Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Uno duduk mendekat ke arah Diandra. Dia memegang tangan Diandra dengan Erat. "Kamu kenapa terlihat cemas begitu?


"Uno, sebenarnya aku tau apa yang terjadi antara ayahku dan Tante Mara. Tante Mara tidak mau menjadi mamaku, padahal aku menginginkan sekali Tante Mara menikah dengan ayahku, tapi dari kata-katanya kemarin, sepertinya tante Mara tidak mau menjadi mamaku. Aku tidak tau kenapa? Aku juga tidak mau memaksakan."


"Ya sudah, biarkan saja, mungkin tante Mara sudah punya pilihan lain, dan itu bukan ayah kamu, Sayang." Uno mengusap lembut pipi Diandra.


"Bukan seperti itu, Uno. Aku bisa merasakan selama ini, jika tante Mara itu mencintai ayahku, tapi aku tidak tau, seperti ada sesuatu yang tante Mara tidak ingin katakan. Uno, aku sayang sekali dengan tante Mara."


"Diandra, meskipun tante Mara tidak menjadi mama kamu, kamu dan dia akan bisa selalu dekat, jadi tidak perlu bersedih. Dan nanti jika ayah kamu memilih wanita lain, ya kamu harus bisa menerimanya, bagaimanapun juga ayah kamu juga butuh seseorang yang menemaninya. Apalagi jika nanti kamu menikah."


"Menikah?" Mata Diandra seolah-olah menatap ke arah Uno.


"Kamu kenapa terkejut begitu setiap mendengar kata pernikahan. Aku suatu saat akan menikahi kamu, Sayang."


"Tapi keadaanku--." Diandra tidak melanjutkan kata-katanya, karena lagi-lagi Uno sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Diandra.


Di kamarnya, Mara sedang duduk menatap dirinya di cermin. Dia ternyata berbohong tidak ke kamar mandi, dia mencari tempat buat menangis. Mara teringat akan kenangan masa lalunya yang sangat pahit tentang seseorang.


"Sayang, besok kita akan menikah, dan kamu tau, aku sangat senang sekali." Seorang pria dengan postur tubuh proposional itu mencium bibir seorang wanita cantik yang tak lain adalah Mara.


Mara menikmati juga ciuman dari calon suaminya. Tangannya melingkar pada leher pria itu. "Aku juga sangat senang akhirnya bisa menikah dengan kamu, Brian. Hal ini yang sudah aku tunggu selama ini."


"Setelah menikah, aku akan membawa kamu ke istana kita yang sudah aku persiapkan, kita akan tinggal di sana, hanya berdua. Dan nanti kita akan memiliki banyak sekali anak yang akan meramaikan rumah itu."


"Tentu saja." Sekali lagi mereka saling berciuman.


Tidak lama bayangan itu berlanjut pada suatu hal yang mengerikan, di mana setelah adegan mesra mereka, terlihat suatu kecelakaan mobil yang sangat dahsyat. Posisi mobil yang di dalamnya ada Mara dan calon suaminya terbalik. "Brian!" terdengar suara teriakan Mara.


Mara yang sadar, mencoba keluar dari dalam mobil dan dengan terseok-seok, dia berusaha menyelamatkan calon suaminya yang masih ada di dalam mobil dengan keadaan pingsan.


Di tempat kecelakaan itu sangat sepi, jarang ada mobil atau seseorang yang lewat. Brian waktu itu ingin mengajak Mara ke tempat yang romantis dan indah sebelum mereka besok menikah, tapi takdir tidak ada yang tau, mobil mereka kecelakaan karena Brian terkejut saat ada seekor kijang yang tiba-tiba melintas di depan mobil mereka.

__ADS_1


Mara dengan susah payah bisa mengeluarkan Brian dari dalam mobil itu, dan membawa mereka menjauh dari mobilnya yang hampir meledak. Selang beberapa detik, ada mobil melintas dan melihat kejadian itu. Mereka menolong pasangan kekasih itu serta membawa mereka ke rumah sakit terdekat.


