Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Zia, Uno, dan Diandra


__ADS_3

Uno menahan tangan kakaknya yang hendak mengajaknya ke kamarnya untuk mengobati lukanya. "Kak, kenapa kita tidak mengobati lukaku di ruang tengah saja? Di sana kan ada kotak P3K."


"Kakak ingin bicara sama kamu, Uno. Ada hal penting yang ingin kakak katakan sama kamu, dan kakak tidak mau orang lain mendengarnya," ucap Zia lirih.


"Hal penting apa? Apa ini berhubungan dengan cowok?" Uno melirik kakaknya jahil.


"Sudah, ikut kakak saja." Zia menggandeng tangan Uno dan mereka masuk ke dalam kamar Zia. Zia mengambil kotak obatnya dan mulai mengobati luka Uno.


"Kakak mau bicara apa?"


"Uno, kakak menyukai seseorang."


Uno langsung terkejut dan melihat cepat pada kakaknya. "Kakak serius? Siapa? Si cowok berkacamata itu? Seto?"


"Em ...? Bukan dia tapi orang lain."


"Siapa? Apa aku kenal sama orangnya?"


"Kamu tidak kenal, kakak sudah mencintainya sejak lama, hanya saja dia tidak tau kalau kakak mencintainya, tapi kakak yakin, jika dia tau kakak mencintainya, dia pasti akan menerima kakak."


"Tentu saja dia pasti menerima Kakak, hanya orang bodoh yang menolak Kak Zia. Kakak itu wanita yang sempurna. Cantik, baik, perhatian, dan pintar," puji Uno.


Kamu itu orang bodohnya, Uno. Wkakaka. Uno kan memang tidak tau Zia suka sama Uno.


"Apa kakak menyatakan dulu perasaan kakak sama dia, biar dia tau tentang perasaan kakak?"


"Jangan dunk, Kak. Kakak itu cewek, jangan terlalu menunjukkan bahwa kakak sangat mencintainya, biarakan dia yang merasakan dulu kalau kakak mencintainya, dan nanti dia akan mengatakan cintanya pada kakak."


"Tapi dia tidak tau kalau kakak mencintainya."

__ADS_1


"Suatu hari dia pasti tau, kalau kakak menyatakan cinta lebih dulu, aku malah melihat kakak seolah gadis-gadis yang suka mengejar-kejar aku itu." Expresi Uno tampak tidak suka.


"Jadi kakak menunggu saja?"


"Ya tidak menunggu juga, kakak kan sudah dekat sama dia, suatu saat pasti dia tau tentang perasaan kakak."


"Iya, kakak sangat dekat sama dia, dia cowok yang benar-benar kakak cintai, kakak sangat sayang sama dia." Zia tiba-tiba memeluk perut Uno yang duduk di sampingnya.


"Ya ampun! Ternyata kakak bisa jadi seperti ini saat jatuh cinta sama seseorang." Uno membalas pelukan kakaknya. "Aku jadi penasaran siapa pria itu? Kenalkan padaku, Kak."


"Nantu saja." Zia malah keenakan memeluk Uno.


"Ya sudah kalau tidak mau, yang jelas cowok itu jangan sampai menyakiti kakak aku, lihat saja kalau dia berani menyakiti kakak."


Beberapa menit kemudian Uno berpamitan mau kembali ke kamarnya, dia ingin tidur. Uno menuju kamarnya dan dia bertemu dengan Tommy yang baru saja keluar dari dalam kamar Diandra, Tommy dan Uno hanya saling melempar senyuman.


"Uno!" Teriaknya cepat.


"Diandra, ada apa?" suara Uno yang menjawab.


Diandra tampak kaget, dia langsung bangun dan duduk bersandar di pinggiran ranjangnya. "Uno! Kamu kenapa bisa berada di kamarku?"


"Maaf, aku diam-diam masuk kamar kamu. Aku hanya ingin melihat keadaan kamu."


"Aku tidak apa-apa, lagian kamu tidak sopan masuk diam-diam kamar seorang cewek begini, Uno."


Uno duduk lebih dekat dengan Diandra. "Aku minta maaf, kamu tau? Aku merasa bersalah sama kamu, seharusnya aku tidak meninggalkan kamu waktu itu, walaupun sebentar."


"Aku tidak menyalahkanmu, Uno. Mereka saja yang memang di dalam pikirannya di penuhi niat jahat. Apa wajah kamu baik-baik saja?" Tangan Diandra meraba wajah Uno. Dan dia merasakan ada plester yang menempel tepat pada bibir Uno.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, kemarin kak Zia sudah mengobati lukaku. Diandra, aku kemarin juga minta maaf sama ayah kamu, aku janji sama ayah kamu, kalau aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi seperti itu, aku akan menjaga kamu." Uno memegang tangan Diandra yang masih memegang pipi Uno.


Deg ... deg


Tiba-tiba jantung Diandra berdetak agak cepat, dia tidak tau apa yang terjadi dengannya, seolah hatinya ingin meloncat keluar bahagia mendengar ucapan Uno barusan.


"Diandra, hari ini kamu kan tidak mengajar, dan aku belum masuk kuliah. Apa kamu mau aku ajak ke suatu tempat?"


"Ke suatu tempat? Aku tidak mau pergi keluar lagi, Uno. Aku mau di rumah saja."


"Tenang saja, aku tidak akan mengajak kamu pergi keluar, kita tetap di dalam lingkungan mansion kakekku. Aku mau mengajak kamu ke paviliun di belakang rumah itu."


"Paviliun yang dulu kita sering main di tamannya?"


"Iya, aku punya kejutan buat kamu di sana?"


"Kejutan untukku? Kejutan apa, Uno?"


"Kalau aku bilang sekarang namanya bukan kejutan. Ya Sudah kamu berisiap dulu, kamu mandi, lalu kita makan pagi bersama. Aku pergi dulu, sebelum ada orang yang melihatku masuk ke dalam kamar kamu."


"Kamu itu suka sekali mencari masalah, Uno."


"Aku senang mencari masalah sama kamu, lagian kalau aku tadi tidak masuk ke dalam kamar kamu, aku tidak akan pernah tau kalau kamu sedang memimpikan aku. Apalagi tadi sampai memanggila namaku dengan keras begitu. Apa aku boleh tau? Kamu tadi memimpikan aku sedang apa?"


Diandra terdiam tidak mau menjawab ucapan Uno. "Sudah keluar sana, aku mau bersiap-siap. Sebentar lagi ayahku pasti ke sini."


"Ya sudah kalau tidak mau cerita, pasti mimpi yang menyenangkan, Ya?" Mata Diandra mendelik.


Uno mencubit kecil hidung Diandra lalu dengan cepat berlari keluar dari dalam kamar Diandra. Diandra tampak tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


__ADS_2