Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Prom Night


__ADS_3

Arana yang tidak ingin mengganggu mereka berbalik badan dan hendak pergi, tapi dia tidak sengaja malah menabrak meja.


"Aduh!" Wanita cantik itu memegangi kakinya. Seketika Uno dan Diandra menoleh ke asal suara itu.


Uno berjalan menghampiri ibunya yang masih memegangi kakinya. "Ibu! Ibu ada di sini? Dan kenapa kaki Ibu?" Tanya Uno memeriksa kakinya.


"Ibu terbentur meja."


"Ibu sedang mengintip, Ya? Makannya kakinya sampai terbentur begitu," celetuk Uno.


"Siapa yang mengintip, ibu tadi mau memanggil Diandra, tapi ibu lihat kalian sedang asik berdansa, jadi ibu tidak mau mengganggu."


"Ibu itu sudah menganggu." Uno memutar bola matanya jengah.


Diandra meraba-raba tangannya dan memegang Arana. "Ibu Arana baik-baik saja, Kan?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu senang melihat kamu bisa tersenyum bebas seperti tadi. Kalau mau kalian lanjutkan saja, ibu mau kembali menanam bunganya."


"Aku dan Uno sudah selesai, Bu. Maaf tadi aku meninggalkan tanaman bunga itu."


Arana memegang tangan Diandra. "Tidak apa-apa, sudah selesai pekerjaan kamu, hanya saja ibu tadi membawa lagi bibit bunga baru."


Tidak lama ponsel Uno berdering dan itu dari Zia kakaknya, Zia meminta Uno untuk menjemputnya karena dia sudah pulang.


"Kak Zia tumben sudah pulanga? Apa kuliahnya sudah selesai?"


"Mungkin sudah, Uno. Kalau kamu tidak bisa menjemputnya biar supir saja yang menjemputnya."


"Tidak usah, Bu. Biar aku yang menjemputnya, kakak bilang dia ingin aku yang menjemputnya. Dia ingin bicara denganku. Ibu tau tidak, kakak itu sedang jatuh cinta sama seseorang."


"Jatuh cinta? Sama siapa? Setahu ibu, Zia itu menutup diri akan hal-hal seperti itu." Kedua alis Arana berkerut.


"Aku juga tidak tau orangnya, kakak masih menyembunyikannya, dia hanya cerita padaku dan minta pendapatku."


"Dia memang paling dekat dengan kamu, Uno. Ya sudah, kalau begitu kamu jemput dia. Dan Diandra, kamu istirahat saja kalau capek."

__ADS_1


"Aku akan membantu Ibu Arana lagi, sekalian belajar tentang letak mansion ini, mansion ini sangat besar. Sayang aku tidak bisa melihat, pasti sangat indah."


"Memang sangat indah. Ya sudah, sini Ibu bantu."


"Bu, biar aku saja, sekalian aku mau menunjukkan jarak ruangan paviliun ini ke pintu keluar." Uno mengambil tangan Diandra dan memegangnya. Arana tersenyum dan dia berjalan lebih dulu.


Uno dengan telaten menuntun Diandra sampai mereka pada taman di mana Arana sudah ada di sana. "Mansion ini memang sangat indah, apalagi kamu ada di dalamnya," Bisik Uno pada telinga Diandra.


Uno langsung pergi dari sana. Diandra hanya tersenyum kecil mendengar apa yang di katakan oleh Uno.


"Bu, aku dengar Binna di jodohkan dengan anak dari sahabat Ibu? Apa itu benar?"


"Iya, Sayang. Binna akan Ibu nikahkan dengan anak dari sahabat ibu."


"Kenapa bukan Uno yang di jodohkan sama Ibu lebih dulu?"


"Menjodohkan Uno? Hadew!" Arana memutar bola matanya jengah. "Ibu kasihan sama gadis itu jika di jodohkan sama Uno. Uno juga pasti akan membuat gadis itu tidak betah sama dia. Uno itu tidak bisa serius dengan seseorang. Ibu juga bingung, apa suatu saat dia bisa menemukan seseorang yang bisa dia ajak serius?"


