangat bersalah pada Sabinna.


"Maksud Kakak siapa orang luar?"


"Diandra, Uno! Dia orang luar, dan aku kakak kamu dan Binna."


"Dia bukan orang luar, Kak. Dia sudah seperti keluarga bagi kita."


"Ah sudahlah! Katakan? Apa yang terjadi dengan Binna?"


Uno menceritakan apa yang terjadi dengan Binna. "Kamu itu sebagai kakak laki-laki harus menjaga Binna. Jangan pacaran melulu!" Zia tiba-tiba marah pada Uno. Uno sontak saja kaget. Ini kenapa kakaknya malah bersikap seperti ini?"


"Maksud Kak Zia apa?"


"Maksud aku jelas, Uno. Kamu itu pikirannya pacaran terus, tidak pernah memikirkan adik dan kakak perempuan kamu. Apalagi sekarang ada Diandra, aku lihat kamu lebih dekat dengan dia."


Zia ini seolah marah tidak jelas.Setelah mengatakan hal itu. Zia pergi dari sana dengan marah.


Uno yang melihatnya tampak bingung. Tidak lama Devon keluar dari dalam kamar Binna.

__ADS_1


"Uno, Binna masih tertidur, besok pagi aku akan menemuinya ke sini. Aku mau permisi dulu."


"Devon, aku minta maaf, tidak seharusnya aku menyalahkan kamu. Aku yakin kamu cowok yang pantas untuk adikku Sabinna."


"Tidak apa-apa. Sebagai kakak laki-laki kami berhak marah seperti itu." Devon dan Uno saling berpelukan ala cowok macho.


Devon izin pergi, dia turun dan berpamitan kepada kedua orang tua Binna.


"Juna!" Arana memeluk Harajuna. "Aku seolah mengingat kejadian diriku dulu, aku benar-benar sangat takut. Apa yang terjadi jika sampai pria itu berbuat sesuatu sama Binna? Dia bukan kamu orang yang bertanggung jawab. Dia orang brengsek seperti Bruno." Arana menangis dalam dekapan Juna.


"Aku akan singkirkan anak itu. Dia harus menjauh dari pandanganku. Dia akan pergi dari sini," Kedua rahang Juna mengeras.


"Juna, apa yang akan kamu lakukan?"


"Itu akan menjadi urusanku. Kamu tidak perlu khawatir?"


"Juna, aku tidak mau kamu melakukan hal yang melanggar batas, dan jangan membuat kamu mendapat masalah."


"Kamu lupa siapa suami kamu."


"Juna, Justru aku tau siapa kamu. Aku jadi takut. Juna, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku katakan sama kamu."


Juna melihat aneh pada pada Arana. "Ada apa, Arana?"


"Juna, Zia sudah tau jika dia bukan anak kandung dari kita, dia sudah tau jika dia hanya anak angkat dari mantan kekasih kamu."


"Bagaimana dia bisa tau?"


"Dia pernah mendengar tentang pembicaraan tentang hal ini. Aku mengatakan jika dia tidak perlu mengatakan kepada Uno dan Binna tentang dia bukan kakak kandung mereka. Rahasia ini harus terus di sembunyikan. Aku tidak mau nanti akan ada jarak antara mereka, Juna. Dan aku mengatakan jika cinta dan rasa sayang kita berdua terhadap dia tidak akan berubah."


"Setelah masalah Binna selesai, aku akan berbicara dengan Zia. Sebaiknya sekarang kamu tidur saja.


"Aku akan ke kamar Binna, Juna. Aku akan menemani Binna tidur sampai dia nanti bangun."


Juna benar-benar di buat kesal dengan semua ini, dan dia juga kaget tentang Zia yang sudah mengetahui siapa dirinya.


Besok Bazzar Amalnya.

__ADS_1


__ADS_2