Hari pernikahan yang sudah di susun rapi pun harus mereka undur karena keadaan mereka yang belum baik. Setelah beberapa hari di rawat. Briansudah pulih, dia ingin bertemu dengan Mara yang juga masih di rawat di rumah sakit karena ternyata Mara mengalami luka yang serius, walaupun dia waktu itu yang menyelamatkan Brian. Rasa sakit yang dialami Mara tidak dia rasakan saat melihat calon suaminya dalam keadaan bahaya.


"Brian!" Pria itu berjalan perlahan mendekati Mara yang duduk di atas ranjang rumah sakit. Mereka berdua ini masih sama-sama memakai baju rumah sakit.


Brian memeluk Mara. "Apa keadaan kamu sudah baik, Mara?"


"Iya, aku sudah baik. Setelah aku benaran pulih, kita akan segera melangsungkan rencana pernikahan kita yang tertunda."


Brian melepaskan pelukannya dari Mara. Mara merasakan ada sesuatu pada Brian. "Mara, maaf, mungkin pernikahan kita tidak bisa kita langsungkan," ucapnya lirih.


"Memang untuk saat ini tidak bisa di langsungkan, Sayang. Setelah keadaan kita berdua benar-benar membaik, pernikahan kita akan segera dilangsungkan." Wajah Mara tampak berseri, beda dengan Brian, dia terlihat sedih dan terdiam. "Kamu kenapa?"


"Mara, pernikahan kita tidak akan terjadi, aku memutuskan kita tidak akan menikah.


Bak disambar petir di siang bolong Mara mendengar apa yang dikatakan oleh Brian. Brian kemudian pergi dari kamar rawat Mara.


Tok ... tok ... tok


Kamar tidur Mara di ketuk oleh seseorang dari luar, Mara segera bangkit dan membuka pintunya setelah dia menghapus air matanya.


"Mara, kamu kenapa di dalam kamar? Tadi mama mencari kamu di ruang tengah, tapi kata Diandra kamu ada di kamar mandi, tapi ternyata di sini."


"Aku tadi ke kamar mandi di kamarku, Ma. Ya sudah ayo kita keluar. Diandra dan Uno pasti sudah menungguku." Mara keluar dari kamarnya.


Tangan wanita paruh baya itu memegangi tangan Mara. "Kamu baik-baik saja, kan, Mara?"


"Aku baik-baik saja, Ma. Ayo, Ma!"


Mereka berjalan bersama, saat sampai di ruang tengah, Mara melihat Diandra sedang bersama Uno, dan mereka terlihat sangat akrab, tidak seperti teman umumnya.

__ADS_1


Waduh! Gimana tadi kalau pas Mara melihat mereka ciuman, bisa terkejut setengah pingsan.


"Mereka akrab sekali ya, Ma?" bisik Mara.


"Iya, tapi mama senang dengan anaknya Juna itu, dia tampan, dan sopan. Kalaupun dia sama Diandra ada hubungan juga tidak masalah, mereka, kan, bukan saudara."


"Ehem ... hem! Mara berdehem, membuat Diandra dan Uno agak terkejut. " Maaf, ya, pasti menunggu tante lama."


"Tante Mara, tante baik-baik saja, kan?"


"Baik, Sayang." Mara duduk di samping Diandra.


"Sebentar, nenek ambilkan kue dan susu coklat buat kita, supaya ngobrol kita lebih enak."


Di mall Devon mengajak Binna masuk ke dalam toko baju. "Kak, kita ngapain di sini? Bukannya kado untuk Lila sudah kita belikan? Apa mau membelikan baju juga buat Lila?"


"Kado buat Lila memang sudah kita belikan, dan semoga dia menyukai jam tangan itu."


"Lila pasti suka, dia itu suka semua barang."


"Tinggal kamu yang belum membeli sesuatu, dan aku mau membelikan sesuatu buat kamu."


"Tapi inikan toko baju, bajuku di rumah sudah banyak, Kak."


"Tapi di apartemen kita belum ada baju kamu, dan aku mau mengisi lemari baju kamu yang ada di apartemen."


Binna mukanya mengkerut aneh. "Bajuku di rumah, kan, bisa di pindah ke sana nantinya?"


"Iya, tapi aku mau membelikan baju tidur buat kamu," bisik Devon sambil menggandeng Binna berjalan masuk ke toko.


Baju tidur? Uwoo

__ADS_1


__ADS_2