Diandra terdiam sejenak. Lalu mereka melanjutkan menanamnya. Uno yang berada di kampus Zia, dan Zia malah mengajak Uno untuk jalan-jalan. "Kak, kita pulang saja, kita bisa mengobrol di rumah."


"Bukan begitu, apa kakak tidak capek habis kuliah? Lagian ini sudah hampir menjelang makan siang, ibu pasti sudah menyiapkan makan siang untuk kita, kasihan kalau mereka cuma makan berdua."


"Kamu tidak tau perasaan kakak Uno. Kakak tadi sedang ada masalah dengan pria yang kakak sukai." Muka Zia sedih.


"Oh, Ya? Kakak kenapa?" Uno langsung terlihat cemas. Zia hanya terdiam. "Ya sudah kita pergi jalan-jalan. Apa kakak mau makan ice cream?" Zia langsung mengangguk bahagia.


Mereka berdua pergi ke sebuah cafe, dan Uno memesan dua buah ice cream. "Sekarang kakak ceritakan ada masalah apa kakak sama pria yang kakak sukai itu?"


"Dia mulai tidak perhatian sama kakak."


"Mungkin dia sedang sibuk atau banyak pekerjaan? Apa dia masih kuliah, setingkat dengan kak Zia?" Zia melihat ke arah Uno. "Apa dia sudah bekerja?" lanjut Uno.


"Dia masih kuliah. Aku yakin dia begitu karena ada cewek lain yang mendekatinya."


"Jangan berprasangka buruk dulu, siapa tau dia memang sibuk karena kuliahnya. Cowok yang dekat dengan kak Zia tidak akan berani berpaling. Kakak pasti lebih baik segalanya dari cewek lain," puji Uno. Seketika wajah Zia merona bahagia.

__ADS_1


"Dasar kamu, bisa sekali menggoda kakak." Zia menempelkan ice cream pada pipi Uno. Seketika Uno mendelik dan membalasnya, mereka berdua malah bercanda.


"Selamat siang, kalian bukannya yang waktu itu di toko aksesoris milikku, Ya?" sapa seseorang.


Zia dan Uno melihat ke arah pria itu. "Aku Dion, pemilik toko itu, apa kalian masih ingat denganku?"


"Iya, aku ingat. Aku Uno dan ini kakakku Zia."


"Oh kalian adik kakak? Maaf tadi aku kira kalian sepasang kekasih saat aku lihat dari kejauhan."


"Bukan. Dia kakakku." Uno mendekat ke arah Zia. "Kak, pria ini boleh juga, dia tampan, mapan, sepertinya baik," bisik Uno pelan.


Zia hanya menanggapinya dengan malas. "Apa boleh aku gabung di sini?"


"Tentu saja," jawab Uno cepat.


Mereka bertiga mulai saling mengobrol, dari obrolan mereka, Uno merasa Dion ini suka dengan kakaknya, tapi Zia hanya biasa saja. Kan Zia cinta banget sama Uno, jadi dia tidak tertarik sama cowok manapun, Zia tipe setia.


Di rumahnya, Binna yang sudah pulang dari sekolahnya tampak lesu. Dia meletakkan tasnya seenaknya dan dia duduk dengan malas di sofa.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Arana.


"Tidak apa-apa, Bu."


"Eh kok sudah pulang? Biasanya agak siang."


"Sebenarnya hari ini kan tidak ada sekolah, aku hanya gladi bersih buat acara prom night nanti malam. Aku malas nanti malam hadir, tapi mau bagaimana lagi, aku mengisi acara dansa tari sama teman aku di sana."


"Oh iya, Ibu lupa. Nanti malam, Ya? Lalu kenapa kamu lesu begitu? Seharusnya kamu kan bahagia. Kamu bisa mengisi acara dengan tarian kamu."


"Aku datang sendirian sama Lila dan cowoknya. Lukas kan tidak masuk sampai sekarang, bahkan keberadaanya tidak jelas," celetuknya.


"Lukas?" Arana melihat ke arah Binna. Muka Binna seketika berubah aneh. "Kamu masih saja memikirkan Lukas?"


2 Bab ya hari ini cuma satunya sabar ya, Kak. Aku akan up novel ini setiap hari jam 10. Insha Allah

__ADS_1


__ADS_2